Kode Merah Perubahan Iklim dan Manajemen Sampah

Red Sky Illustration – Source: Montescudaio/ Unsplash.com

Panel Ilmuwan Antar Negara soal Perubahan Iklim (IPCC) baru saja merilis laporan tentang seberapa parah perubahan iklim bumi yang sudah terjadi dan berhasil diobservasi. Laporan tersebut dibuat dengan menarik bukti-bukti melalui beberapa metode, mulai dari perolehan data tentang iklim purba (paleoclimate), simulasi iklim global dan regional, hasil observasi, serta dengan menganalisa lebih dari 14.000 publikasi ilmiah. 

Selain itu, laporan yang berjudul AR6 Climate Change 2021: The Physical Science Basis dari Working Group I IPCC dibuat oleh sebuah tim penulis yang terdiri dari 234 orang yang berasal dari 65 negara dan telah melalui proses tinjauan yang panjang sebelum akhirnya dirilis. 

Mengapa laporan IPCC ini penting untuk dipelajari? Karena laporan ini dibuat dengan menggunakan pengetahuan dan teknologi manusia yang paling mutakhir mengenai iklim dan bisa menyediakan data serta masukkan yang berharga untuk para pemangku kepentingan tentang apa yang harus mereka lakukan jika ingin mengerem krisis iklim sebelum semuanya terlambat.

Laporan IPCC dan Kode Merah Perubahan Iklim

Perubahan-perubahan iklim bumi yang berhasil diamati merupakan perubahan-perubahan yang kian meluas, terjadi secara cepat dan intensif, serta belum pernah terjadi dalam ribuan tahun lamanya. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian dari perubahan-perubahan tersebut, seperti misalnya kenaikan air laut, sudah tidak bisa dihentikan dalam ratusan tahun mendatang.

Beberapa hal yang harus digaris bawahi berdasarkan laporan IPCC tersebut antara lain:

Pemanasan Suhu Bumi yang Kian Cepat

Laporan AR6 mengungkapkan bahwa saat ini, permukaan bumi sudah memanas 1,1 derajat Celcius melebihi level pre-industrial, dan jika tidak ada tindakan yang transformasional, cepat, dan berskala besar, maka dalam 20 tahun berikutnya, temperatur global diperkirakan akan mencapai atau bahkan melebihi 1,5 derajat Celcius. 

Bahkan, jika kita tidak beralih dari jalur pembangunan yang intensif karbon seperti saat ini, suhu bumi bisa naik 3.3 sampai 5.7 derajat Celcius di akhir abad ini. Perlu diingat bahwa 20 tahun bukanlah waktu yang lama mengingat besarnya tugas kita untuk memperlambat perubahan iklim.   

Perubahan Iklim yang Dialami Setiap Wilayah

Perubahan iklim sudah mempengaruhi setiap wilayah di muka bumi dalam berbagai cara, dan fenomena bencana alam ekstrim yang kita saksikan di berita menjadi bukti bahwa krisis iklim ada di depan mata: kebakaran hebat di Yunani, Turki dan Australia, banjir bandang di Belgia, Jerman, dan Cina, gelombang panas di AS, hingga hilangnya 8 juta km2 bongkahan es di Arktik.

Apabila kenaikan suhu global mencapai 1,5 derajat Celcius, gelombang panas akan lebih sering terjadi, musim kemarau menjadi lebih panjang dan musim dingin menjadi lebih singkat. Selain itu, siklus air juga menjadi semakin intens, yang berdampak pada curah hujan yang lebih tinggi disertai dengan banjir. Laporan IPCC mengatakan bahwa hujan lebat yang biasanya hanya terjadi sekali dalam 1 dekade kini menjadi 30% lebih sering. Banjir di Jerman dan Belgia misalnya, merupakan hasil dari curah hujan selama 1 bulan yang turun dalam waktu 12 jam saja (CNN.com). 

Hal serupa juga berlaku untuk kekeringan, bahwa secara global, kekeringan yang biasanya terjadi sekali dalam 10 tahun kini menjadi 70% lebih sering. Sejatinya pemanasan global tidak tentang perubahan temperatur, tetapi bagaimana hal tersebut juga mempengaruhi fenomena lain seperti gelombang panas, kebakaran hutan, dan bahkan asidifikasi air laut.  

