Our Impacts

Hunian Bernilai dengan KUR: Strategi Properti & Kawasan Berkelanjutan

Menjembatani Akses Pembiayaan dan Mandat Keberlanjutan

Sektor perumahan di Indonesia menghadapi tantangan ganda: memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sekaligus memastikan pembangunan tersebut tidak mengorbankan kualitas lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang. Pemerintah, melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, telah meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan atau yang juga disebut Kredit Program Perumahan (KPP), untuk memfasilitasi akses pembiayaan yang lebih terjangkau bagi para pengembang, khususnya pengembang menengah dan segmen hunian subsidi.

Namun, program ambisius yang bertujuan mendukung Gerakan 3 Juta Rumah yang merupakan penjabaran dari Asta Cita Presiden Prabowo ini, harus bergerak lebih dari sekadar mendirikan bangunan. Sebagaimana ditekankan dalam webinar ini, pembangunan hunian adalah upaya membangun kehidupan yang layak huni, nyaman, dan dengan kualitas lingkungan yang terjaga dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, pengelolaan sampah menjadi isu krusial yang menentukan keberhasilan dan nilai properti sebuah kawasan.

Webinar yang diselenggarakan oleh Waste4Change ini, menghadirkan para pemangku kepentingan utama mulai dari perbankan (BTN), regulator (DLHK Kabupaten Tangerang), asosiasi pengembang (REI Banten), hingga pengembang kawasan terdepan (Sinar Mas Land) untuk membahas bagaimana skema pembiayaan seperti KUR/KPP dapat disinergikan secara strategis untuk mendorong tata kelola kawasan yang berkelanjutan.

Mengapa Sampah Menentukan Nilai Jual Properti

Sektor perumahan diakui sebagai mesin penggerak perekonomian nasional karena sifatnya yang padat modal dan padat karya. Studi menunjukkan bahwa setiap Rp 1 Triliun yang diinjeksi ke sektor ini dapat menambah 3000 tenaga kerja, dengan multiplier effect yang menyentuh sekitar 185 subsektor ekonomi, termasuk toko sembako, laundry, klinik, hingga sekolah.

Program KUR Perumahan menawarkan insentif finansial yang signifikan, dari mulai dukungan sisi suplai maupun permintaan. Dengan pembiayaan yang lebih terjangkau, pengembang dapat menyetok unit rumah, yang sebelumnya menjadi kesulitan bagi pengembang kecil, sehingga mempercepat pembangunan dan penyerapan unit.

Namun, kawasan hunian bersubsidi memiliki tantangan spesifik dari sisi keberlanjutan, salah satunya pengelolaan sampah. Dibandingkan dengan pengembang besar dan menengah, pengembang rumah subsidi ini memiliki tantangan yang jauh lebih besar dalam aspek keberlanjutan, ujar Bapak H. Roni Hadiriyanto Adali selaku Ketua Asosiasi Real Estate Indonesia (REI).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang dan CEO Waste4Change menegaskan bahwa “dimana ada aktivitas manusia, di situ pasti ada sampah.”

Pengelolaan sampah yang buruk seperti membuangnya ke sungai atau membakarnya sembarangan menghasilkan asap dan bau yang secara langsung memengaruhi nilai properti dan menurunkan kepuasan penghuni. Ini merupakan risiko besar yang harus ditangani pengembang sejak awal.

Adapun tantangan di kawasan hunian subsidi bersifat sangat spesifik, seperti:

  1. Retribusi Kebersihan: Sulitnya penarikan retribusi kebersihan (yang tarifnya sangat rendah, antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per bulan), menyebabkan banyak warga tidak mau membayar, yang berujung pada pembuangan sampah liar di pinggir jalan.
  2. Lahan TPS Terlupakan: Seringkali, lokasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) tidak ditentukan atau terlupakan pada tahap perencanaan awal. Jika disiapkan di akhir, TPS hampir selalu ditolak oleh warga karena menimbulkan bau atau masalah estetika.

Oleh karena itu, tata kelola sampah harus diregulasi dan diintegrasikan sejak tahap desain awal kawasan oleh planner dan arsitek.

