{"id":12982,"date":"2020-04-06T06:53:00","date_gmt":"2020-04-06T06:53:00","guid":{"rendered":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/?p=12982"},"modified":"2022-08-28T03:11:11","modified_gmt":"2022-08-28T03:11:11","slug":"composting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/","title":{"rendered":"Mengompos di Rumah: Solusi Sampah Organik Anda"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa itu composting atau pengomposan? Composting adalah proses alami mendaur ulang bahan organik, seperti daun dan sisa makanan, menjadi pupuk berharga yang dapat menyuburkan tanah dan tanaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan data dari KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), sampah yang tertimbun di TPA 60% nya adalah sampah organik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Indonesia, tiap orang dapat menghasilkan 1,3 juta ton limbah makanan per tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan data yang dilansir dari ayobandung.com, 50% dari limbah adalah sisa makanan, Economic Intelligence Unit (EIU) pada tahun 2016 juga melaporkan, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan sampah makanan terbanyak di dunia setelah Arab Saudi.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-11104\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/iStock-580x390.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11104 lazyload\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 580px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 580\/390;\" \/><figcaption>Contoh sampah sisa makanan yang seharusnya bisa dijadikan kompos. Kredit foto: iStock<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tumpukan sampah organik di TPA dapat menghasilkan gas metana yang akan menyebabkan gas efek rumah kaca serta memiliki kemungkinan akan meledak jika terkena percikan api.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan, riset dari <a href=\"https:\/\/blogs.princeton.edu\/research\/2014\/03\/26\/a-more-potent-greenhouse-gas-than-co2-methane-emissions-will-leap-as-earth-warms-nature\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Princeton University,<\/a> menyebutkan gas metana (CH4) memiliki <a href=\"https:\/\/blogs.princeton.edu\/research\/2014\/03\/26\/a-more-potent-greenhouse-gas-than-co2-methane-emissions-will-leap-as-earth-warms-nature\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahaya 30 kali lipat lebih tinggi<\/a> sebagai penyebab pemanasan global dibanding dengan gas karbon dioksida (CO2). Lalu apa solusinya?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Solusi Pengurangan Sampah Organik<\/strong><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-10072\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/hero-300x150.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10072 lazyload\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 300px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 300\/150;\" \/><figcaption>Mengelola sampah orgaik dengan mengompos. Sumber: https:\/\/www.yogajournal.com\/lifestyle\/back-to-earth<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Upaya dalam mengurangi sampah organik&nbsp; yang masuk ke TPA dapat dimulai dari diri sendiri, beberapa upaya tersebut di antaranya dengan berbelanja kebutuhan makanan secukupnya, hal ini bisa dibantu dengan membuat daftar belanja bahan apa saja yang akan dibeli.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, sampah makanan juga bisa dikurangi dengan beternak <i>black soldier fly <\/i>(BSF) yang dapat mengubah sampah makanan menjadi pupuk yang bernilai jual tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, sampah organik yang sampai ke TPA juga dapat diturunkan angkanya dengan memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah dan mengompos sampah organik untuk dijadikan pupuk. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kompos adalah hasil penguraian segala sisa organik yang kita hasilkan. Ketika diuraikan dengan baik, kompos akan berfungsi menyuburkan tanah.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-10102\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"300\" src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost-1561137922-300x300.jpg\" alt=\"Examples of waste that can be turn into compost. Source: goodhousekeeping.com\" class=\"wp-image-10102\" srcset=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost-1561137922-300x300.jpg 300w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost-1561137922-150x150.jpg 150w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost-1561137922-55x55.jpg 55w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost-1561137922-250x250.jpg 250w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost-1561137922-580x580.jpg 580w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost-1561137922.jpg 500w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption>Contoh sampah dan material yang bisa dijadikan kompos. Sumber: goodhousekeeping.com<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Proses pengomposan dikerjakan oleh berbagai macam organisme, dimulai dari berbagai jenis bakteri, jamur, actinomycetes dan lain-lain. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Namun selain berbagai mikroba tersebut ternyata bahwa proses tersebut juga turut melibatkan hewan makro seperti cacing tanah dan berbagai hewan makro lainnya yang bekerja sama dengan mikroba dalam proses penguraian.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp;Sebelum memulai proses mengompos, ada beberapa hal yang harus diketahui agar proses dan hasil mengompos menjadi lebih baik dan efisien.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bahan dan Jenis Komposter<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada empat komponen yang dibutuhkan, diantaranya: <\/span>Karbon (sampah coklat), Nitrogen (sampah hijau), Air, dan Oksigen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampah coklat dengan sampah hijau memerlukan perbandingan 3:1 untuk menghasilkan kompos yang bagus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika sampah coklat dipisahkan dengan sampah hijau, maka proses pengomposan akan jauh lebih lama karena jenis sampah yang cenderung kering dan mikroba yang dihasilkan sangat sedikit dan tidak efektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampah organik sering disebut dengan sampah basah, namun nyatanya tidak semua sampah yang basah dapat dijadikan bahan untuk mengompos. Berikut bahan-bahan yang harus diketahui apa saja yang dapat dijadikan kompos dan yang tidak bisa dijadikan kompos.