Getting to Know The Woman Behind Waste4Change’s Organic Waste Management Unit: Khairunnisa Humaam

Berkenalan Dengan Sosok Perempuan Di Balik Unit Pengolahan Sampah Organik Waste4Change: Khairunnisa Humaam

Namanya Khairunnisa Yusmalina Humaam, atau lebih sering dipanggil Khai. Sarjana Peternakan Universitas Gadjah Mada ini memiliki pekerjaan yang dapat dibilang unik dan mampu mendobrak stereotip gender tentang apa yang bisa dan tidak bisa ditekuni oleh seorang perempuan.

Pekerjaan tersebut ialah menjadi Kepala Unit Pengelolaan Sampah Organik di Waste4Change, sebuah startup yang bergerak di bidang pengelolaan sampah dengan cara yang bertanggung jawab. Dalam melakukan pekerjaan yang sehari-harinya berurusan dengan sampah, Khai tidak ambil pusing soal hal-hal remeh seperti bau dan kotoran, karena ia memiliki mimpi yang besar, dan ia tahu bahwa Waste4Change merupakan tempat yang tepat untuk membantu Khai mencapai mimpinya.  

Khairunnisa Yusmalina Humaam, Koordinator Unit Pengelolaan Sampah Organik Waste4Change

Yuk, simak wawancara kami dengan sosok perempuan hebat di balik Unit Pengolahan Sampah Organik Waste4Change!

Boleh diceritakan bagaimana awalnya Khai bisa bekerja di unit pengolahan sampah organik di Waste4Change? 

Dari sehabis kuliah aku punya mimpi untuk bekerja di perusahaan startup, tapi untuk bidangnya sendiri tidak ada preferensi yang spesifik. Setelah mencari informasi kesana kemari, akhirnya menemukan lowongan di Waste4Change untuk bagian pengolahan sampah organik, dan kebetulan kualifikasi pendidikannya sesuai karena aku dari jurusan Peternakan.

Khai sendiri sudah berapa lama bekerja di Waste4Change? Perubahan signifikan apa yang Khai rasakan saat awal bekerja dibanding dengan sekarang?

Sudah hampir tiga tahun, sejak 13 November 2017. Dulu itu tumpukan sampah di Rumah Kompos hanya ada tiga, tapi besar-besar sampai memenuhi pintu masuk.

Dulu gebrakan pertamanya itu memperluas lahan, karena dengan sampah yang sebanyak itu pengolahannya pun membutuhkan lahan yang luas. Selain itu alur pembuatan komposnya juga dibuat, ada beberapa pos seperti pos penyortiran dan pencacahan.

Contoh tumpukan sampah di Rumah Kompos

Sebelum ada BSF, metode yang dipakai untuk membuat kompos itu namanya metode open windrow. Selain itu untuk metode pembuatan kompos dengan menggunakan cacing (Vermicompost) dulunya ada, tapi sempat gagal dan aku harus mulai riset lagi. 

Lalu ketika sudah mulai bekerja, bagaimana perasaannya? Terutama karena pekerjaannya “mengurus sampah”, apakah ada rasa tidak nyaman atau keberatan?

Karena latar belakang aku di Peternakan, maka selama kuliah dan praktik aku sudah terbiasa berhadapan dengan kotoran hewan, jadi tidak jijik. Kalau masalah bau, antara bau sampah dan kotoran hewan itu tentunya berbeda, tetapi lagi-lagi karena sudah terbiasa, jadi aku hanya perlu membiasakan diri dengan bau sampahnya. 

Kalau dalam bekerja, Khai dibantu oleh siapa saja? Timnya ada berapa orang? 

Timku itu langsung operator sampahnya Waste4Change, dan aku membawahi 4 orang operator, tiga orang mengurus kompos dengan metode Open Windrow, dan satu orang mengurus metode Vermicomposting sekaligus Black Soldier Flies. Aku cukup senang dengan tim operator yang bekerja denganku karena mereka semua kooperatif dan punya banyak ide, sering memberi masukkan dan proaktif. 

Salah satu operator yang membantu Khai di Rumah Kompos

Lalu suka duka apa saja yang Khai hadapi selama mengurus unit pengolahan sampah organik di Waste4Change? 

Tantangan terbesarnya itu perihal bagaimana bisa mengimbangi antara produksi dan pemasaran/penjualan produk BSF serta kompos yang sudah matang. Kadang bingung harus fokus kemana, di satu sisi penjualan harus ditingkatkan agar pemasukannya pun semakin banyak, tapi di sisi lain  kondisi di lapangan tidak selalu ideal karena misalnya produksinya sendiri sedang ada masalah. 

