Our Impacts

Prilly Latuconsina Ikut AKABIS Xperience Waste4Change, Dorong Edukasi Pemilahan Sampah dari Rumah

Akabis Xperience Waste4Change dengan Prilly Latuconsina

Isu sampah kembali menjadi perhatian publik setelah tumpukan sampah menyerupai “pulau” ditemukan di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara. Tumpukan tersebut diduga terbawa arus sungai dan laut hingga menumpuk di kawasan pesisir. Dalam proses penanganannya, sebanyak 8,8 ton sampah dilaporkan telah terangkut selama 4 hari korve dari area tersebut.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik tidak benar-benar hilang. Sampah dapat berpindah dari rumah ke sungai, dari sungai ke pesisir, lalu kembali menjadi persoalan lingkungan yang berdampak lebih luas. Karena itu, pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada penanganan di hilir. Perubahan perlu dimulai sejak dari sumber, termasuk dari rumah, tempat kerja, sekolah, komunitas, hingga area usaha.

Berangkat dari semangat tersebut, Waste4Change menghadirkan AKABIS Xperience sebagai bagian dari program Akademi Bijak Sampah, yaitu ruang edukasi isu persampahan yang berbasis pengalaman memberikan wawasan baru untuk masyarakat memahami isu sampah secara lebih dekat, praktis, dan bertanggung jawab.

Dalam sesi kegiatan Waste4Change yang diselenggarakan pada 11 Juni 2026, Prilly Latuconsina ikut serta dalam AKABIS Xperience Waste4Change sebagai strategic partner. Melalui kolaborasi ini, Prilly juga mengajak komunitasnya, Generasi Peduli Bumi, untuk mengikuti pembelajaran langsung mengenai persoalan sampah di Indonesia, pentingnya pemilahan dari rumah, serta peran setiap orang dalam mengurangi sampah yang berakhir ke Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA.

Mengapa Pemilahan Sampah dari Rumah Perlu Jadi Kebiasaan?

Banyak orang merasa urusan sampah selesai ketika sampah sudah dibuang dari rumah. Padahal, setelah sampah keluar dari tempat tinggal, ada proses panjang yang menentukan apakah sampah tersebut masih dapat dipulihkan atau justru berakhir menumpuk di TPA.

Sampah yang tercampur akan lebih sulit dipilah dan diolah. Material seperti plastik, kertas, kardus, logam, atau kaca yang sebenarnya masih memiliki nilai pemulihan dapat kehilangan potensinya ketika bercampur dengan sisa makanan, cairan, dan residu lainnya. Sebaliknya, ketika sampah sudah dipilah dari sumber, peluang material untuk diproses kembali menjadi lebih besar.

Pemilahan dari rumah menjadi langkah sederhana, tetapi berdampak penting. Sampah organik dapat diarahkan untuk pengolahan seperti komposting, sementara sampah anorganik bernilai dapat masuk ke proses pemilahan dan pemulihan material. Dengan begitu, beban sampah yang berakhir ke TPA dapat dikurangi secara bertahap.

Melalui AKABIS Xperience, Waste4Change ingin memberikan pemahaman bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab atas sampahnya sendiri. Tanggung jawab ini tidak hanya berarti membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami jenis sampah yang dihasilkan, memilahnya dengan benar, dan memastikan sampah dikelola melalui sistem yang bertanggung jawab.

Prilly, Generasi Peduli Bumi, dan Pembelajaran Langsung tentang Sampah

Kehadiran Prilly Latuconsina dalam AKABIS Xperience menjadi bagian dari kolaborasi strategis untuk memperluas kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah dari sumber. Dalam kegiatan ini, Prilly tidak hanya hadir sebagai figur publik, tetapi ikut membawa komunitas Generasi Peduli Bumi untuk belajar langsung bersama Waste4Change.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat melibatkan komunitas yang memiliki kepedulian dan kemauan untuk berkontribusi lebih nyata. Melalui pengalaman langsung, anggota komunitas dapat melihat bahwa isu sampah bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan perilaku, sistem, infrastruktur, dan pilihan sehari-hari.

Generasi Peduli Bumi menjadi contoh bagaimana komunitas dapat berperan sebagai penggerak awareness. Setelah memahami proses dan tantangan pengelolaan sampah secara langsung, komunitas memiliki peluang lebih besar untuk meneruskan pesan tersebut ke lingkungan terdekatnya, baik di rumah, ruang sosial, sekolah, tempat kerja, maupun kanal digital.

Dengan pendekatan ini, edukasi tidak berhenti sebagai pengetahuan satu arah. Edukasi dapat berkembang menjadi percakapan, kebiasaan baru, dan aksi yang lebih konsisten yang disebarkan lebih masif.

AKABIS Xperience: Belajar Sampah dari Masalah hingga Solusinya

AKABIS Xperience dirancang agar peserta dapat memahami isu sampah secara lebih nyata. Peserta tidak hanya menerima materi edukasi, tetapi juga diajak melihat bagaimana sampah dikumpulkan, dipilah, dan diproses melalui sistem pengelolaan yang lebih bertanggung jawab.