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-10095\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"159\" data-src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/Jenis-jenis-sampah-300x159.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-10095 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/\/Jenis-jenis-sampah-300x159.png 300w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/\/Jenis-jenis-sampah-580x308.png 580w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/\/Jenis-jenis-sampah.png 667w\" data-sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 300px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 300\/159;\" \/><figcaption>Jenis-jenis sampah untuk keperluan membuat kompos<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bahan-bahan yang tidak boleh dimasukan ke komposter seperti <\/span>daging, lemak, susu, dan keju dapat menghalangi &nbsp;<span style=\"font-weight: 400;\">reaksi penguraian di dalam komposter. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, bahan-bahan ini akan menarik hewan-hewan seperti lalat yang akan menyebabkan munculnya belatung pada proses pengomposan. untuk bahan-bahan organik basah ini bisa dimasukkan ke dalam biopori. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun kotoran anjing dan kucing disinyalir dapat membawa penyakit dan mencemari kompos.<\/span><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-10100\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"198\" height=\"300\" data-src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/650-4-1-198x300.jpg\" alt=\"Green Waste and Brown Waste. Source: swachhindia.ndtv.com\" class=\"wp-image-10100 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/650-4-1-198x300.jpg 198w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/650-4-1-580x877.jpg 580w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/650-4-1.jpg 331w\" data-sizes=\"(max-width: 198px) 100vw, 198px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 198px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 198\/300;\" \/><figcaption>Sampah hijau dan sampah cokela. Sumber: swachhindia.ndtv.com<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah mengetahui jenis-jenis sampah yang bisa dikompos, mulailah membuat komposmu sendiri dengan cara menyusun sampah cokelat dan sampah hijau secara selang-seling layaknya membuat roti lapis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya taruh terlebih dahulu lapisan sampah cokelat, kemudian letakkan sampah hijau di atasnya, kemudian tumpuk kembali dengan sampah cokelat, dan begitu seterusnya hingga wadah kompos penuh.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-16167\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"375\" height=\"500\" data-src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost_recipe.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-16167 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost_recipe.jpg 375w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/compost_recipe-225x300.jpg 225w\" data-sizes=\"(max-width: 375px) 100vw, 375px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 375px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 375\/500;\" \/><figcaption>Sampah cokelat dan sampah hijau yang ditumpuk secar bergantian untuk menghasilkan kompos. Sumber: crowwingswcd.org<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun solusi penanganan pengolahan sampah yang tidak bisa dijadikan kompos juga bisa dilakukan dari diri sendiri, dimulai dari hal sederhana seperti menghabiskan makanan sampai tidak ada sisa. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk tulang belulang bisa dijadikan untuk makanan hewan, seperti kucing, anjing, lele, dan lain-lain, atau jika tidak ada hewan-hewan tersebut di sekitar rumah, tulang-belulang atau sampah organik lainnya bisa dikubur di dalam tanah.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara lain yang dapat membantu mengurangi sampah organik yang tidak dapat masuk ke komposter adalah dengan bantuan larva BSF. Biasanya, BSF dan maggot akan mengolah sampah organik berupa daging-dagingan menjadi pupuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp;Setelah mengenal jenis-jenis sampah organik serta apa saja yang bisa dan tidak bisa masuk ke komposter, ada juga syarat atau anjuran yang harus diketahui dan dilakukan selama proses pengomposan.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Anjuran yang Dapat dilakukan Saat Mengompos<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mempercepat proses penguraian, dapat dibantu dengan mencacah terlebih dahulu bahan-bahan yang akan digunakan untuk mengompos, menambahkan air dan memastikan terciptanya aerasi (oksigen) yang sesuai dengan cara membalik \u2013 balik campuran bahan tersebut. <\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cacing dan jamur lebih lanjut akan menghancurkan bahan-bahan tersebut.&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada proses pengomposan tidak dianjurkan untuk memberi air terlalu banyak, karena air akan memenuhi seluruh ruang sehingga kemungkinan terjadi anaerob sangat besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika demikian, maka kompos akan menghasilkan bau yang tidak sedap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa faktor lainnya yang juga dapat mempengaruhi proses pengomposan selain ke-empat hal di atas antara lain:&nbsp;<\/span><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li style=\"font-weight: 400;\"><b>Ukuran bahan:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Bahan dengan ukuran yang semakin kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin luas tersentuh bakteri pengurai.&nbsp;<\/span><\/li><li style=\"font-weight: 400;\"><b>Komposisi bahan:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Pengomposan bahan organik berupa tanaman akan lebih cepat jika ditambahkan kotoran hewan ternak (ayam, kambing, itik, dll).