Waste4Change, Plastic Bank & PREVENT Waste Alliance Ajak Bank Sampah Unit Bekasi Ciptakan Pengelolaan Sampah Plastik Terarah Menggunakan Teknologi Digital

Pada September 2022 lalu, Waste4Change bersama Plastic Bank, Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) Kota Bekasi, dan PREVENT Waste Alliance menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bagi bank sampah unit mengenai program pengelolaan sampah plastik, bertajuk Creating Value In Plastics Through Digital Technology sebagai bagian dari Pilot Project Riset PREVENT Waste Alliance. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan pendataan rantai pasok sampah yang komprehensif dan terukur sekaligus membentuk perilaku pengelolaan sampah plastik yang lebih efektif di area perumahan.

bank sampah unit
Pemilahan sampah

Peran Bank Sampah dalam Pengelolaan Sampah

Kegiatan sosialisasi ini mengikutsertakan 21 Bank Sampah Unit yang ada di wilayah Bekasi. Bank sampah dianggap menjadi lembaga yang efektif menerapkan konsep pengelolaan sampah yang bertanggung jawab sesuai prinsip 3R secara konsisten di tingkat masyarakat. Tidak hanya itu, bank sampah juga dianggap menjadi salah satu Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) yang diyakini mampu membantu mewujudkan Indonesia Bebas dan Bersih Sampah di tahun 2025. 

Diketahui kondisi pengelolaan sampah di Indonesia hingga saat ini masih terus disempurnakan. Data The National Plastic Action Partnership (NPAP) pada 2021 menyebut bahwa ada sekitar 4,8 juta ton sampah plastik tidak terkelola dengan baik tiap tahunnya. 48% dibakar di ruang terbuka, 13% berakhir di tempat sampah ilegal, dan 9%-nya mencemari perairan dan laut. Rendahnya akses terhadap layanan pengelolaan sampah yang memadai menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan.

Untuk itu, diperlukan upaya mencegah sampah plastik mencemari lingkungan dengan meningkatkan rate daur ulang sampah plastik, khususnya sejak dari sumber. Memperbaiki pandangan masyarakat atas pentingnya barang sisa, melibatkan peran mereka untuk mengelola sampah secara mandiri, serta menyediakan fasilitas yang tepat guna menjadi langkah yang bisa diinisiasi untuk menghasilkan perilaku pengelolaan sampah yang bijak. Bank sampah sepertinya solusi efektif manajemen sampah di tengah masyarakat.

Eddy Supangkat selaku Direktur Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) Kota Bekasi, menyampaikan,“Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) Kota Bekasi dapat membantu Pemerintah kota dalam mengurangi sampah yg dibuang ke TPA berkat terselenggaranya BSU (Bank Sampah Unit) yang ada di setiap RW. Sampah yang berkurang bisa mencapai 5% setiap bulannya. Kami juga bekerjasama dengan PREVENT dan Plastic Bank memotivasi BSU dalam peningkatan kapasitas sampah dari wilayahnya. Melalui Aplikasi Plastik Bank, para anggota BSU sangat terbantu dalam penjualan Plastic PET. BSIP terus  mendorong masyarakat agar bertanggung jawab terhadap sampahnya dan melakukan pilah sampah dari rumah (hulu)”

Dikutip dari Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah, bank sampah menjadi tempat pemilahan dan pengumpulan sampah terdekat di lingkungan masyarakat sekaligus berperan sebagai media edukasi, perubahan perilaku, dan menekankan pada circular economy. Gerakan bank sampah diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat mengenai manfaat pengolahan sampah.

Saka Dwi Hanggara selaku Campaign Manager Waste4Change dan Project Manager dari project ini menyampaikan, “Sebagai salah satu Lembaga Pengelolaan Sampah yang paling diandalkan masyarakat, Bank Sampah di Indonesia perlu berkembang mengikuti perubahan zaman. Proses transaksi dari hulu ke hilir perlu tercatat dengan baik sehingga dapat meningkatkan nilai daripada sampah tersebut. Meningkatnya nilai pada sampah juga turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan juga meningkatkan motivasi masyarakat untuk dapat lebih bertanggung jawab terhadap sampahnya. Hal ini juga turut menguntungkan Bank Sampah Induk karena lebih banyak mendapatkan material bernilai. Serta juga menguntungkan pemerintah, karena lebih banyak sampah yang terselamatkan dari bocor ke lingkungan. “

