Waste-to-Energy: Can It Be the Answer to Our Waste Problem?

Waste-to-Energy: Bisakah Menjadi Jawaban Atas Permasalahan Sampah?

Adanya kekhawatiran soal penggunaan bahan bakar fosil dan dampaknya terhadap pemanasan global, banyak negara yang mulai mengeksplor dan bahkan berinvestasi pada sumber energi alternatif lain.

Salah satu alternatifnya ialah waste-to-energy, yang di satu sisi bisa menjadi pilihan sumber energi yang lebih berkelanjutan dibanding bahan bakar fosil, sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan sampah yang tengah kita hadapi.

Di sisi lain, ada juga perdebatan soal topik waste-to-energy ini, terutama perihal emisi yang dikeluarkan dari hasil insinerasi, yang dikhawatirkan malah bisa menihilkan keuntungan yang ditawarkan dari teknologi ini

Apa Itu Waste-to-Energy?

Sebagai permulaan, Waste-to-Energy, atau biasa disingkat WtE adalah proses menghasilkan energi dalam bentuk panas atau listrik dari sampah. (Proses ini juga disebut Energi dari Sampah atau EfW). Dengan menggunakan berbagai macam teknologi yang terus dikembangkan, metode ini bertujuan untuk mengkompress dan membuang sampah sembari menghasilkan energi di saat yang sama.

Skema ilustrasi mengenai bagaimana fasilitas Waste-to-Energy facilities bekerja. Sumber: www.energycouncil.com.au

Fasilitas waste-to-Energy membakar sampah domestik dan sejenis sampah domestik yang tidak bisa dihindari atau didaur ulang. Aktivitas pembakaran dari fasilitas tersebut kemudian akan menghasilkan energi, bisa dalam bentuk uap, listrik, atau air panas.

Tipe-tipe Teknologi dalam Mengubah Sampah menjadi Energi

1. Teknologi Termal

  • Depolymerization/Hydrous Pyrolysis: Sebuah metode yang memanfaatkan dekomposisi termal, dimana dengan adanya air, komponen organik dipanaskan dalam temperatur tinggi
  • Gasification: Mengkonversi substansi yang mengandung karbon menjadi karbon dioksida, karbon monoksida, serta hidrgoen. Proses ini, layaknya insinerasi, menggunakan temperatur tinggi. Perbedaannya adalah tidak ada pembakaran.
  • Pyrolysis: Mirip dengan hydrous pyrolysis, tetapi bedanya tidak menggunakan oksigen. Metode pyrolysis menggunakan sampah dari agrikultur atau sampah organik dari industri.
  • Plasma Arc Gasification: Obor plasma digunakan untuk mengionisasi gas sehingga akan diperoleh gas sintesis. Proses ini menghasilkan listrik sembari mengompresi sampah.
Diagram pabrik pembakaran Waste-to-Energy. Sumber: ecomaine.org

2. Teknologi Non-Termal

  • Fermentasi: Metode ini menghasilkan perubahan kimiawi pada substansi organik melalui enzim dalam keadaan tidak ada oksigen.
  • Anaerobic digestion: Menggunakan mikroorganisme untuk menghancurkan substansi yang bisa terbiodegradasi. Metode ini digunakan baik di tingkat domestik maupun tingkat komersil untuk menangkap pelepasan energi yang dihasilkan saat prosesnya.

Manfaat dan Potensi Waste-to-Energy

Dalam konteks negara-negara Eropa, fasilitas Waste-to-Energy bisa memasok 18 juta penduduk dengan energi listrik dan 15.4 juta penduduk dengan energi panas (heat). Energi tersebut berdasarkan pada 90 juta ton sampah domestik dan sejenis sampah domestik yang dikelola di tahun 2015 di Eropa.

Sumber: cewep.eu

Confederation of European Waste-to-Energy Plants mengatakan bahwa cara untuk mengelola sampah residu (sampah yang kotor, material yang terkontaminasi, material yang terdiri dari bahan campuran, material daur ulang yang turun kualitasnya, serta material yang mengandun bahan beresiko tinggi) antara lain melalui landfilling atau WtE.

Ilustrasi siklus Waste-to-Energy. Sumber: cewep.eu

Ketika membuang sampah ke TPA (landfill) sudah bukan menjadi pilihan, WtE menawarkan beberapa manfaat, seperti mengurangi ketergantungan pada bahan bakal fosil, menghemat jutaan ton karbon dioksida, memberikan sumbangsih pada swasembada energi, serta menyediakan alternatif energi yang berkelanjutan, lokal, rendah karbon, serta berbiaya rendah.

