Sampah Elektronik: Pengertian, hingga Dampaknya Bagi Lingkungan

Sampah elektronik menjadi salah satu sampah yang dihasilkan oleh aktifitas manusia bukan hanya saja terbatas pada sampah makanan, sampah plastik, atau sampah pakaian (limbah tekstil). Akan tetapi, sampah eletronik pada beberapa tahun belakangan telah ikut serta menyumbang kekhawatiran terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.

Sampah elektronik

Sampah Elektronik di Indonesia dan Jumlah Timbulan Pertahun

The Global E-Waste Monitor 2020 menunjukkan data bahwa selama tahun 2019 timbulan sampah elektronik di dunia mencapai 53,6 juta ton. Dengan jumlah tersebut, PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) memprediksi bahwa volumenya akan terus meningkat, di tahun 2030 timbulan sampah elektronik akan mencapai 74 juta ton dan di tahun 2050 akan mencapai 120 juta ton.

Sementara itu, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2021 menunjukkan bahwa timbunan sampah elektronik di Indonesia mencapai 2 juta ton. Dari jumlah tersebut, kontribusi terbesar sampah elektronik adalah berasal dari pulau Jawa yakni mencapai 56% dari keseluruhan jumlah di Indonesia. 

Dari data yang didapatkan tersebut, Rosa Vivien Ratnawati selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mengakui bahwa pengelolaan sampah elektronik di Indonesia memang belum optimal. Belum lagi sifat konsumtif masyarakat terhadap perangkat elektronik yang menimbulkan potensi timbunan sampah elektronik semakin meningkat. 

Pengertian Sampah Elektronik

Sampah elektronik atau yang dikenal juga dengan e-waste, merujuk pada The International Telecommunication Union mengacu pada berbagai item yang berkaitan dengan peralatan listrik dan elektronik (electrical and electronic equipment/EEE) yang telah dibuang oleh pemiliknya dan tidak ada maksud untuk digunakan kembali (Step Initiative, 2014). Oleh karena itu, sampah elektronik atau e-waste sering juga disebut sebagai  WEEE (Waste Electrical and Electronic Equipment). 

Di samping itu, berdasarkan pada PP No. 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik, sampah elektronik termasuk ke dalam golongan sampah yang mengandung B3. Jenis sampah B3 ini memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan manusia apabila tidak dikelola dengan baik dan benar. 

Jenis-Jenis Sampah Elektronik

Pengkategorian sampah elektronik atau e-waste umumnya dibedakan berdasarkan bentuknya. Situs Hijau Indonesia, Hijauku.com mengkategorikan sampah elektronik menjadi 5 bentuk. Yaitu dalam bentuk telepon seluler, notepads dan tablet, laptop dan PC, Televisi dan Monitor, serta Kabel.

Sementara menurut EwasteRJ, suatu komunitas yang berfokus pada pengelolaan sampah elektronik, e-waste atau sampah elektronik dapat dibedakan menjadi enam jenis, yakni; peralatan rumah tangga (penanak nasi elektrik, setrika, vacuum cleaner, dll.), peralatan hiburan (kamera, radio, DVD player), peralatan teknologi informasi dan komunikasi (ponsel, komputer, flashdisk), peralatan listrik (baterai, kabel, stopkontak), perlengkapan cahaya (bohlam, lampu LED), dan mainan serta alat olahraga (konsol gim, treadmill).

Dampak Sampah Elektronik Bagi Lingkungan 

Sebagaimana jenis sampah pada umumnya, E-waste atau sampah elektronik juga memiliki dampak yang signifikan pada lingkungan. Merujuk pada Pranandya Wijayanti selaku External Relations EwasteRJ, dampak tidak baik dari sampah elektronik karena memiliki kandungan racun dan logam berat yang bersifat bioakumulatif, artinya efek buruk dari E-Waste baru akan dapat dirasakan setelah beberapa tahun. 

Apabila sampah elektronik masuk ke lingkungan maka akan memicu terjadinya asidifikasi tanah yang mengganggu keseimbangan alam. Tidak hanya itu, E-waste yang termasuk B3 ini juga akan dapat membahayakan kesehatan manusia. 

sampah elektronik

Oleh sebab itu, penanganan sampah elektronik perlu dilakukan secara tepat. Sejalan dengan hal tersebut, penanganan sampah elektronik perlu diperkuat dengan kolaborasi dari produsen, distributor dan berbagai pihak dengan didorong oleh fondasi peraturan yang aplikatif.

Merujuk pada riset dari Aulia Qisthi, PhD Candidate for Recycling Electronic Waste, terdapat berbagai keuntungan dari pengelolaan sampah elektronik yang benar. Di antaranya adalah dari segi lingkungan, berdasarkan data di tahun 2020 dari pengelolaan 1 ton e-waste dapat mengurangi 1.400 ton CO2. Kemudian dari segi ekonomi, Indonesia berpeluang mendapatkan keuntungan mencapai US$1,8 dari aktivitas daur ulang sampah elektronik. 

Belajar Mengenai Kondisi Persampahan di Indonesia melalui AKABIS

Untuk dapat melakukan pengelolaan sampah elektronik secara bijak dan benar, setiap orang perlu memiliki pemahaman yang baik terkait manajemen sampah di Indonesia. Untuk sampah elektronik sendiri, Anda dapat memulai pengelolaan sampah elektronik mulai dari memisahkannya dari sampah jenis lainnya. Kemudian, Anda juga dapat menyalurkannya kepada para pengelola sampah yang tepat.

Dalam upaya untuk memahami kondisi persampahan dan cara mengelola serta menyalurkannya dengan tepat, Anda dapat mengikuti program AKABIS (Akademi Bijak Sampah) dari Waste4Change. AKABIS merupakan suatu model pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui manajeman sampah yang bertanggung jawab. Ketahui lebih lengkap tentang AKABIS sekarang juga!

Referensi:

https://www.merdeka.com/gaya/sampah-elektronik-seharusnya-dibuang-di-mana.html

https://katadata.co.id/happyfajrian/berita/6167d8389a3c3/indonesia-timbun-2-juta-ton-sampah-elektronik-sepanjang-tahun-ini

https://mediaindonesia.com/humaniora/499508/timbulan-sampah-elektronik-indonesia-diprediksi-mencapai-3200-kiloton-pada-2040

https://waste4change.com/service/akabis-waste-management-academy?lang=en

Jenis-Jenis Sampah Elektronik

https://madaniberkelanjutan.id/2020/11/30/sampah-elektronik-jadi-ancaman-jika-kita-lupakan

https://katadata.co.id/happyfajrian/berita/6167d8389a3c3/indonesia-timbun-2-juta-ton-sampah-elektronik-sepanjang-tahun-ini

https://www.itu.int/en/ITU-D/Climate-Change/Documents/GEM%202017/Global-E-waste%20Monitor%202017%20-%20Chapter%201.pdf

Related Post