&nbsp;<\/span><\/li><li style=\"font-weight: 400;\"><b>Organisme yang berperan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Penambahan mikroorganisme lain dipercaya akan mempercepat proses pengomposan, dalam hal ini bakteri, fungi dan actinomycetes.<\/span><\/li><li style=\"font-weight: 400;\"><b>Temperatur:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> temperatur optimal 30-50<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00b0C<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&nbsp; (hangat).&nbsp;<\/span><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam proses pengomposan, <\/span>kompos dikatakan sudah jadi apabila warna menjadi kehitaman dan tidak ada bau sampah, prosesnya memakan waktu sekitar 4-6 minggu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kompos yang baik tidak mengeluarkan aroma yang menyengat, tetapi mengeluarkan aroma lemah seperti bau tanah atau bau humus hutan dan jika dipegang dan dikepal, kompos akan menggumpal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila ditekan dengan lunak, gumpalan kompos akan hancur dengan mudah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Masalah dan Cara Penanganan Saat Mengompos<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengompos dapat dikatakan \u201cgampang-gampang susah\u201d, dalam proses pengomposan akan ada kemungkinan masalah terjadi. Berikut beberapa masalah atau kendala umum yang sering terjadi saat membuat kompos dan cara menanganinya.<\/span><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-10073\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"297\" data-src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/WhatsApp-Image-2020-03-19-at-00.37.40-300x297.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10073 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/WhatsApp-Image-2020-03-19-at-00.37.40-300x297.jpeg 300w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/WhatsApp-Image-2020-03-19-at-00.37.40-150x150.jpeg 150w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/WhatsApp-Image-2020-03-19-at-00.37.40-55x55.jpeg 55w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/WhatsApp-Image-2020-03-19-at-00.37.40-580x574.jpeg 580w, https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/WhatsApp-Image-2020-03-19-at-00.37.40.jpeg 500w\" data-sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 300px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 300\/297;\" \/><figcaption>Sumber gambar: Sustanation.id<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Composting Tools Waste4Change<\/strong><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image wp-image-10063\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/Composting-Bag-279x300.jpeg\" alt=\"Composting Bag Waste4Change\" class=\"wp-image-10063 lazyload\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 279px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 279\/300;\" \/><figcaption>Composting Bag Waste4Change<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kamu yang tertarik dan ingin mencoba mengompos di rumah, Waste4Change menyediakan peralatan pengomposan untuk Anda yang ingin bantu optimalkan pengelolaan sampah organik dengan memprosesnya menjadi kompos.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peralatan kompos Waste4Change dapat membantu Anda menghasilkan kompos secara aerobic (dengan bantuan oksigen) menggunakan Composting Bag Waste4Change.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atau Anda pun dapat memulai dengan menggunakan Black Soldier Flies (BSF) jika Anda memiliki area yang lebih luas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda juga dapat belajar untuk mengoptimalkan hasil proses kompos menggunakan BSF dengan mendaftar pada pelatihan di<a href=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/black-soldier-flies-bsf-great-business-opportunity-and-a-perfect-solution-to-organic-waste-problem\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> BSF Learning Center.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda akan mendapatkan 2 Composting bag dan 2 pack pupuk kompos. Dari setiap compost bag yang didapat akan mendapatkan panduan mengompos yang efisien.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk masa pakai Compost Bag kurang lebih bisa dipakai selama 5 tahun, tetapi tergantung cara pemakaiannya. Ukuran composting bag berdiameter 38 x tinggi 70 cm dan diproduksi dengan material UV resistant. Instruksi penggunaan compost bag lebih lanjut dapat dilihat pada: <\/span><a href=\"http:\/\/w4c.id\/brosurCB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">http:\/\/w4c.id\/brosurCB<\/span><\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca artikel dalam versi Bahasa Inggris\/English version <a href=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/what-you-can-do-during-the-physical-distancing-period-at-home\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">di sini.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/sustaination.id\/mengenal-jenis-komposter-dan-cara-membuat-kompos-di-rumah\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Sustaination: Mengenal Jenis Komposter dan Cara Mengompos di Rumah<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/zerowaste.id\/manajemen-sampah\/mengompos-itu-mudah-banget\/\">https:\/\/zerowaste.id\/manajemen-sampah\/mengompos-itu-mudah-banget\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">http:\/\/compostingcouncil.org\/index.cfm; 20 Januari 2014. The Composting Council of Canada;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> THE COMPOSTING PROCESS:Fundamental Principles&nbsp;<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA salah satunya bisa dilakukan dengan mengompos sampah di rumah<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11104,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1167],"tags":[],"class_list":["post-12982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-industry-updates"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Pengertian Pengomposan atau Composting dan Caranya di Rumah<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA salah satunya bisa dilakukan dengan mengompos sampah di rumah\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengertian Pengomposan atau Composting dan Caranya di Rumah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA salah satunya bisa dilakukan dengan mengompos sampah di rumah\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/waste4change\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-04-06T06:53:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-08-28T03:11:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/iStock.