Sinergi Strategis: Mengintegrasikan KUR dengan Solusi Pengelolaan Sampah

Dana KUR Perumahan dapat dialokasikan secara strategis untuk memastikan ekosistem hunian berkelanjutan. Pak Roni pada kesempatan webinar ini merekomendasikan, agar dana KUR dapat dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang dapat dijalankan melalui dua jalur strategis:

1. Pembiayaan Infrastruktur dan Pemasok Berkelanjutan

Developer yang menerima KUR didorong untuk menggunakan pembiayaan ini untuk memastikan pembangunan infrastruktur persampahan yang memadai di awal proyek. Lebih lanjut, KUR sisi suplai juga dapat dimanfaatkan oleh pedagang bahan bangunan atau supplier spesialis yang menyediakan material atau teknologi pendukung pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

2. Model Ekonomi Sirkular untuk Konsumen

Bank BTN telah memelopori program kampanye “Bayaran Angsuranmu Pakai Sampahmu”. Dalam program ini, satu poin sampah bernilai Rp 1 dan dapat digunakan untuk membayar angsuran KPR. Model ini sangat penting karena:

  • Menciptakan Insentif Finansial: Bank sampah yang dikelola di kawasan dapat memberikan pemasukan bagi warga. Pemasukan ini secara langsung dapat membantu cicilan KPR, menciptakan kesadaran kolektif, dan menyelesaikan masalah sulitnya penarikan retribusi kebersihan.
  • Mendukung MBR: Bagi masyarakat berpenghasilan sangat rendah (MBSR) yang gajinya di bawah UMR dan kesulitan mengakses KPR karena terbentur aturan batas minimal sepertiga kali gaji, potensi pendapatan dari sampah ini dapat menjadi tambahan penghasilan yang diakui bank untuk memenuhi syarat pengajuan KPR.

Belajar dari Praktik Terbaik: Menjadikan Hunian High Value

Menurut perwakilan Sinar Mas Land, Bapak Ignes Kemalawarta, pembangunan kawasan yang sukses hari ini harus memandang nilai tinggi (high value) dan keberlanjutan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan (satu mata uang). Beliau menekankan bahwa pengembang wajib mencapai keseimbangan antara mencari profit, konsen terhadap lingkungan, dan sosial. Hunian ideal dipandang sebagai sebuah ekosistem yang bertumpu pada empat pilar: rumah green, sumber air, waste water, dan waste process. 

Sinas Mas Land bekerja sama dengan Waste4Change untuk menjalankan Responsible Waste Management dan Zero Waste to Landfill–menjaga agar sampah tidak berakhir di TPA/lingkungan. Metode ini mencakup: (1) Pengolahan sampah organik menjadi pakan lalat (Black Soldier Fly), (2) Pemilahan di sumber oleh warga, meskipun hal ini masih memerlukan edukasi masif, serta (3) Pengolahan non-organik secara bertanggung jawab.

Inisiatif TP3R yang dikembangkan bersama Waste4Change telah terbukti menghasilkan pengurangan emisi karbon sebesar 46% dibandingkan dengan model open dumping. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada sistem pengelolaan sampah bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga kontribusi nyata terhadap lingkungan yang dapat diukur.

Kerjasama Sinar Mas Land dengan Waste4Change

Komitmen Bersama: Membangun Masa Depan yang Lebih Hijau

Pembangunan hunian bernilai memerlukan komitmen dan kolaborasi yang sinergis antara penyedia dana, pengembang, pemerintah, dan masyarakat. BTN berharap dapat terus meningkatkan faktor Environment (E) dalam strategi ESG perusahaan, seiring dengan faktor Social (S) dan Governance (G) yang sudah kuat. Sementara itu, regulator di daerah, seperti DLHK Kabupaten Tangerang, berkomitmen untuk berkolaborasi dengan Dinas Tata Ruang Bangunan untuk menciptakan regulasi yang mewajibkan tata kelola sampah terintegrasi sejak awal desain. Begitupun dari REI, akan terus berupaya menyediakan properti yang ramah pembiayaan sekaligus menyelesaikan permasalahan sampah. 

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan tidak hanya berhenti pada diskusi, namun perlu segera dilanjutkan dalam bentuk FGD (Focus Group Discussion) mendalam antara BTN, REI, dan DLHK. Tujuan utamanya adalah merancang ulang dari awal bagaimana pembiayaan KUR, pengembangan hunian, dan tata kelola sampah dapat berjalan beriringan, menghasilkan hunian yang layak huni, sehat, dan berkelanjutan.

Tantangan pengelolaan sampah yang hadir seiring dengan pertumbuhan hunian tidak bisa dibebankan kepada pemerintah atau industri saja. Perubahan hanya bisa terwujud jika kita bergerak bersama: pembiayaan yang mendukung, regulasi yang mengikat, dan teknologi yang bertanggung jawab. Dengan KUR sebagai pondasi pembiayaan, kita dapat memastikan bahwa setiap unit rumah yang dibangun adalah bagian dari ekosistem Ekonomi Sirkular yang kuat, sehat, dan bernilai tinggi di masa depan.

#BijakKelolaSampah #HunianBerkelanjutan #Waste4Change

Materi dan rekaman dapat diakses di: w4c.id/WebinarKURPerumahan2025

Posted on •Last Updated on
Bagikan Artikel Ini

Mulai Pengelolaan Sampah
Secara Bertanggung Jawab
Bersama Waste4Change

Hubungi Kami