Jakarta Siap Bangkit dan Perkuat Tata Kelola Persampahan Melalui Kolaborasi dari Hulu ke Hilir

Jakarta, 22 Juni 2021 – Dalam rangka memperingati HUT DKI Jakarta ke-494, PT Wasteforchange Alam Indonesia (Waste4Change) pada Selasa (22/6), melaksanakan Webinar “Jakarta Bangkit, Terus Bergerak Bijak Kelola Sampah!” yang dihadiri oleh Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rita Ningsih, dan Head of Business Development Waste4Change, Banyu Putro. Webinar tersebut menekankan kerjasama dan program pengelolaan sampah yang sudah dilakukan DLH DKI Jakarta sehingga timbulan sampah DKI Jakarta dapat dikendalikan dan pencemaran lingkungan akibat sampah dapat diatasi.

Berdasarkan data dari Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang pada April 2021, jumlah sampah dari DKI Jakarta yang masuk ke TPST Bantargebang mencapai 7.753 ton per hari, dengan sumber penghasil sampah di antaranya rumah tangga, pasar tradisional, pusat perniagaan, fasilitas publik, hingga kawasan peternakan. Dari total jumlah sampah tersebut, sekitar 53 persen merupakan sampah organik.

“Tingginya jumlah sampah yang dihasilkan merupakan dampak dari semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk. Darurat sampah merupakan tanggung jawab kita bersama, pengurangan dan penanganan sampah perlu dilakukan menyeluruh dari hulu ke hilir, sesuai UU No. 18 Tahun 2008 dan Perda No. 3 Tahun 2013 yang diperbarui menjadi Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui DLH juga telah menyusun program kerjasama dan kemitraan untuk mengatasi permasalahan sampah,” ujar Kepala Seksi Pengelolaan Sampah DLH DKI Jakarta, Rita Ningsih.

Pada awal 2021 ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menginisiasi program Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Persampahan, yang melibatkan badan usaha, baik BUMN, BUMD, maupun sektor swasta, asosiasi, komunitas persampahan dan lingkungan, dan juga organisasi lainnya. Program KSBB Persampahan saat ini telah memiliki platform yang dapat diakses untuk kolaborator memberikan bantuan dalam bentuk fasilitas, alat pendukung, hingga edukasi dan pelatihan kepada bank sampah, TPS 3R, dan komunitas masyarakat pengelola sampah. Saat ini, DLH DKI Jakarta pun telah memulai Program Pemilahan dan Pengangkutan Sampah Terjadwal, yaitu program pengangkutan sampah sesuai jenis dan jadwalnya, di 147 RW percontohan.

Dalam situasi pandemi, pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menangani limbah medis dan B3 rumah tangga, dengan menyediakan armada khusus limbah B3, TPS pengumpul limbah medis, dan memusnahkan limbah B3 dengan metode khusus. Sejak pandemi merebak di Indonesia pada April hingga Desember 2020, DLH DKI Jakarta telah mengelola sekitar 1.539 kg limbah medis. Untuk periode Januari hingga Mei 2021, limbah medis rumah tangga di DKI Jakarta telah terkumpul sebanyak 497 kg.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga aktif melakukan edukasi untuk mengubah perilaku masyarakat dalam menangani sampah, dari Kumpul – Angkut – Buang menjadi Kurangi – Pilah – Olah yang merupakan implementasi dari prinsip-prinsip Reduce – Reuse – Recycle (3R). Masyarakat pun didorong menghindari penggunaan kantong belanja plastik sekali pakai sesuai Pergub DKI Jakarta No. 142 Tahun 2019, untuk mengurangi timbulan sampah plastik yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan.

Selain itu, diselenggarakan sosialisasi dan pelatihan memilah sampah, membuat kerajinan dari material daur ulang, pelatihan keterampilan hidroponik. Untuk sampah organik, dilakukan pelatihan pengolahan menggunakan metode Black Soldier Fly (BSF) dan pengomposan.

DLH DKI Jakarta juga melayani penjemputan limbah elektronik dari masyarakat di 5 wilayah kota di DKI Jakarta. Selain itu, untuk memudahkan warga DKI Jakarta, DLH juga menempatkan drop box E-Waste di 27 titik lokasi. Untuk pengelolaan sampah kawasan, DKI Jakarta juga mendorong kolaborasi antara pelaku usaha dengan penyedia jasa pengelolaan sampah yang terdaftar resmi.

Sementara itu, Head of Business Development Waste4Change, Banyu Putro, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pengelolaan sampah di DKI Jakarta. “Sebagai perusahaan pengelola sampah, kami dilibatkan untuk turut mengembangkan inisiatif peningkatan manajemen sampah dari pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan pemangku kepentingan lain di DKI Jakarta. Ini sejalan dengan strategi Waste4Change yang ingin mendorong perubahan ekosistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab (responsible waste management) dengan berlandaskan kolaborasi dan teknologi menuju penerapan circular economy dan untuk mewujudkan Indonesia Bebas Sampah,” kata Banyu.

Dalam pengelolaan sampah perkotaan, diperlukan kerjasama yang kuat antara pemerintah dan swasta untuk menciptakan inovasi pengelolaan sampah. “Waste4Change terbuka untuk berkolaborasi dengan para pelaku usaha untuk membangun dan mengembangkan fasilitas persampahan seperti Rumah Pemulihan Material (RPM), yang berfungsi sebagai lokasi pemilahan, pembersihan dan pengolahan sampah organik, serta untuk memastikan material sampah dalam kondisi baik sebelum masuk ke proses daur ulang oleh mitra. Kami juga terus mendorong pengembangan Bank Sampah dan TPS 3R melalui program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pengelola sampah, didukung oleh tenaga ahli waste management terbaik,” jelas Banyu.

Banyu menambahkan bahwa sepanjang beroperasi, Waste4Change sudah pernah terlibat dalam program community development peningkatan manajemen sampah di kelurahan Kebagusan Jakarta Selatan, juga menjadi independent assessor pengadaan fasilitas ITF Sunter di DKI Jakarta dan banyak program lainnya.

Waste4Change berharap semua pihak bisa terus berpartisipasi aktif mengimplementasi Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada) Provinsi DKI Jakarta untuk mencapai target pengurangan 26% sampah tahun 2022 dengan cara pemilahan sampah dari sumbernya, yang dilanjutkan upaya pengolahan dan daur ulang sampah, baik organik maupun anorganik. Upaya-upaya ini diharapkan mendukung pencapaian target Kebijakan Strategi Nasional (Jakstranas), yaitu 100 persen sampah terkelola dengan baik dan benar pada tahun 2025, yang diukur melalui pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah sebesar 70 persen.

Related Post