#W4CBicaraEPR: Strategi dalam Menjawab Tantangan EPR Menuju Ekomoni Sirkuler

Pada hari Jumat, 22 Agustus 2025, Waste4Change kembali menghadirkan webinar series yang membahas isu-isu penting pengelolaan sampah di Indonesia. Kali ini, topik yang diangkat adalah Extended Producer Responsibility (EPR) sebagai sebuah pendekatan yang mendorong produsen untuk ikut bertanggung jawab atas siklus hidup produknya, termasuk fase pasca konsumsi.
Di tengah persoalan nasional yang kian mendesak–65 juta ton sampah dihasilkan setiap tahun dengan tingkat daur ulang baru sekitar 8%–, EPR menjadi strategi penting untuk mendorong transisi menuju circular economy, di mana material tetap berputar dalam siklus penggunaannya. Namun, sebagaimana ditegaskan para narasumber, EPR bukanlah solusi tunggal. Diperlukan kolaborasi multipihak antara pemerintah, pelaku industri/produsen, pengelola sampah, akademisi, media dan masyarakat agar sistem ini benar-benar berdampak.
Webinar bertajuk Waste4Change Bicara EPR: Strategi dalam Menjawab Tantangan EPR Menuju Circular Economy dipandu oleh Nur Rakhmah Latifah selaku Project Manager Waste4Change, dengan menghadirkan narasumber dari Tetra Pak, Nutrifood, IPRO, dan Waste4Change.
Tetra Pak: Desain Sirkularitas dan Pentingnya Kolaborasi
Fatma Nur Rosana, Sustainability Manager Tetra Pak Indonesia, menyoroti urgensi pengelolaan sampah kemasan. Lebih dari 90% material masih terbuang percuma, sementara hanya 8,6% yang kembali digunakan. “Jika kemasan tidak dikumpulkan dan didaur ulang, maka akan menjadi masalah,” ujarnya.
Sebagai perusahaan global yang hadir di 160 negara, Tetra Pak berkomitmen mendorong kemasan ramah lingkungan: berbahan terbarukan, mudah didaur ulang, dan dirancang untuk mendukung sirkularitas. Rata-rata karton Tetra Pak terbuat dari 70% kertas, 25% plastik, dan 5% aluminium. Melalui proses daur ulang, kertas dapat diolah kembali menjadi pulp, sedangkan poli-aluminium menjadi palet, papan partisi, hingga furnitur.
Selain fokus pada desain produk, Tetra Pak Indonesia bersama Waste4Change sudah hampir 7 tahun aktif mengedukasi masyarakat melalui sekolah, institusi, media sosial, komunitas, dan acara publik. Tetra Pak Indonesia pun turut memperkuat infrastruktur pengumpulan dengan menggandeng LSM, pengelola limbah, dan kelompok masyarakat, serta memberdayakan enam entitas pengelolaan sampah di Jawa dan Bali. Hingga 2024, bersama tiga industri daur ulang (salah satunya Waste4Change), Tetra Pak berhasil mengumpulkan 21 ribu ton Used Beverage Carton (Karton Minuman Bekas). Fatma menegaskan, “Kuncinya ada di kolaborasi multipihak karena daur ulang tidak bisa dijalankan sendiri. Perlu aksi kolektif lintas pihak untuk menjadikan kemasan bermanfaat kembali.”

Nutrifood: Inovasi Kemasan dan Tantangan Geografis
Kenny Liana Sistwanto, Sustainability Development Associate Manager Nutrifood, menyoroti kondisi pengelolaan sampah di Indonesia yang masih jauh dari optimal. Sejak 1979, Nutrifood terus berinovasi untuk menekan dampak lingkungan melalui berbagai program pengurangan limbah.
Beberapa inisiatif yang sudah dilakukan antara lain pengurangan berat kemasan hingga 1 ton pada 2023, eliminasi plastik laminasi, opsi kemasan isi ulang, serta program tukar sachet untuk mendorong pengumpulan pasca konsumsi. Edukasi masyarakat juga digalakkan melalui program Nutricycle bersama bank sampah dan komunitas.
Di sisi lain, Nutrifood menerapkan Food Surplus Management dengan sistem pre-order lunch, prinsip first in first out (FIFO), serta penyaluran surplus makanan ke food bank. Sisa makanan dari kantor, pabrik, dan distribusi diolah melalui in-house bio composter menjadi pakan ternak, maggot BSF, pupuk organik, hingga biodiesel. Dalam pengelolaan distribusi, Nutrifood menggandeng bank sampah dan bisnis daur ulang lewat program tukar sachet serta dropbox sampah kemasan.

