Pro & Kontra Taman Fasilitas Pengelolaan Sampah Antara (FPSA) Tebet

FPSA Tebet Dimaksudkan Sebagai Solusi TPST Bantar Gebang Penuh

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup di Jakarta, Syarifudin, telah mengumumkan rencana  pembangunan Fasilitas Pengelolaan Sampah Antara (FPSA).

Dikutip pada Agustus 2021, Syarifudin mengungkapkan bahwa FPSA merupakan fasilitas pengolahan sampah yang ditujukan untuk mengurangi sampah menggunakan teknologi pengolahan sampah yang sudah teruji dan ramah lingkungan. Dibangunnya FPSA ini merupakan salah satu upaya Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta untuk mengurangi penimbunan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Bantargebang Jawa Barat.

Syarifudin juga menambahkan  bahwa FPSA Tebet ini dilengkapi dengan recycling center, biodigester, pyrolysis, BSF Maggot, incinerator, pengolahan FABA (fly ash bottom ash) menjadi material pembangunan, environmental education (pusat edukasi warga), ruang interaksi publik (taman bermain), food center (kantin), saran olahraga, urban farming, IPAL dan teater terbuka. Menurut Syarifudin juga teknologi FPSA ini sudah memiliki sertifikat registrasi teknologi ramah lingkungan pemusnah sampah domestik sistem hydro drive pada 2021. Teknologi FPSA ini disebut sebut bisa mengolah sampah 120 ton/hari di atas lahan seluas 13.000 meter persegi. 

Taman Tebet Honda di Jakarta Selatan

Mengundang Kontra

Salah satu keberatan yang diutarakan oleh WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) terkait pembangunan Taman FPSA Tebet adalah bahwa pemerintah seharusnya fokus pada pengadaan fasilitas TPS 3R (Reduce-Reuse-Recycle). TPS 3R merupakan Tempat Penitipan Sampah Sementara yang juga dilengkapi tahap pemilahan sampah serta mesin pencacah dan pengayak kompos untuk meningkatkan jumlah sampah yang didaur ulang. Di samping itu, pemilihan teknologi yang digunakan juga menjadi pertanyaan dan menimbulkan ketidaksetujuan dari pihak WALHI.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria juga mengungkapkan bahwa pembangunan FPSA ini akan mengurangi bertambahnya polusi dari pembakaran sampah karena menggunakan teknologi yang mutakhir yang berbeda pada pembakaran sampah pada umumnya. Sebagai informasi, sampai saat ini hanya teknologi TPS 3R yang menjadi sistem pengolahan sampah dengan inovasi mesin yang efektif dan efisien. Namun, pada 2019, data dinas Lingkungan Hidup Jakarta menyatakan bahwa teknologi TPS 3R masih belum ideal, karena itulah direncanakan dibuatnya FPSA yang akan bertempat di Tebet ini.

Penerapan 3R (Reduce-Reuse-Recycle) di Tahap Individu Tetap yang Utama

Berkaca pada Swedia dan Jepang yang telah mengelola sampah mereka dengan melibatkan teknologi insinerasi, waste-to-energy (WTE) memang bukan istilah baru dalam dunia pengelolaan sampah. Namun, tingkat efektivitas teknologi yang digunakan dan efek pada lingkungan yang dihasilkan memang berbeda-beda.

TPST Bantar Gebang yang menjadi ujung dari semua sampah residu warga DKI Jakarta memang dikabarkan akan kelebihan kapasitas dan bisa jadi berhenti beroperasi di tahun 2022. Solusi dibutuhkan, dan ITF atau FPSA menjadi salah satu solusi yang ditawarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Apa pun langkah dan upaya yang diambil untuk mengurangi dan menanggulangi sampah di DKI Jakarta, langkah pertama dari konsep 3R (Reduce-Reuse-Recycle) yaitu Reduce atau mengurangi timbulan sampah adalah yang paling utama. Membakar sampah dan memanfaatkan sebagai energi mungkin merupakan salah satu jalan untuk mengurangi timbunan sampah, tapi ada yang lebih efektif: perubahan perilaku dan gaya hidup dalam mengelola sampah.

Illustrasi membuang & memilah sampah – Sumber: Shutterstock

Related Post