Fakta Sampah Residu yang Sulit Didaur Ulang

Pengertian Sampah Residu dan Contohnya?

Faktanya, ada berbagai definisi dan kategori sampah residu.

Department of Environmental Protection of Pennsylvania (DEP Pennsylvania), menyatakan sampah residu sebagai sampah sisa industri, pertambangan, atau pertanian yang tidak berbahaya untuk alam.

Sampah residu yang diproses dan dikelola di bawah pengawasan DEP Pennsylvania umumnya merupakan abu sisa industri yang memang tak lagi bisa diproses.

Waste4Change mendefinisikan sampah residu adalah sampah yang sulit didaur ulang baik karena alasan keterbatasan teknologi, biaya, sumber daya alam, maupun sumber daya manusia.

Dikarenakan adanya perbedaan teknologi ini, maka kategori sampah residu di sebuah area bisa jadi berbeda dengan area lainnya.

Pun, sampah yang dianggap residu di masa sekarang bisa jadi berbeda di tahun berikutnya, dikarenakan adanya perkembangan teknologi atau penemuan pengelolaan sampah yang bisa menjadi solusi.

Sampah residu tidak selalu merupakan sampah anorganik seperti kaca, plastik, kertas, logam, atau karet.

Ada juga beberapa bahan organik yang menjadi sulit didaur ulang di Waste4Change karena pengelolaan sampahnya yang cukup rumit: contohnya batok dan batang pohon kelapa, lalu kulit duren serta nangka.

Contoh berbagai macam kantong belanja ramah lingkungan yang jika tidak digunakan dapat berakhir sebagai sampah residu karena umumnya terbuat dari bahan tekstil yang sulit didaur ulang Sumber: JJ Reddington/BuzzFeed

5 Alasan Material Dikatakan Sampah Residu

Ada 5 alasan mengapa sebuah material bisa dikategorikan sebagai sampah residu:

  1. Dapat menyebabkan kerusakan mesin, contohnya plastic wrap atau cling wrap yang sangat fleksibel dan tipis sehingga sangat mudah terbelit di dalam mesin daur ulang
  2. Dapat menjadi sumber penyakit dan mengkontaminasi material lain saat daur ulang, contohnya popok bekas pakai, pembalut bekas pakai, serta tisu bekas pakai yang mungkin membawa serta liur, kotoran, serta darah. Bahkan setelah dicuci pun, kontaminan tersebut masih mungkin tertinggal, sehingga masih berisiko untuk petugas pengelola sampah dan lingkungan.
  3. Sulit diproses untuk didaur ulang, contohnya pembalut, plastik berlaminasi, serta plastik sachet (multilayer) yang terdiri dari beberapa jenis material. Untuk dapat mendaur ulang benda tersebut, materialnya perlu dipisahkan sesuai jenis satu dan yang lainnya. Jika tidak ada teknologi khusus, pemisahannya masih bersifat manual dan membutuhkan banyak waktu serta sumber daya manusia. Saat ini Waste4Change sudah bekerja sama dengan mitra daur ulang untuk dapat mendaur ulang material plastik sachet, semoga bisa segera mendaur ulang dan mengelola sampah residu lainnya. Cek halaman program Send Your Waste dari Waste4Change untuk mengetahui lebih lanjut tentang cara mengirim dan mendaur ulang sampah plastik multi-layered.
  4. Kualitas produk daur ulangnya sangat rendah, contohnya tisu bekas pakai atau kertas buram. Kertas buram biasanya sudah merupakan bahan daur ulang kertas paling rendah. Mendaur ulang bahan kertas itu kembali akan menghasilkan kertas buram dengan kualitas lebih rendah lagi, sehingga nilai jualnya pun menurun. Inilah sebabnya beberapa mitra daur ulang dan bank sampah tidak menerima kertas buram, sehingga memang sebaiknya kertas buram diproses sendiri menjadi kompos atau bahan daur ulang lainnya.
  5. Biaya yang dibutuhkan untuk proses daur ulangnya tergolong mahal, contohnya bahan tekstil. Diperlukan teknologi yang tidak mudah, biaya yang tidak murah, juga energi yang tidak sedikit untuk bisa mendaur ulang bahan tekstil. Dikarenakan alasan inilah, banyak mitra daur ulang yang masih mengkategorikan tekstil sebagai bahan yang sulit didaur ulang.
Salah satu contoh sampah residu masker medis dan tisu bekas pakai yang sulit didaur ulang dan banyak menumpuk saat memuncaknya pandemi corona di Indonesia
Salah satu contoh sampah residu masker medis dan tisu bekas pakai yang sulit didaur ulang dan banyak menumpuk saat memuncaknya pandemi corona di Indonesia

Mengapa Sampah Residu Menjadi Masalah?