Selain itu, Nutrifood berpartisipasi dalam GRASP 2030 (Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan 2030), inisiatif kolaboratif yang diprakarsai oleh IBCSD untuk menurunkan susut pangan melalui perjanjian sukarela dan aksi multipihak. Kenny menekankan bahwa tantangan terbesar adalah di infrastruktur. “Untuk provinsi di luar Jawa dan Bali, pengelolaan sampah masih sulit. Tapi ini juga peluang untuk membangun solusi yang lebih inklusif,” ujarnya.
Waste4Change: Membumikan Prinsip Polluter Pays dalam EPR
Mohamad Bijaksana Junerosano selaku CEO dan Founder Waste4Change, memberikan perspektif kritis. Menurutnya, dogma “sampah adalah uang” justru membahayakan dan tidak sesuai realita. “Kalau sampah itu emas, maka TPA pasti bersih. Faktanya, hanya sekitar 20% sampah yang punya nilai jual. Sisanya justru butuh biaya untuk dikelola.”, jelasnya.
Menurut pendapatnya, EPR diperkirakan hanya dapat menutup sekitar 30% kebutuhan biaya pengelolaan sampah nasional. Karena itu, penerapan Polluter Pays Principle mutlak diperlukan agar konsumen ikut menanggung beban biaya. Ia juga menyoroti pentingnya regulasi untuk industri–baik produsen maupun sektor daur ulang–mengenai Tingkat Komponen Daur Ulang (TKDU) atau kandungan bahan hasil daur ulang dari suatu produk. “Tanpa kewajiban ini, industri akan selalu memilih virgin material yang lebih murah, padahal daur ulang itu high cost,” tegasnya. Ia pun mencontohkan India yang berhasil menciptakan pasar kondusif lewat kebijakan wajib kandungan daur ulang minimal 30%.
IPRO: Merajut Kolaborasi Multi Pihak
Ika Roseliyana, General Secretary Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO), memaparkan peran IPRO sebagai organisasi independen yang memperkuat ekosistem EPR. Kerangka kerja IPRO mencakup tiga aspek utama: operational incentives, sorting & recycling infrastructure, policy advocacy & community development.
Sepanjang 2024, IPRO mencatat keberhasilan memulihkan 6.000 ton kemasan pasca konsumsi melalui insentif dan perluasan mitra. “Kami percaya, hanya dengan kolaborasi multipihak kita bisa mencapai target nasional dan global dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan peserta dari Sulawesi Selatan, Ika menegaskan bahwa IPRO terbuka untuk kolaborasi di luar Pulau Jawa. Tantangan utamanya ada pada offtaker dan infrastruktur, namun peluang kemitraan tetap terbuka melalui model collection point yang terhubung dengan mitra di pulau lain.
Perspektif EPR dan Pentingnya Pemilahan di Sumber
Diskusi interaktif mengangkat berbagai isu menarik, salah satunya persepsi bahwa EPR menambah beban biaya produsen. Menanggapi hal ini, Fatma menekankan bahwa biaya EPR adalah bagian dari tanggung jawab, bukan beban tambahan. Kenny menambahkan, “Dalam jangka pendek terlihat sebagai cost, tapi dalam jangka panjang ini adalah investasi untuk masa depan.”
Isu lain adalah strategi pengumpulan sampah rumah tangga. Fatma menyarankan agar bank sampah, TPS 3R, dan sektor informal terhubung dengan platform PRO seperti IPRO agar sistem lebih terintegrasi. Terkait strategi pemilahan, Ridho Malik Ibrahim, COO Waste4Change menjelaskan bahwa alur pengumpulan dapat dilakukan melalui jalur recycler maupun langsung dari konsumen ke produsen dengan sistem take back. Menurutnya, sebenarnya sudah banyak masyarakat yang melakukan pemilahan sampah, namun keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala utama. Untuk mengatasinya, masyarakat dapat memanfaatkan fitur #SendYourWaste dari Waste4Change, yang kemudian akan dikelola bersama mitra-mitra daur ulang. Dengan cara ini, semangat memilah sampah dari rumah dapat terus ditumbuhkan.
Penutup
Dari sejumlah paparan dan diskusi, disimpulkan bahwa EPR hanyalah salah satu solusi, bukan solusi utama dalam pengelolaan sampah Indonesia. EPR bukan hanya tanggung jawab produsen namun kerjasama kolaborasi multipihak seperti masyarakat selaku konsumen, Producer Responsibility Organization (PRO), Waste Management Company, Recycling Business dan tentunya pemerintah.
Waste4Change sendiri telah lebih dari 10 tahun menjadi mitra strategis berbagai produsen, lembaga, dan komunitas dalam pengelolaan sampah. Melalui pendekatan holistik dari edukasi, pengumpulan, hingga daur ulang, Waste4Change membuka ruang bagi produsen untuk memenuhi kewajiban EPR secara efektif sekaligus membangun citra keberlanjutan.
Waste4Change membuka ruang kolaborasi dengan para produsen dalam mewujudkan EPR yang efektif dan berdampak. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi contact@waste4change.com
________________________
Bagi Anda yang ingin menyimak kembali rekaman webinar dan memperoleh akses materi, silakan klik tautan berikut:
- Materi Webinar: w4c.id/Materi-W4CBicaraEPR-1
- Rekaman Webinar via Youtube: w4c.id/Rekaman-W4CBicaraEPR-1
Oleh: Hanifah Nurawaliah (Kontributor Blog Waste4Change)