Kalau soal teknis seperti membesarkan dan mengurus BSFnya itu aku sudah bisa, tapi bagaimana biar menciptakan hasil yang sebanyak-banyaknya dengan biaya sekecil-kecilnya. BSF sendiri juga kan sudah mulai banyak orang yang membudidayakan, nah tantangannya adalah apa yang membuat BSF yang aku urus ini berbeda dengan yang lain, dan disitulah aku harus terus berinovasi.

Untungnya supervisor aku, mas Andre, baik dan memiliki pembawaan yang santai. Hal ini mungkin terdengar sepele tapi pembawaan dia yang seperti itu membuat aku tidak tambah pusing masalah kerjaan.

Selain itu bekerja di Operational Service (OS) sendiri memang menyenangkan, aku bisa banyak belajar, aku punya laboratorium sendiri yang menjadi sarana aku untuk mengeksplorasi terobosan atau ide-ide baru untuk Unit Kompos.     

Perihal Black Soldier Flies, bagaimana asal mula Waste4Change mengadopsi sistem pengolahan sampah organik menggunakan BSF? Bagaimana proses pengimplementasiannya?  

Ide untuk mengadopsi Black Soldier Flies itu sebenarnya sudah ada dari sebelum aku bergabung di Waste4Change, akan tetapi karena saat itu sudah ada aku yang bertanggung jawab atas unit Pengolahan Kompos, maka barulah Waste4Change mengadopsi metode BSF untuk pengelolaan sampah organik.

Khai sedang melakukan transfer lalat yg ada di Dark Cage ke Love Cage

Pun fasilitas Waste4Change di Sidoarjo awalnya bernama Forward, sebuah tempat riset yang dimiliki oleh orang Swiss sebelum akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh Waste4Change. Awalnya Waste4Change hanya sebatas mengamati, sebagus apa metode BSF ini untuk pengelolaan sampah. Setelah dilihat bahwa prosesnya sudah berjalan dan memang bagus, barulah BSF itu diaplikasikan di Bekasi, sekitar 2 bulan setelah aku bergabung. 

Kalau Khai pribadi, bagaimana pendapatnya soal Black Soldier Flies? Baik dari segi potensinya sebagai pengurai sampah organik maupun dalam mengurus BSF itu sendiri? 

Jujur aku baru tahu tentang Black Soldier Flies itu saat di Waste4Change, tapi anehnya saat mulai mengurus BSF ini aku tidak takut untuk memegang larvanya langsung, padahal aku sendiri tipe orang yang cenderung takut terhadap hal baru, seperti saat awal kuliah dulu dimana aku diharuskan untuk memegang kotoran hewan.

Mungkin karena serangga BSF itu ibaratnya larva yang aku “pelihara” sendiri, dan aku tau asal usul dia dari mana, karena itulah aku tidak merasa geli atau jijik. Lain halnya dengan belatung atau kecoa misalnya. Aku tahu mereka itu asalnya dari mana, tinggalnya di tempat yang kotor, makanya aku merasa jijik.  

Khai sedang melakukan transfer lalat yg ada di Dark Cage ke Love Cage

BSF itu metode kompos yang paling efisien dan hemat tenaga. Penguraiannya lebih cepat, hanya didiamkan sebentar sudah langsung menyusut sampah organiknya. BSF juga merupakan usaha yang sangat menjanjikan, apalagi kalau misalnya punya ternak ikan lele atau punya lahan peternakan, karena BSF juga dapat digunakan untuk pakan ternak

Apa yang membuat Khai semangat untuk tidak sekadar bekerja, tetapi juga terus-terusan belajar dan berinovasi selama bekerja di Waste4Change?

Aku menganggap Unit Kompos ini sebagai rumah, masih banyak kekurangannya memang, tetapi justru disitulah tugas aku untuk membenahi sistem-sistemnya. Bekerja di Waste4Change merupakan sarana pembelajaran aku, bedanya aku bisa belajar sambil dibayar alias mendapatkan gaji.

Aku pribadi merasa tertantang, paling tidak dengan latar belakang pendidikan aku ini aku bisa beternak, bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk yang lain, jadi tidak berhenti pada diriku sendiri tapi juga untuk sesama

– KHAI

Selain itu, hal yang selalu aku tanam dalam pikiranku adalah perihal tanggung jawab, bahwa aku sudah diberi tugas di Unit Kompos ini, dan kalau kerjaan aku tidak beres atau ditunda-tunda nanti orang lain yang ikutan kena imbasnya. 

Perihal BSF, menurut aku ilmunya yang mahal, pun kalau nanti aku sudah tidak di Waste4Change aku sudah punya bekal.

Selain mengurus Black Soldier Flies, Khai juga sudah khatam dalam urusan mengompos. Anda bisa menyimak tutorial membuat kompos dari Khai dengan menggunakan Composting Bag Waste4Change di video berikut

1 2