Organisasi CEWEP juga menyatakan bahwa metode daur ulang maupun WtE menjadi saling melengkapi dalam rangka mengurangi sampah yang berakhir di TPA. Negara-negara di Eropa seperti Austria, Belgium, Denmark, Swedia, dan Finlandia telah menerapkan kebijakan menutup TPA dan mengintegrasikan daur ulang dan WtE dalam sistem pengelolaan sampah mereka.

Perdebatan dan Kekurangan mengenai Metode Waste-to-Energy

Meski WtE menawarkan banyak manfaat, proses pengelolaan sampah berbasis pembakaran kian menjadi subyek perdebatan di berbagai belahan dunia. Hal ini karena jika tidak adanya mekanisme kontrol yang efektif, polutan yang berbahaya bisa dihasilkan dan terlepas dari fasilitas pembakran WtE dan mencemari udara, tanah, serta air. Hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap manusia dan lingkungan itu sendiri.

Contoh fasilitas Waste-to-Energy. Sumber: www.afconsult.com/

Dari segi kesehatan, sistem insinerasi menghasilkan berbagai macam polutan yang bisa berdampak buruk pada kesehatan manusia. Dari polutan tersebut, dioksin lah yang merupakan polutan paling berbahaya, yang bisa mempengaruhi kesehatan orang-orang yang tinggal di sekitar fasilitas insinerasi ataupun dalam cakupan area yang lebih luas.

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), insinerator merupakan sumber utama penghasil dioksin yang terlepas ke udara. Selain itu, sebuah studi terbaru dari Environmental Protection Agency (EPA) mengidentifikasi dioksin sebagai penyebab berbagai jenis kanker.

Dari segi ekonomi, sebagian besar investasi pada sektor WtE dialokasikan untuk sistem pengendalian polusi/emisi beracun. Namun dalam konteks negara berkembang, isu lain muncul terkait jenis sampah yang bisa digunakan untuk WtE, dimana nilai kalori rata-ratanya belum mencapai standar yang diperlukan untuk insinerasi.

Jika ujung-ujungnya negara harus mengimpor sampah sebagai bahan bakar insinerator, maka prosesnya akan menjadi jauh lebih mahal.

Terakhir dan tidak kalah penting, membangun fasilitas WtE dari nol membutuhkan biaya yang amat mahal. Selain itu pakar insinerasi juga menyatakan bahwa agar operasi fasilitas WtE bisa berjalan mulus dari segi ekonomi, maka insinerator harus membakar setidaknya 1000 ton sampah per hari. Lagi-lagi, biaya untuk membangun fasilitas WtE dengan kapasitas tersebut memakan biaya sekitar 100 juta dolar.

Lalu Kesimpulannya?

Jelas bahwa Waste to Energy (WtE) sendiri tidak akan cukup untuk menangani permasalahan sampah yang kita hadapi. Dan ya, baik WtE dan daur ulang harus saling melengkapi di dalam satu sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi.

Selain itu, negara-negara yang kian menghadapi permasalahan yang sama terkait sampah harus tetap berpegang teguh pada hirarki pengelolaan sampah, dimana opsi pengurangan sampah dari sumber menjadi prioritas utama, dan opsi landfill serta WteE menjadi opsi terakhir.

Sebagai perusahaan yang menyediakan solusi pengelolaan sampah yang bertanggung jawabWaste4Change bisa membantu organisasi/perusahaan yang tertarik untuk mengekplorasi alternatif teknologi WtE dengan mengadakan studi kelayakan terkait prospek dan kesesuaian teknologi pengelolaan sampah tersebut dengan kebutuhan perusahaan/klien.

Program Solid Waste Management Research kami akan berusahan untuk mencarikan solusi dan rekomendasi terbaik terkait teknologi WtE yang paling memungkinkan untuk digunakan, dengan pertimbangan yang meninggalkan dampak negatif seminimal mungkin. Akan tetapi untuk saat ini, kami juga menekankan pada pentingnya implementasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Referensi:

https://www.cewep.eu/wp-content/uploads/2018/07/Interactive-presentation-2018-New-slides.pdf

https://www.conserve-energy-future.com/waste-to-energy.php

1 2