Pada dasarnya, hampir semua material berawal dari bahan natural di alam.

Contohnya bahan plastik awalnya yang terbuat dari kombinasi selulosa tumbuhan, batubara, gas alam, garam, dan minyak bumi yang melalui proses polimerisasi atau polikondensasi yang menghasilkan material fleksibel, tahan air, dan ringan yang kita kenal sekarang.

Perlu diketahui bahwa:

  • Jika dibiarkan di TPA, kaca dan beling membutuhkan waktu jutaan tahun untuk terurai.
  • Bahan logam membutuhkan 50-500 tahun untuk terurai dengan sendirinya.
  • Kertas membutuhkan waktu 2 hingga 6 minggu untuk dapat terurai.
  • Plastik juga bisa terurai, namun membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu 10-1000 tahun di situasi ideal yaitu terekspos sinar matahari, proses ini pun bisa melepaskan senyawa yang dapat mencemari udara jika tidak dilakukan secara bijak dan dalam pengawasan ahli

Jika produksi material-material di atas jauh lebih tinggi daripada proses daur ulang atau penguraiannya sehingga menyebabkan material tersebut menumpuk dan menjadi polusi di alam, maka semua bahan yang ada di bumi, baik itu sampah organik, sampah kertas, sampah logam, maupun plastik bisa dikategorikan sampah residu yang mencemari lingkungan.

Penumpukan sampah residu ini cukup berbahaya, beberapa kasusnya telah banyak terjadi di Indonesia, contohnya tragedi TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 serta longsornya TPA Cipeucang pada 22 Mei 2020.

Longsornya TPA Cipeucang, Tangerang, Indonesia pada 22 Mei 2020
Longsornya TPA Cipeucang, Tangerang, Indonesia pada 22 Mei 2020

Solusi Sampah Residu

Idealnya adalah untuk mencapai titik di mana semua sistem sudah didesain dan dijalankan untuk dapat tetap memanfaatkan material yang ada dan mengelola material tersebut agar tidak ada yang berakhir menjadi polusi di alam. Sehingga nantinya, tidak ada lagi yang dikategorikan sebagai sampah residu. Sistem ekonomi melingkar (circular economy)

Untuk saat ini, ada 3 solusi penanganan sampah residu/ sampah yang sulit didaur ulang agar tidak menjadi masalah:

  1. Mengurangi produksinya
  2. Menggantinya dengan bahan lain yang lebih mudah terurai di alam, lebih lama masa penggunaannya, atau lebih mudah/ baik didaur ulang. 
  3. Meningkatkan proses daur ulangnya agar tidak hanya menumpuk dan menjadi polusi di alam

Saat ini, berbagai negara dan brand sedang gencar-gencarnya menerapkan konsep circular economy atau ekonomi melingkar dalam industri mereka, tujuannya agar tetap bisa mengambil manfaat dari berbagai bahan di dunia namun sedemikian mungkin menekan jumlah sampah yang menumpuk dan menjadi polusi di alam (baca Juga: Mendukung Ekonomi Melingkar Melalui Pengelolaan Sampah yang Bertanggung Jawab).

Banyak brand terkenal dunia juga mulai berpartisipasi dalam program Extended Producer Responsibility untuk mengajak konsumen turut mendaur ulang kemasan bekas pakai mereka. Contohnya program BBOB (Bring Back Our Bottle) dari The Body Shop. (Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Extended Producer Responsibility).


Mengedukasi diri sendiri dan orang lain terkait jenis dan bahan sampah apa saja yang masih sulit didaur ulang di negara dan area kita juga sangat membantu, sehingga kita bisa lebih peduli dan sadar tentang seberapa besar sampah kita berpengaruh pada lingkungan.

(Baca juga: 7 Jenis Plastik yang Perlu Anda Ketahui, Panduan Komplit Sampah yang Bisa Didaur Ulang oleh Waste4Change).

Pada akhirnya semua solusi kembali pada masing-masing individu, yaitu bagaimana kita mengurangi produksi sampah kita setiap hari, memilih produk yang lebih baik, juga memastikan semua sampah kita dikelola dengan optimal dan bertanggung jawab agar tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Sampahku, Tanggung Jawabku.

Sumber:

  1. Thebalancesmb.com
  2. Sciencing.com
  3. Plasticseurope.org
  4. thisisplastics.com

Related Post