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@waste4change\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@waste4change\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/8d87e684e2f0d7db6abbab46bd7b78cc\"},\"headline\":\"Mengompos di Rumah: Solusi Sampah Organik Anda\",\"datePublished\":\"2020-04-06T06:53:00+00:00\",\"dateModified\":\"2022-08-28T03:11:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/\"},\"wordCount\":1185,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/iStock.jpg\",\"articleSection\":[\"Industry Updates\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/\",\"name\":\"Pengertian Pengomposan atau Composting dan Caranya di Rumah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/iStock.jpg\",\"datePublished\":\"2020-04-06T06:53:00+00:00\",\"dateModified\":\"2022-08-28T03:11:11+00:00\",\"description\":\"Cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA salah satunya bisa dilakukan dengan mengompos sampah di rumah\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/iStock.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/iStock.jpg\",\"width\":500,\"height\":375,\"caption\":\"Examples of food waste that should have been turned into compost. Photo credit: iStock\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/composting\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengompos di Rumah: Solusi Sampah Organik Anda\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change\",\"description\":\"Artikel dan berita pengelolaan sampah di Indonesia, dari manajemen sampah, daur ulang dan info konsultansi sampah.\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change\",\"url\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/cropped-logo-W4C-1024x390-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/cropped-logo-W4C-1024x390-1.png\",\"width\":500,\"height\":190,\"caption\":\"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/waste4change\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/waste4change\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/waste4change\",\"https:\\\/\\\/www.linkedin.com\\\/company-beta\\\/13236193\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/8d87e684e2f0d7db6abbab46bd7b78cc\",\"name\":\"admin\",\"url\":\"https:\\\/\\\/waste4change.com\\\/blog\\\/author\\\/adminw4c\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pengertian Pengomposan atau Composting dan Caranya di Rumah","description":"Cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA salah satunya bisa dilakukan dengan mengompos sampah di rumah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pengertian Pengomposan atau Composting dan Caranya di Rumah","og_description":"Cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA salah satunya bisa dilakukan dengan mengompos sampah di rumah","og_url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/","og_site_name":"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/waste4change","article_published_time":"2020-04-06T06:53:00+00:00","article_modified_time":"2022-08-28T03:11:11+00:00","og_image":[{"width":500,"height":375,"url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/iStock.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@waste4change","twitter_site":"@waste4change","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#\/schema\/person\/8d87e684e2f0d7db6abbab46bd7b78cc"},"headline":"Mengompos di Rumah: Solusi Sampah Organik Anda","datePublished":"2020-04-06T06:53:00+00:00","dateModified":"2022-08-28T03:11:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/"},"wordCount":1185,"publisher":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/iStock.jpg","articleSection":["Industry Updates"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/","url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/","name":"Pengertian Pengomposan atau Composting dan Caranya di Rumah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/iStock.jpg","datePublished":"2020-04-06T06:53:00+00:00","dateModified":"2022-08-28T03:11:11+00:00","description":"Cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA salah satunya bisa dilakukan dengan mengompos sampah di rumah","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/#primaryimage","url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/iStock.jpg","contentUrl":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/iStock.jpg","width":500,"height":375,"caption":"Examples of food waste that should have been turned into compost. Photo credit: iStock"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/composting\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengompos di Rumah: Solusi Sampah Organik Anda"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/","name":"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change","description":"Artikel dan berita pengelolaan sampah di Indonesia, dari manajemen sampah, daur ulang dan info konsultansi sampah.","publisher":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#organization","name":"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change","url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/cropped-logo-W4C-1024x390-1.png","contentUrl":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-content\/uploads\/cropped-logo-W4C-1024x390-1.png","width":500,"height":190,"caption":"Artikel dan berita pengelolaan sampah dari Waste4Change"},"image":{"@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/waste4change","https:\/\/x.com\/waste4change","https:\/\/www.instagram.com\/waste4change","https:\/\/www.linkedin.com\/company-beta\/13236193"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/#\/schema\/person\/8d87e684e2f0d7db6abbab46bd7b78cc","name":"admin","url":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/author\/adminw4c\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12982"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12982\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/waste4change.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}