Roots Learning Center: Membentuk Mindset dan Habit Tentang Pengelolaan Sampah Sejak Dini

Jika menanamkan ilmu perihal sampah kepada balita dianggap sebagai hal yang sulit, tidak bagi Yasmina dan rekan-rekan Roots Learning Center yang mulai membentuk mindset dan habit balita untuk mulai mencintai lingkungan. 

Menanamkan ilmu tentang lingkungan dan sampah sejak dini menjadi salah satu komponen ilmu yang sangat penting bagi Roots, ditambah dengan adanya deklarasi dari UNESCO yang menyatakan bahwa pendidikan tentang lingkungan harus menjadi komponen inti dari kurikulum di tahun 2025. Hal inilah yang kemudian dijadikan Roots sebagai dasar untuk memberikan ilmu seputar sampah dan lingkungan sejak dini.

“Kalau dunia aja udah sampai membahas untuk kurikulum mulai harus memasukan environmental, pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum, berarti tandanya ini sudah sangat penting, ya” Ujar Yasmina Hasni, Chief Ideation and Storytelling Officer dalam kesempatan wawancara menjelang Hari Anak Nasional. 

Selain adanya deklarasi dari UNESCO, keresahan seputar sampah diapers (popok) juga jadi alasan mengapa ilmu seputar sampah dan lingkungan perlu diterapkan kepada balita. 

Lalu muncul pertanyaan: Loh, yang perlu mengurusi sampah popok itu kan orang tuanya?

Pada kasus ini, Roots membentuk kebiasaan dan pola pikir anak lewat edukasi tuntas sensory. Memanfaatkan 7 stimulasi sensori anak (penglihatan, penciuman, perasa, pendengaran, peraba/taktil, keseimbangan/vestibular, dan gerak otot/propiosetif) yang dimiliki oleh tiap balita. Roots ingin membentuk dan mengajarkan balita untuk mulai sadar dan dapat merasakan segala hal yang bisa diekspresikan. 

3 hal utama yang Roots coba bentuk yakni; makan, toileting, dan tidur. Anak-anak diajarkan untuk mampu memahami rasa yang dirasakan (lapar, ngantuk dan rasa ingin buang air).

Dimulai dari pola makan. Jadwal makan yang dibentuk oleh orangtua seakan memaksa anak yang belum lapar harus makan saat itu juga karena waktu orang tua yang mungkin terbatas untuk menyuapi anak makan. Kemudian, hal inilah yang menjadi concern bagi Roots. Saat anak belum lapar, dan diharuskan makan sesuai jadwal maka akan ada peluang timbulnya food waste. Oleh karena itu, Roots mulai membentuk habit anak untuk bisa menyampaikan apa yang ia rasakan.

Untuk merasa sadar dan dapat memberitahu apa yang dirasa juga ternyata memberikan pengaruh pada timbulan sampah popok. Anak jadi bisa merasakan dan memberi tahu kapan ia merasa ingin buang air kecil atau besar, sehingga penggunaan popok dapat dikurangi sedini mungkin karena anak sudah mulai mampu membiasakan diri merasakan dan menyampaikan apa yang dirasakan.

Sumber foto: rootslearningcenter.id

Metode Pemilahan Sampah di Roots Learning Center

Pengenalan jenis-jenis sampah dan edukasi dalam warna wadah sampah terpilah diterapkan pada waktu belajar dan bermain di Roots. Selama edukasi pemilahan sampah, caregiver dan anak-anak mengimplementasikannya dengan sangat fun. Anak-anak mempelajari ilmu dan aturan pemilahan sampah sambil bermain dan bersenang-senang. Hal ini menjadikan anak-anak bersedia mendengarkan dan mengikuti instruksi dari caregiver untuk membuang sampah pada wadah terpilah sesuai dengan jenis sampah yang dihasilkannya.

Roots tidak merasa kesulitan dalam memberikan edukasi perihal sampah kepada balita. Yasmina memberikan alasan, bahwa mengajari balita perihal sampah, kebiasaan untuk tidak menghasilkan sampah, serta kesadaran terhadap lingkungan jauh lebih mudah ditanamkan kepada balita karena anak cenderung akan banyak menerima tanpa mengajukan protes ataupun pertanyaan kritis. Mindset anak juga lebih mudah dibentuk pada usia balita karena belum banyaknya pengalaman.

Tantangan Lebih Besar: Edukasi Orang Tua Perihal Sampah

Yasmina mengatakan justru tantangan itu sebenarnya ada saat mengedukasi orang yang lebih tua, karena perlu merubah mindset dan habit, bukan membentuk mindset dan habit. Yasmin bahkan berharap adanya edukasi yang diberikan kepada

anak-anak mampu ditularkan kepada kebiasaan orang tua dan anak untuk sekedar memilah sampah dan memasukkannya ke wadah terpilah di rumah. 

Yasmina menceritakan, tidak sedikit anak yang bertanya kepada orang tuanya, kenapa sampah di rumah tidak dipilah seperti di daycare?

Kebiasaan yang dibentuk kepada balita juga diharapkan dapat menimbulkan rasa “bersalah” ketika tidak melakukannya suatu saat. Sama halnya dengan jika kita tidak mencuci tangan sehabis dari luar rumah di masa pandemi, akan ada rasa “kotor” hingga pada akhirnya tergerak untuk mencuci tangan.

Sejak usia 1,5 tahun mereka sudah diedukasi tahu perihal penggolongan sampah sesuai dengan jenisnya. Di Roots anak-anak dan caregiver memisahkan sampah ke dalam 4 jenis (plastik, kaleng, kertas, organik, dan residu) di mana hal ini lebih memudahkan balita untuk mengkategorikan sampah. 

Respon dari orang tua perihal materi pemilahan sampah di Roots sangat positif. Hal yang coba Roots lakukan yang berhubungan dengan orang tua anak adalah dengan menggunakan wet bag sebagai penyimpanan baju kotor anak, dan Roots akan dengan tegas menolak jika orang tua tidak membawa wet bag sehingga menggantinya dengan plastik sebagai wadah baju kotor. 

Roots akan lebih memilih menyimpan baju kotor anak di tempat penyimpanan daripada dibawa pulang menggunakan plastik.

Selain itu, bentuk dari pengurangan sampah juga dilakukan melalui hal-hal kecil seperti meminimalisir penggunaan kertas saat pendaftaran, sehingga semua beralih online sebagai cara meminimalisirnya.

Kolaborasi Roots Learning Center Cipete dan Waste4Change

Roots Learning Center mengaplikasikan apa yang diajarkannya perihal pemilahan sampah melalui kerjasama dengan Waste4Change lewat jasa Reduce Waste to Landfill.

Sumber foto: rootslearningcenter.id

Untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik di Indonesia, Waste4Change melalui berbagai layanan siap membantu. Perusahaan Anda juga dapat mengambil langkah-langkah dalam mengelola limbah dengan bijak untuk mengurangi jumlah limbah yang mungkin berakhir di TPA melalui Layanan Kurangi Limbah ke TPA kami. Jelajahi lebih lanjut di w4c.id/RWTL.

Related Post