True of False? Debunking Myths about Waste

Benar atau Salah? Membantah Mitos tentang Sampah

Hampir semua orang tentunya tidak asing dengan istilah mitos, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia V didefinisikan sebagai cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut, serta mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Definisi mitos yang berkembang di masyarakat tetapi tidak serta merta terbatas pada cerita tentang dewa dan pahlawan, melainkan juga menyangkut hal-hal yang ada dalam keseharian hidup, mulai dari relasi sosial kita dengan manusia lain, cara kita melakukan sesuatu, bahkan soal pengelolaan sampah.

Mitos-mitos yang ada dan bertahan di masyarakat ini (sekalipun tidak rasional dan diragukan kebenarannya), seringkali melanggengkan praktik-praktik yang merugikan, terutamanya untuk lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mengklarifikasi dan membantah mitos-mitos yang keberadaannya hanya menambah sederet masalah lingkungan yang sudah cukup banyak.

Adapun mitos-mitos yang merugikan seputar sampah antara lain:

1. Mitos: Popok Dibuang ke Sungai agar Bayi Tidak Rewel

Fakta: Sampah Popok merupakan Salah Satu Jenis Sampah yang Sulit Didaur Ulang dan Berpotensi Mencemari Perairan   

Di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, seperti misalnya di Surabaya, ada mitos suleten, yaitu kepercayaan lokal bahwa semua pakaian yang dipakai bayi akan menyatu dengan jiwanya, termasuk popok.

Oleh karena itu, jika sampah popok dibuang dengan cara dibakar, jiwa si bayi dipercaya akan ikut merasakan panas dari popok yang dibakar dan sebagai akibatnya akan lebih sering menangis (cengeng). Lantas cara menangkal mitos ini adalah dengan membuang popok bekas ke perairan (biasanya sungai). Dengan membuang sampah popok ke badan air, maka pantat bayi dipercaya dapat tetap “dingin”.

Mitos suleten ini bahkan membuat warga segan dan takut untuk membuang sampah popok ke TPA, karena mereka khawatir bahwa sampah tersebut pada akhirnya akan dikelola dengan cara dibakar.

Ribuan popok dan sampah lain dibuang dipinggiran sungai di Sleman, Jogja. Foto: Tommy Apriando/ Mongabay Indonesia Ribuan popok dan sampah lain dibuang dipinggiran sungai di Sleman, Jogja. Foto: Tommy Apriando/ Mongabay Indonesia

Sampah Popok yang Mencemari Perairan secara Masif

Faktanya, sampah popok menimbulkan dampak negatif yang tidak main-main. Hasil riset Bank Dunia di tahun 2017 mengungkapkan bahwa sampah popok menjadi sampah kedua terbanyak yang berada di laut, yaitu sebanyak 21%, sedangkan urutan pertama ditempati oleh sampah organik (44%).

Di Indonesia sendiri, mitos sutelen memperburuk permasalahan sampah popok di sungai-sungai di pulau Jawa. Prigi Arisandi selaku Direktur Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menjelaskan bahwa sampah popok ditemukan di sungai besar seperti Kali Brantas, Bengawan Solo, Citarum, dan Progo.

Sampah popok yang berhasil dikumpul oleh Tim Ecoton di Sungai Karang Pilang, Surabaya. Sumber: Themmy Doaly/Mongabay Sampah popok yang berhasil dikumpul oleh Tim Ecoton di Sungai Karang Pilang, Surabaya. Sumber: Themmy Doaly/Mongabay

Di daerah aliran sungai (DAS) Brantas misalnya, survei dari Ecoton pada Juli tahun lalu memperkirakan sebanyak 3 juta sampah popok dibuang warga ke kali setiap harinya. Hal ini tidak mengejutkan mengingat ada sekitar 750,000 bayi yang tinggal di DAS Brantas (Data Badan Pusat Statistik tahun 2013) yang setiap harinya butuh mengganti popok sebanyak 4 sampai 9 kali.

Adapun Brigade Evakuasi Popok (BEP) yang dibentuk Ecoton untuk menanggulangi sampah popok di Sungai Brantas berhasil mengumpulkan 300 kilogram sampah popok hanya dalam waktu dua jam di salah satu jembatan di Sungai Brantas. Hal ini karena jembatan menjadi “tempat favorit” orang-orang untuk membuang sampah popok ke sungai.