Manusia Sebabkan Akselerasi Perubahan Iklim

Sains sudah membuktikan bahwa pengaruh aktivitas manusia dalam perubahan iklim ini tidak bisa dielakkan. Emisi dari aktivitas seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi berdampak pada memanasnya iklim bumi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 2000 tahun terakhir. Dari total 1,1 derajat Celcius pemanasan, hanya 0.1 derajat yang disebabkan oleh kejadian alamiah. 

Meski begitu, manusia juga memegang peran penting dalam memperlambat dan mencegah kemungkinan terburuk dari krisis iklim di tahun-tahun serta dekade mendatang. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa karbon dioksida (CO2) adalah penyebab utama dari perubahan iklim, dan membatasi pelepasan CO2 ke udara secara cepat, konsisten, dan fundamental menjadi sebuah keharusan jika kita ingin membatasi pemanasan sebelum bumi semakin tidak layak ditinggali.      

Pengaruh Sampah Pada Perubahan Iklim

Sungai yang airnya tertutupi sampah plastik. Sumber: www.cardiff.ac.uk

Meskipun karbon dioksida merupakan penyebab utama perubahan iklim dan temperatur global, ada juga gas metana yang menjadi satu dari tiga gas rumah kaca yang dinamai Short-Lived Climate Pollutants (SLCPs).  

Artinya, gas metana hanya bertahan dalam waktu yang relatif singkat di atmosfer, akan tetapi dampaknya dapat terus dirasakan hingga beberapa tahun atau bahkan dekade ke depan. Sebagai contoh, dalam 20 tahun kedepan, gas metana dilaporkan menjadi 84 kali lebih berbahaya daripada CO2 dalam hal memerangkap panas di atmosfer. Dengan kata lain, setiap 1 ton gas metana menangkap panas yang setara dengan 84 ton gas karbondioksida. 

Bahkan, tempat-tempat pembuangan sampah (landfill) di Amerika Serikat setiap tahunnya mengeluarkan lebih dari 426 juta metrik ton gas metana yang setara dengan 124 pembangkit listrik tenaga batu bara jika diukur dalam jangka waktu 20 tahun (waste360.com). Karena itulah, membatasi emisi metana juga bisa menjadi salah satu cara strategis untuk memperlambat laju perubahan iklim, yang notabene bersumber dari pembusukan sampah organik yang menumpuk di TPA.   

Belum lagi soal plastik. Di tahun 2050, dimana jumlah produksi plastik diperkirakan menjadi tiga kali lipat, plastik akan bertanggung jawab terhadap 13% dari total ‘anggaran’ karbon bumi, atau setara dengan 615 pembangkit listrik. Peneliti memprediksi bahwa proses produksi dan pembakaran plastik di tahun 2021 saja berpotensi  mengeluarkan emisi gas rumah kaca sebanyak 850 juta ton ke atmosfer. Di tahun 2050, jumlah emisi tersebut bisa mencapai 2,8 miliar ton (WWF Australia).   

Menahan Laju Perubahan Iklim Lewat Pengelolaan Sampah yang Bertanggung jawab

Di sektor persampahan, kita memiliki banyak ‘PR’ dalam upaya mitigasi krisis iklim. Produksi sampah harus dipangkas dan sampah yang ada harus dikelola agar tidak berakhir di TPA. Semua ini harus dilakukan secara masif dan konsisten, tidak hanya di skala individu dan rumah tangga, tetapi industri, regional, dan global. 

Cara lain yang bisa ditempuh oleh pelaku industri dalam mengurangi dampak perubahan iklim ialah dengan menebus jumlah polusi yang mereka lepaskan ke lingkungan, baik dalam bentuk emisi maupun sampah, dengan sistem carbon credit dan waste credit
Dalam konteks waste credit, ada banyak perusahaan pengelolaan sampah yang merangkap sebagai konsultan sampah dan bisa membantu perusahaan untuk mencapai nol emisi sampah. Kita tengah berpacu dengan iklim yang terus memanas, dan kita harus memastikan bahwa setiap usaha yang kita lakukan berarti.

Baca artikel versi Inggris.

Related Post