Alasan Penggunaan Teknologi Digital

Penggunaan teknologi digital dalam pengelolaan sampah berguna untuk merekam proses pengelolaan dan data sampah plastik yang terkumpul dari setiap bank sampah. Data ini nantinya akan bisa diakses oleh Bank Sampah Induk sebagai penampung sampah terpilah sekaligus bertugas menyalurkannya ke industri daur ulang. Data jual beli juga akan tercatat di aplikasi Plastic Bank sehingga pelaporannya dapat berjalan secara efektif antar seluruh pihak.

bank sampah unit
Pencatatan data sampah

Tim Pilot Project yang terdiri dari Waste4Change, Plastic Bank, cirplus dan German Institute of Development and Sustainability (IDOS) memaparkan beberapa alasan mengapa program ini dijalankan. Diantaranya adalah karena kurangnya pemilahan sampah oleh rumah tangga, kurangnya data sampah yang terkumpul, hingga sulitnya akses mendapatkan bahan daur ulang menjadi tantangan penting dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Maka dari itu diperlukan rantai nilai persampahan yang jelas dari bank sampah hingga ke produsen daur ulang.

Nicole Bendsen selaku PREVENT Waste Alliance Secretariat, menjelaskan, “Proyek percontohan ini sangat menarik bagi kami karena berfokus mengejar pendekatan dengan pemikiran sistem yang holistik yang mempertimbangkan dan mengintegrasikan pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai untuk mengatasi tantangan kompleks pengelolaan limbah. Sangat menarik untuk menguji coba keuntungan dan kerugian menggunakan teknologi digital sebagai “perekat” untuk menghubungkan pemangku kepentingan yang berbeda.”

Kegiatan sosialisasi program pengelolaan sampah plastik ini sendiri terbagi dalam beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah sosialisasi pengenalan program kepada setiap bank sampah unit yang turut serta. Kedua adalah acara induksi aplikasi, yaitu dengan memperkenalkan dan menjelaskan mengenai aplikasi Plastic Bank secara detail dan cara penggunaannya kepada nasabah bank sampah unit. Dengan begitu, anggota diharapkan dapat mengerti dan mulai mengaplikasikannya ke dalam kegiatan operasional (pengumpulan sampah oleh nasabah).

Rizyan Angga selaku Indonesia Operation Manager Plastic Bank mengungkapkan, “Dari program kolaborasi ini menghasilkan beberapa fitur penting dalam digitalisasi pendataan sampah dari hulu ke hilir yang akan berguna bagi semua pihak. Adapun peran dari menyambungkan antara Waste bank dan TKR ke W4C sampai dari akhir rantai tersebut adalah prosesor recycler memegang peran penting dalam pilot project ini sehingga kita bisa menciptakan suatu solusi digital yang berguna bagi kita kedepannya.

bank sampah unit
Penimbangan sampah

Kegiatan selanjutnya adalah melakukan riset terhadap nasabah bank sampah unit terkait pengelolaan sampah plastik yang dijalankan oleh bank sampah. Serta di akhir program, diadakan kompetisi lomba video antar Bank Sampah Unit sebagai bentuk menumbuhkan semangat dan kreativitas yang dimiliki. Isi dari video haruslah menyajikan edukasi dan kampanye pemilahan sampah dari rumah. Lomba ini diikuti oleh seluruh Bank Sampah Unit yang terlibat sejak awal kegiatan.

Hasil akhir dari kompetisi video Bank Sampah Unit adalah diperoleh 3 pemenang berdasarkan ketentuan penilaian. Mereka adalah Bank Sampah Padat Karya dari RW 026 Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, sebagai juara pertama, Bank Sampah Nasio dari Jatiasih, Kota Bekasi, sebagai juara kedua, serta Bank Sampah Dahsyat 18 sebagai juara ketiga. Waste4Change, BSIP, dan The PREVENT Waste Alliance sangat mengapresiasi semangat dari setiap bank sampah unit atas keikutsertaannya dalam kegiatan ini. 

Program The PREVENT Waste Alliance berjudul Creating Value In Plastics Through Digital Technology ini dijalankan sebagai bagian dari penyediaan solusi inovatif dan berkelanjutan yang berkontribusi pada ekonomi sirkular di suatu negara. Proyek ini diharapkan dapat memberikan output berupa perbaikan dalam sistem manajemen sampah di Indonesia, diantaranya melalui peningkatan pemilahan serta rate daur ulang plastik melalui penggunaan teknologi digital.

Related Post