Ecoton juga pernah memulung sampah di kali Surabaya pada Juli 2019, dan sebanyak 60% sampah yang ditemukan adalah popok. Total popok yang berhasil diangkut dari perangkap sampah yang diletakkan di sungai ada sebanyak 380 lembar popok bekas dari berbagai merk, didominasi merk mamypokosweetyhappy nappymerries dan baby happy. 

Beragam Jenis Sampah Popok Sekali Pakai Pencemar Sungai Hasil Temuan Ecoton. Sumber: Ecoton

Bahaya Sampah Popok

Sampah popok sekali pakai merupakan sampah residu yang sulit didaur ulang. Salah satunya karena popok mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42% yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air. Apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan, di antaranya menyebabkan perubahan hormon pada ikan

Di Kali Brantas misalnya, sejak tahun 2011-2013, 80%-85% dari total populasi ikan merupakan betina, padahal seharusnya jumlah betina dan jantan seimbang. Berdasarkan kajian dari tim Universitas Brawijaya dan University of Le Havre Perancis pada 2013, sebanyak 20% ikan di hilir Sungai Brantas mengalami interseks (dua kelamin dalam satu tubuh).

Sampah popok ini juga kian berbahaya karena membawa patogen tinja yang berpotensi mencemari ekosistem perairan, sumber air, dan bahkan masuk ke rantai makanan.

2. Mitos: Kulit Buah tidak apa-apa Dibuang di Alam karena akan Terurai dengan Sendirinya

Fakta: Sampah Organik seperti Kulit Buah Memakan Waktu yang Tidak Sebentar untuk Terurai

Colin Czerwinski/ Unsplash Colin Czerwinski/ Unsplash

Saat sedang berekreasi di luar ruangan seperti piknik, berkemah, atau bahkan mendaki gunung, buah-buahan seperti apel dan pisang memang menjadi salah satu perbekalan yang praktis, sehat, dan minim sampah.

Bahkan, tidak sedikit orang yang membuang (atau berpikir untuk membuang) sampah organik seperti kulit buah secara begitu saja di alam dan bukan di tempat sampah. Toh, tidak seperti plastik dan styrofoam, sisa buah merupakan sampah organik yang akan terurai dengan sendirinya, bukan?

Sayangnya, hal itu tidak sepenuhnya benar. Sampah organik seperti kulit jeruk dan pisang memang akan terurai, tetapi prosesnya membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Hal yang serupa juga berlaku untuk bagian tengah dari buah apel yang tidak kita makan, yang proses dekomposisinya membutuhkan waktu 8 minggu. Pun proses dekomposisi ini masih dipengaruhi oleh berbagai faktor geografis, seperti misalnya curah hujan, cuaca, serta ketinggian tempat.

Kulit jeruk memakan waktu sekitar 2 tahun untuk bisa terurai. Sumber: Ana Tofan/Unsplash Kulit jeruk memakan waktu sekitar 2 tahun untuk bisa terurai. Sumber: Ana Tofan/Unsplash

Selain itu, proses dekomposisi sampah organik seperti kulit buah tidak selalu dibantu oleh makhluk hidup seperti serangga atau tupai. Selain karena buah-buahan tersebut tidak termasuk ke dalam diet mereka, buah seperti jeruk mengandung bahan insektisida alami yang membuatnya justru dijauhi serangga.

Lagipula, jika pengunjung lain melihat ada sampah kulit buah yang dibuang begitu saja, besar kemungkinannya bahwa mereka akan ikut melakukannya dan berpikir bahwa tidak ada yang salah dari perilaku tersebut. Jika dibiarkan, maka tempat-tempat wisata outdoor seperti puncak gunung atau hutan akan tercemar dengan sampah organik yang tidak hanya mengganggu pemandangan tetapi juga bisa merugikan lingkungan sekitarnya.

Lantas Apa yang Harus Kita Lakukan terhadap Sampah Kulit Buah?

Jawabannya sederhana: membuang sampah tersebut sesuai dengan kategorinya, yaitu ke tempat sampah organik. Bahkan akan lebih baik lagi apabila kita membawa sampah organik tersebut pulang ke rumah untuk kemudian dibuat menjadi kompos (jika memang sudah menjalankan, atau berencana untuk, mengompos).

Prinsipnya jelas, apapun yang kita bawa ke suatu tempat, terutama yang berpotensi menghasilkan sampah, harus kita bawa kembali bersama kita. Jaga tempat-tempat wisata alam kita dengan tidak meninggalkan apapun selain jejak kaki.