Pengalaman ini penting karena banyak orang belum benar-benar mengetahui kemana sampah mereka berakhir setelah dibuang dari rumah. Dalam kehidupan sehari-hari, sampah seringkali hanya terlihat sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan. Padahal, cara kita memperlakukan sampah sejak awal akan sangat mempengaruhi proses selanjutnya.

Melalui AKABIS Xperience, peserta diajak memahami bahwa sampah yang terpilah dengan baik akan lebih mudah dikelola. Sebaliknya, sampah yang tercampur dapat menyulitkan proses pemilahan, menurunkan nilai material, dan meningkatkan risiko sampah berakhir sebagai residu.

Dari pengalaman ini, peserta dapat melihat bahwa solusi sampah tidak hanya berada di fasilitas pengolahan. Solusi juga dimulai dari keputusan kecil di rumah: mengurangi sampah yang tidak perlu, memilah organik dan anorganik, menjaga material tetap bersih dan kering, serta memilih pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

AKABIS sebagai Platform Edukasi untuk CSR, ESG, dan Community Engagement

Selain menjadi ruang belajar bagi individu dan komunitas, Akademi Bijak Sampah Waste4Change juga dapat menjadi platform edukasi bagi perusahaan yang ingin menjalankan program CSR, ESG, community engagement, atau sustainability campaign berbasis perubahan perilaku.

Melalui pendekatan berbasis pengalaman, perusahaan dapat mengajak karyawan, komunitas dampingan, sekolah, warga, maupun mitra binaan untuk memahami pentingnya mengurangi sampah, memilah dari sumber, dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Pendekatan ini relevan karena perubahan perilaku tidak cukup dibangun hanya melalui imbauan. Masyarakat perlu melihat langsung mengapa pemilahan dari rumah penting, bagaimana sampah yang tercampur menyulitkan proses pengolahan, serta bagaimana sampah yang dipilah dengan benar memiliki peluang lebih besar untuk dipulihkan.

Bagi perusahaan, AKABIS dapat menjadi bagian dari strategi keberlanjutan yang lebih aplikatif. Program ini tidak hanya mendukung edukasi lingkungan, tetapi juga membantu perusahaan membangun keterlibatan publik yang lebih bermakna, terutama bagi organisasi yang ingin menghadirkan program berdampak untuk masyarakat atau komunitas sekitar.

Dengan format yang fleksibel, AKABIS dapat disesuaikan untuk kebutuhan edukasi karyawan, program sekolah, pelibatan komunitas, kampanye pilah sampah, hingga inisiatif pengurangan sampah ke TPA. Hal ini menjadikan AKABIS sebagai platform pembelajaran yang dapat menghubungkan awareness, pengalaman lapangan, dan aksi nyata.

Mengurangi Sampah ke TPA Butuh Peran Semua Pihak

Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah memiliki peran dalam regulasi, infrastruktur, dan sistem pengawasan. Industri memiliki tanggung jawab dalam desain produk, kemasan, serta rantai pasok. Penyedia layanan pengelolaan sampah berperan dalam pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan. Sementara masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumber.

Kasus tumpukan sampah di Muara Angke memperlihatkan bahwa penanganan di hilir memang penting, tetapi pencegahan dari hulu tidak kalah mendesak. Sampah yang tidak terkelola dapat terbawa aliran sungai, masuk ke kawasan pesisir, dan menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas. Pemprov DKI Jakarta juga menyampaikan bahwa pencegahan dilakukan dengan mengaktifkan sekat atau saringan sampah di wilayah hulu agar sampah tidak bergerak sampai ke pesisir.

Karena itu, edukasi seperti AKABIS Xperience menjadi semakin relevan. Melalui pengalaman langsung, peserta dapat memahami bahwa sampah memiliki perjalanan panjang dan setiap keputusan dari sumber akan mempengaruhi akhirnya.

Dari Kesadaran Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Kolaborasi Waste4Change bersama Prilly Latuconsina dan Generasi Peduli Bumi dalam AKABIS Xperience menjadi contoh bagaimana edukasi pengelolaan sampah dapat diperluas melalui kemitraan yang strategis. Figur publik, komunitas, perusahaan, dan masyarakat dapat mengambil peran masing-masing untuk memperkuat pesan yang sama: sampah adalah tanggung jawab bersama.

Melalui AKABIS Xperience, Waste4Change mengajak lebih banyak orang untuk memahami bahwa mengurangi sampah ke TPA tidak harus menunggu perubahan besar. Langkah tersebut dapat dimulai dari rumah, dari kebiasaan memilah, dari memilih sistem pengelolaan yang bertanggung jawab, dan dari kemauan untuk belajar melihat sampah bukan sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab kita terhadap lingkungan.

Sampah tidak selesai ketika dibuang. Sampah baru benar-benar tertangani ketika kita tahu kemana ia pergi, bagaimana ia dikelola, dan dampak apa yang kita pilih untuk tinggalkan.

Posted on •Last Updated on
Bagikan Artikel Ini

Mulai Pengelolaan Sampah
Secara Bertanggung Jawab
Bersama Waste4Change

Hubungi Kami