Dari Pengumpulan Sampah ke Edukasi Lingkungan: Nestlé Waste Dropbox Ajak Siswa Belajar Mengelola Sampah Organik

Kebiasaan mengelola sampah dapat tumbuh dari pemahaman tentang apa yang kita buang setiap hari. Bagi anak-anak, mengenali sisa makanan dan belajar memilahnya menjadi langkah awal untuk memahami hubungan antara kebiasaan sehari-hari dan lingkungan.
Semangat ini dihadirkan Waste4Change bersama Nestlé Indonesia melalui Workshop Akademi Bijak Sampah (AKABIS) bertema Eco-Enzyme pada 6 Oktober 2026 di SDN Ragunan 12, Jakarta Selatan. Sebanyak 30 siswa mengikuti kegiatan yang memadukan edukasi pengelolaan sampah organik dengan praktik langsung.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak melihat bahwa tanggung jawab terhadap sampah dimulai sejak sebelum sesuatu dibuang, termasuk saat mengambil makanan dan menentukan cara menangani sisanya.
Memperluas Dampak Nestlé Waste Dropbox Melalui Edukasi Lingkungan

Nestlé Waste Dropbox merupakan inisiatif yang mendukung pengelolaan sampah secara bertanggung jawab. Kehadiran fasilitas pengumpulan sampah perlu disertai pemahaman masyarakat agar partisipasi dapat tumbuh dan menjadi kebiasaan.
Workshop AKABIS melengkapi upaya tersebut melalui edukasi lingkungan bagi siswa sekolah. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mengenali sampah organik, memahami pentingnya pengurangan sampah, serta mencoba salah satu cara pemanfaatannya.
Pendekatan praktis membantu menghubungkan materi dengan keseharian siswa. Sisa buah yang mereka temui di rumah, misalnya, menjadi bahan pembelajaran untuk memahami bahwa setiap jenis sampah membutuhkan penanganan yang sesuai.
Memahami Sampah Organik, Menemukan Peluang Pemanfaatannya

Sebelum memulai praktik, siswa diperkenalkan pada konsep food loss dan food waste, termasuk penyebab serta dampaknya terhadap lingkungan. Pembahasan ini mengajak peserta memahami bagaimana makanan dapat terbuang dan mengapa hal tersebut perlu dicegah.
Pesan utamanya adalah mengutamakan pencegahan: makanan yang masih layak konsumsi sebaiknya tidak berakhir sebagai sampah. Mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan porsi yang sudah diambil menjadi contoh kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan siswa.
Untuk sisa organik yang tidak dapat dihindari, peserta dikenalkan pada peluang pemanfaatan sisa buah dan sayuran sebagai bahan eco-enzyme. Dengan begitu, siswa belajar membedakan upaya mencegah sampah dan mengolah sisa yang sudah dihasilkan.
Dari Teori ke Praktik: Mengolah Sisa Buah Menjadi Eco-Enzyme
Setelah memahami materinya, siswa mempelajari bahan, peralatan, dan tahapan pembuatan eco-enzyme. Mereka kemudian mengikuti praktik menggunakan sisa buah dan bahan pendukung lainnya.
Praktik langsung memberi ruang bagi siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Sesi interaktif juga membuka kesempatan untuk bertanya dan mendiskusikan proses pembuatan serta pemanfaatan eco-enzyme.
Sebagai pendamping pembelajaran setelah workshop, peserta memperoleh Eco-Enzyme Care Card. Kartu ini menjadi panduan untuk mengamati proses fermentasi selama tujuh hari pertama. Periode pengamatan tersebut merupakan tahap awal pemantauan, bukan penanda bahwa eco-enzyme sudah selesai difermentasi atau siap digunakan.
30 Siswa Belajar, 4,5 Kg Sampah Organik Dimanfaatkan
Kegiatan ini mencatat capaian pembelajaran dan pemanfaatan sampah organik sebagai berikut:

Perbandingan hasil tes menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan setelah sesi edukasi. Sementara itu, sebanyak 4,5 kg sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan praktik pembuatan eco-enzyme.
Capaian ini menjadi hasil awal yang positif. Penerapan pengetahuan secara berkelanjutan tetap membutuhkan pembiasaan dan pendampingan di rumah maupun sekolah.
Langkah Kecil untuk Masa Depan yang Lebih Bertanggung Jawab

Pembelajaran selama workshop diharapkan berlanjut melalui kebiasaan sederhana: mengurangi sisa makanan, memilah sampah, dan memanfaatkan sisa organik yang sesuai. Dukungan guru dan keluarga dapat membantu siswa menerapkan pengetahuan tersebut dalam keseharian.
