Konser Musik Pasca Pandemi: Bisakah Lebih Minim Sampah?

Dunia perlahan-lahan mulai bangkit kembali setelah dua tahun dilanda pandemi. Acara-acara mulai digelar secara offline, orang-orang mulai melanjutkan rencana liburan yang tertunda, dan musisi dunia mulai mengumumkan konser dan world tour mereka untuk pertama kalinya dalam dua tahun. 

Tentu ini merupakan sebuah kabar baik. Kita bisa kembali berjumpa dengan teman-teman dan mengunjungi keluarga di kampung. Jakarta Car Free Day bisa kembali diadakan, festival musik kembali bersua, bioskop dan commuter line mulai bisa diisi dengan kapasitas 100%. Segalanya hampir kembali normal. 

Tapi benarkah kembali normal adalah yang terbaik? Atau mungkin kita bisa melakukan suatu hal dengan lebih baik lagi setelah pandemi ini berlalu? Dimulai dari konser musik dan acara-acara offline misalnya. 

Ilustrasi suasana konser musik. Sumber: Unsplah

Minggu lalu, Allobank baru saja menggelar Allobank Festival 2022, sebuah all-in-one festival yang line upnya tidak main-main, ada NCT Dream dan Red Velvet! Kemudian tidak lama ini, Justin Bieber dan Westlife juga telah mengumumkan jadwal konsernya di Indonesia (diikuti dengan penjualan tiket yang laris manis). 

Namun dibalik semua euphoria konser musik itu, ada masalah yang perlu kita perhatikan: produksi sampahnya. 

Konser Musik dan Sampah yang Dihasilkan 

Ada banyak festival dan konser musik yang produksi dan pengelolaan sampahnya belum terkendali. Setelah selesai acara, sampah masih banyak yang berserakan, dan hal ini disebabkan oleh banyak hal, mulai dari tempat sampah yang minim, regulasi dan kebijakan yang kurang ketat, serta minimnya kesadaran pengunjung.  Mari kita coba lihat satu persatu contoh konser musik dan festival tersebut. 

  1. Lalala Festival 2019

Konser musik yang diadakan pada bulan Februari 2019 silam ini bertempat di Orchid Forest Cikole, Lembang, Bandung. Venue outdoor di tengah hutan rupanya tidak mencegah penumpukan sampah di sekitar venue, terutama karena jumlah tempat sampah yang disediakan amatlah kurang. Selain itu, sampah yang ada bukan hanya botol dan minuman kemasan, melainkan juga jas hujan yang dipakai penonton akibat cuaca di venue yang kurang mendukung. 

Salah satu sudut venue Lalala Fest 2019. Foto kredit: Chlorine
  1. Synchronize Fest

Selain Lalala Festival, contoh konser musik dalam negeri lainnya yaitu Synchronize Festival, sebuah festival multi-genre tahunan berskala nasional yang diselenggarakan selama 3 hari 3 malam. Tahun ini, Synchronize Fest akan diselenggarakan tanggal 7-9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran. 

Dikutip dari Detik.com, Festival Director Synchronize Fest, David Karto, mengatakan, dalam tiga tahun pertama penyelenggaraannya, Synchronize Fest menghasilkan rata-rata 1,7 hingga 2 ton sampah tiap tahunnya.

  1. Coachella 

Ada juga festival musik internasional tahunan seperti Coachella di California, AS, yang sampahnya tidak kalah banyaknya. Pengunjung Coachella diperkirakan mencapai 250,000 orang, dan per harinya, Coachella menghasilkan 106 ton sampah. 

  1. Glastonbury Festival 

Glastonbury Festival merupakan festival musik yang berlangsung di Inggris selama 5 hari lamanya. Di tahun 2015, Glastonbury Festival menghasilkan kurang lebih 1.650 ton sampah yang terdiri dari 5.000 tenda yang ditinggalkan begitu saja, 6.500 kantong tidur, 54 ton kaleng dan botol plastik, 41 ton kardus, 66 ton logam, dan 950 buah matras gulung. 