3. Mitos: Membuang Sampah pada Tempatnya Sudah Cukup

Fakta: Selain Membuang Sampah pada Tempatnya, Memilah Sampah sesuai Kategorinya juga tidak Kalah Penting 

Berdasarkan riset yang dilakukan Sustainable Waste Indonesia pada tahun 2019, total sampah Indonesia yang didaur ulang hanya sekitar 3%, sedangkan sisanya berakhir di TPA. Salah satu alasan mengapa tingkat daur ulang sampah di Indonesia sangat rendah ialah karena sampah yang ada masih tercampur, terutama antara sampah organik dan sampah non-organik.

Contoh sampah yang menumpuk dan tidak terpilah.Sumber: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia Contoh sampah yang menumpuk dan tidak terpilah.Sumber: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Faktanya, mayoritas masyarakat Indonesia masih belum melakukan pemilahan sampah. Berdasarkan survei yang dilakukan Katadata Insight Center di 5 kota besar, kurang dari separuh masyarakat yang sudah memilah sampah di rumahnya, yaitu sebanyak 49,2%. Dari angka tersebut, sebanyak 77,6% membagi sampahnya hanya ke dalam 2 kategori, yaitu sampah basah dan kering.

Dengan menimbang data-data tersebut, serta mengingat kondisi persampahan di Indonesia yang semakin memprihatikan, membuang sampah pada tempatnya tidak lagi cukup. Jika visi Indonesia Bebas Sampah 2025 benar ingin diwujudkan, maka masyarakat Indonesia perlu lebih militan dalam mengurangi, memilah, serta mengelola sampahnya.

Padahal, memilah sampah itu proses yang relatif sederhana. Dengan mempelajari sedikit demi sedikit mengenai jenis-jenis sampah serta menyediakan tempat sampah terpilah, tidak butuh waktu lama untuk membiasakan diri dan anggota keluarga kita untuk mengadopsi kebiasaan memilah sampah di rumah.

Dengan begitu, kamu sudah membantu meningkatkan tingkat daur ulang sampah di Indonesia dan mengurangi jumlah timbulan sampah yang menjadi residu dan berakhir di TPA.

Pastikan Sampahmu Didaur Ulang Secara Bertanggung Jawab

Salah satu tantangan terbesar dari menerapkan praktik pemilahan sampah di Indonesia disebabkan adanya sistem pengangkutan sampah yang mencampur kembali sampah yang sudah kita pilah.

Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa sampah yang sudah kamu pilah akan didaur ulang sesuai kategorinya secara bertanggung jawab. Kamu bisa menyerahkan sampah anorganikmu ke Waste4Change untuk memastikan bahwa sampah-sampah tersebut didaur ulang secara optimal dan tidak berakhir di TPA. Penyetoran sampah dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan mengirimkannya ke kantor Waste4Change, atau menyetor sampah tersebut ke dropbox Waste4Change terdekat.

Mari Melawan Mitos Menyesatkan demi Indonesia yang Bebas Sampah 

Tidak semua mitos patut kita ikuti dan lestarikan, terutama mitos-mitos yang cenderung menyesatkan dan malah merugikan lingkungan. Mari membuka mata dan pikiran kita terhadap kondisi persampahan yang nyata dan faktual, dan mulailah menjadi bagian dari solusi dengan memerangi mitos, mulai memilah sampah, serta memastikan bahwa sampah yang sudah terpilah akan didaur ulang secara bertanggung jawab.

Reference:

Fruit Peels Do not Biodegrade Like You Think

https://www.vice.com/id_id/article/7x55ky/mitos-suleten-soal-popok-memicu-pencemaran-parah-di-sungai-brantas-dan-laut-indonesia

https://katadata.co.id/analisisdata/2019/11/26/kelola-sampah-mulai-dari-rumah

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180425101643-282-293362/riset-24-persen-sampah-di-indonesia-masih-tak-terkelola

https://www.popularmechanics.com/science/environment/a29022600/banana-peels-decomposition-process/

https://www.deschuteslandtrust.org/news/blog/2019-blog-posts/decomposition-organic-litter

https://www.theguardian.com/environment/2009/sep/24/bananas-litter-hikers-mountains-scotland

https://tirto.id/bahaya-sampah-popok-sekali-pakai-untuk-lingkungan-dan-kesehatan-cQoQ

Suarakan Bahaya Sampah Popok Sungai Brantas ke Kementerian sampai Istana Presiden

1 2