Kenali Bahaya Sampah Kertas bagi Lingkungan

Kertas telah melekat dalam kehidupan sehari-hari manusia. Material kertas masih menjadi pilihan banyak orang dalam berbagai keperluan seperti untuk pencetakan dokumen, berita, buku, hingga packaging produk. Tingkat penggunaan kertas yang tinggi akan menimbulkan permasalahan jika sampah kertas tidak diiringi dengan sistem pengelolaan yang baik

sampah kertas
Sampah kertas yang menumpuk

Ancaman yang ditimbulkan oleh Industri Kertas 

Sebagai salah satu sektor industri terbesar di dunia, industri pulp dan kertas menimbulkan ancaman deforestasi bagi hutan. Dilansir dari World Wide Fund for Nature (WWF), sebesar 30-40% dari semua kayu industri global digunakan untuk memenuhi permintaan produk berbasis kertas, seperti kertas katalog kantor, buku, kertas glossy, tisu, hingga kemasan produk. 

Selain itu, industri pulp dan kertas menggunakan sumber daya alam lain yang cukup besar, seperti air. Menurut Environment Canada, untuk memproduksi 1 kg kertas dibutuhkan setidaknya 324 liter air. Bahkan kertas berukuran A4 yang keriting sekalipun telah menelan hingga 20 liter air selama proses produksinya. Dilansir dari Environmental Paper Network (2018), Industri pulp dan kertas di beberapa negara telah menggunakan 10% persediaan air tawar untuk memproduksi kertas.

Paper Waste
Paper Waste

Selama proses produksi, industri pulp dan kertas juga menghasilkan limbah. Bentuk limbah yang dihasilkan pun cukup beragam, dari limbah partikel padat, cair, hingga gas. Pengolahan limbah yang buruk dapat memberikan ancaman negatif ke lingkungan, seperti kandungan organik yang tinggi, partisi organik terklorinasi, patogen, abu, hingga jumlah jejak kandungan logam berat yang mengancam kesehatan manusia (Monte et al., 2009).

Sampah Kertas di Indonesia

Penggunaan kertas di berbagai sektor, seperti perkantoran dan sekolah, membuat kertas menjadi salah satu limbah yang banyak dihasilkan. Dikutip dari DLH Banjarmasin, sebuah kantor pemerintah dalam satu tahun dapat menghabiskan sekitar 500 rim kertas untuk mencetak dokumen, mencatat memo, dan membungkus surat. 

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) tahun 2020, setiap tahunnya Indonesia telah menghasilkan sampah sebanyak 34,5 ton dan 12 persen dari jumlah sampah tersebut adalah kertas. Sementara itu, sebanyak 43 persen limbah kertas masih belum terkelola. Padahal kebutuhan industri akan sampah kertas dan plastik mencapai 7,6 ton per tahunnya. 

Kebutuhan industri akan sampah kertas dan plastik tidak dapat terpenuhi karena proses pemilahan sampah di dalam negeri yang belum optimal. Kebanyakan sampah kertas berakhir menumpuk di TPA tanpa ada pengelolaan lebih lanjut. Hal tersebut tentunya dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang dapat mengganggu tatanan kehidupan di bumi. 

Apa Dampak yang Ditimbulkan Sampah Kertas? 

Menurut United Nation, di tahun 2018 sampah kertas telah mengambil 40% bagian di Tempat Pembuangan Akhir. Hal ini tentunya akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan berdampak pada kehidupan manusia. Sampah kertas sebenarnya dapat terurai dengan tanah. Namun, proses penguraian kertas biasanya memakan waktu 3-6 bulan tergantung dengan kondisi tanahnya.

Akan tetapi, proses penguraian kertas  tentu harus diawali dengan pemilahan. Tanpa pemilahan, sampah kertas dapat mempercepat terjadinya perubahan iklim. Kertas yang bersifat organik dapat bercampur dengan sampah tipe lain, yaitu anorganik. Hal tersebut akan membuat pembusukan berlangsung tanpa oksigen atau anaerob. Pembusukan yang berlangsung secara anaerob itu akan menghasilkan gas metana. Gas metana dapat mempercepat perubahan iklim karena memiliki kekuatan menangkap panas di atmosfer bumi 25 kali lebih kuat dibandingkan karbondioksida.

 pembusukannya tidak sempurna 

Cara mengurangi Timbulan Sampah Kertas

Meskipun jumlahnya masih dibawah sampah plastik, bukan berarti sampah kertas bisa diabaikan begitu saja. Terdapat beberapa cara untuk meminimalisir sampah kertas yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan menggunakan konsep Think+3R, yaitu sebagai berikut: 

  1. Think

Sebelum mencetak dokumen, hendaknya Anda mengeceknya untuk memastikan tidak ada yang salah dalam dokumen tersebut. Dengan begitu, jumlah limbah kertas yang terbuang akibat kesalahan cetak dapat diminimalisir. 

  1. Reduce

Anda bisa mengurangi jumlah limbah kertas dimulai dari diri sendiri dengan beralih pada gaya hidup “paperless”. Paperless sendiri adalah mengurangi penggunaan kertas seminimal mungkin dengan menyampaikan, merekam, menyimpan informasi menggunakan media elektronik daripada kertas. Dengan kemajuan teknologi, sekarang Anda dapat mencatat secara digital dan menyimpannya di perangkat elektronik ataupun cloud penyimpanan online. Anda juga dapat mengurangi jumlah limbah kertas dengan menggunakan kedua sisi kertas ketika mencetak dokumen. 

  1. Reuse 

Cara berikutnya untuk mengurangi timbulan kertas adalah dengan prinsip reuse atau menggunakan kembali. Anda bisa memanfaatkan kertas atau koran menjadi pembungkus kado. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan kardus bekas untuk menyimpan barang ataupun pembungkus produk ketika melakukan pengiriman.

  1. Recycle 

Pisahkan kertas dengan sampah organik dan anorganik lainnya agar tidak terkontaminasi air dan bahan organik, serta dapat didaur ulang dengan mudah. Kertas dapat diubah menjadi berbagai bentuk produk kertas baru, seperti kertas cetak, kardus baru, kartu ucapan, majalah, hingga bahan dekorasi.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak timbulan sampah kertas terhadap lingkungan.

Waste4Change menyediakan layanan Reduce Waste to Landfill yang membantu perusahaan Anda mengelola sampah sehingga tidak berakhir tercampur di Tempat Pembuangan Akhir. Individu juga bisa mengirimkan sampah kertas yang menumpuk di rumah melalui layanan Send Your Waste ke alamat Waste4Change yang tersedia.

Related Post