Sampah di Glastonbury Festival. Sumber: TE News Correspondent

Di Inggris sendiri, ada lebih dari 3 juta orang yang pergi ke festival musik setiap tahunnya, dan sekitar 23.500 ton sampah diproduksi dari festival musik saja. Selain itu, menurut sebuah laporan oleh Powerful Thinking, hampir 70% dari jumlah sampah tersebut berakhir di TPA

Sedangkan di Amerika Serikat, pengunjung festival musik diperkirakan menghasilkan 53.000 sampah setiap tahunnya, atau setara dengan berat 450 paus biru.

Upaya Merancang Konser Musik yang Lebih Minim Sampah

Meski begitu, sudah ada beberapa upaya yang dilakukan baik oleh promotor atau penyelenggara musik festival, serta pihak ketiga untuk mengurangi produksi sampah konser dan festival musik. 

Penyelenggaran Synchronize Festival misalnya, menghimbau penonton untuk membawa botol minum mereka sendiri. Sebagai gantinya, mereka menyediakan tempat refill air untuk mengisi botol minum yang dibawa pengunjung. 

Ada juga kampanye yang diinisiasi oleh sekelompok orang-orang peduli lingkungan yang intinya menghimbau pengunjung festival Isle of Wight di Inggris untuk membawa pulang tenda mereka setelah konser selesai. Kampanye ini berjudul “Love Your Tent” atau Cintai Tenda Anda. Tahun pertama kampanye membuahkan hasil. Dari 1.500 orang yang berkemah, hanya 18 tenda yang ditinggalkan. Selain itu, di festival Isle of Wright tahun 2018, dari 1.450 orang yang berkemah, tidak ada yang meninggalkan sampah atau tendanya. 

Usaha yang lebih holistik juga dilakukan oleh Live Nation beserta 61 anggota dari Asosiasi Festival Independen Inggris yang telah berkomitmen untuk melarang plastik sekali pakai di venue mereka di tahun 2021.

Bijak Kelola Sampah di Festival Musik 

Festival dan konser musik yang minim sampah bukanlah hal yang mustahil. Setidaknya kalaupun masih menghasilkan sampah, sampah yang ada dapat dikelola dan didaur ulang agar tidak berakhir di TPA. 

Semuanya dimulai dari si penyelenggara atau promotor festival musiknya sendiri, apakah mereka mau menetapkan aturan yang ketat soal produksi sampah, misalnya dengan menyediakan sanksi untuk pengunjung yang membuang sampah sembarangan, serta menyediakan tempat sampah terpilah dengan jumlah yang cukup di venue dan titik-titik strategis. Jika membutuhkan bantuan untuk mengelola sampah di venue konser atau festival musik, Anda juga bisa menggandeng Waste4Change sebagai partner pengelola sampah acara Anda. 

Waste4Change memiliki layanan Event Waste Management, yaitu layanan yang akan membantu mengelola sampah yang dihasilkan selama acara berlangsung. Layanan ini akan menyediakan penempatan tempat sampah terpilah di lokasi-lokasi strategis serta pengangkut terpilah selama acara berlangsung. Untuk info lebih lanjut, kunjungi w4c.id/EWM. 

Referensi 

  • https://www.finansialku.com/lalala-festival-2019/ 
  • https://hot.detik.com/music/d-4678466/apa-saja-upaya-promotor-kurangi-sampah-di-konser 
  • https://edm.com/opinion/environmental-impact-festivals 
  • https://www.theguardian.com/music/2015/jul/01/glastonburys-rubbish-green-ethos-ruin-festival-worthy-farm-tents 
  • https://edition.cnn.com/2019/06/25/world/plastic-waste-emissions-music-festivals-intl/index.html 

Related Post