Ekonomi Melingkar (Circular Economy) melalui Pengelolaan Sampah yang Bertanggung Jawab Bersama Waste4Change

Apa itu ekonomi melingkar?

Ekonomi melingkar atau (Circular Economy) bertujuan untuk menyimpan sumber daya dalam siklus yang tertutup.

Seperti yang sudah kita ketahui, sistem di alam sudah memiliki sistem yang melingkar. Nutrisi tanah dan energi matahari menumbuhkan tanaman, tanaman menjadi makanan binatang, binatang mati dan terurai, dan kembali menjadi nutrisi tanah.

Dalam sistem yang bisa dibilang sempurna tersebut, tidak ada sampah yang diproduksi. Namun, sistem ekonomi linier yang diterapkan manusia mengenalkan kita pada kultur yang boros.

Kita mengekstrak sumber daya alam, memproduksi barang, dan pada akhirnya membuang barang tersebut, tanpa berpikir panjang mengenai banyaknya potensi sumber daya yang kita buang ke TPA.

Sebagai ilustrasi, produk elektronik di era digital seperti sekarang ini terus berkembang dan berganti, dan konsumen sangat menyukai hal yang baru.

Hal tersebut tidak akan menjadi masalah jika barang elektronik lebih tahan lama, yang rusak diperbaiki, dan yang tidak bisa diperbaiki didaur ulang. Namun, kenyataannya seringkali tidak seperti ini. 

E-waste atau sampah elektronik menjadi masalah besar karena menimbulkan tumpukan sampah elektronik yang mengandung bahan beracun hingga bahan yang masih memiliki nilai (Gupta, 2012).

Untuk mengakhiri permasalahan ini, ekonomi melingkar adalah solusinya.

Seringkali kita melupakan bahwa produk yang kita buang seharusnya digunakan kembali sebagai modal untuk meningkatkan keuntungan ekonomi.

Finland’s Independence Celebration Fund (FICF) dan McKinsey (2014) memperkirakan bahwa ekonomi melingkar bisa menguntungkan ekonomi global hingga 1000 milyar US dolar setiap tahunnya.

Di Indonesia, diperkirakan sekitar 28.1 triliun rupiah hilang karena sistem pengelolaan sampah yang tidak efektif (Waste4Change, 2015).

Tiga pemain utama dalam ekonomi melingkar

Produsen

(Credit: Annie Spratt on Unsplash)

Ekonomi melingkar dimulai dari desain yang ditentukan oleh produsen. Produk yang tahan lama, dapat digunakan ulang, dapat diperbaiki, dapat dijadikan kompos dan dapat didaur ulang memang sengaja didesain seperti itu. Sehingga, tanpa desain yang tepat, produk atau kemasan akan lebih mungkin berakhir di TPA.

Konsumen

(Credit: Rawpixel on Unsplash)

Tahap selanjutnya dalam kehidupan suatu produk dikontrol oleh konsumen.

Konsumen menentukan jika barang-barang ramah lingkungan diinginkan oleh pasar, jika produk dijaga dengan baik agar tahan lama, jika barang yang rusak diperbaiki melainkan dibuang, dan jika barang dibuang secara bertanggung jawab.

Sebagai konsumen ekonomi melingkar, semua keputusan tersebut harus berdasarkan pada prioritas untuk menyimpan sumber daya alam dalam siklus yang tertutup.

Aksi-aksi sederhana bisa menghasilkan perubahan dalam ekonomi. Kurangi pembelian barang, pilah sampah dan terapkan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab untuk menjadi bagian dari ekonomi melingkar.

Sektor Daur Ulang

(Credit: Waste4Change)

Di akhir kehidupan suatu produk, sektor daur ulang memiliki peran penting dalam menyediakan jasa pengelolaan sampah. Inovasi baru sangat penting di sektor ini karena saat ini mayoritas sampah yang dihasilkan masih belum diolah.

Hal ini adalah masalah besar terutama bagi negara berpenghasilan rendah, dimana hanya 4% sampah yang diolah (World Bank) akibat kurangnya fasilitas pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

Waste4Change bertekad untuk menjadi solusi dari permasalahan ini dengan menyediakan jasa pengelolaan sampah di Indonesia. Salah satu program utama Waste4Change adalah program Zero Waste to Landfill (ZWTL), dimana 100% sampah klien dialihkan dari TPA.

Perbedaan ekonomi melingkar dan ekonomi linier

Perbedaan antara ekonomi melingkar dan ekonomi linier terletak pada nasib suatu produk di akhir hidupnya. Dalam ekonomi linier, produk ditakdirkan untuk dibuang.

Sehingga produsen terus menerus mengambil sumber daya alam untuk menghasilkan produk baru, dengan asumsi bahwa sumber daya alam tersebut tak terbatas.

Dengan mengabaikan nilai dari barang-barang yang dibuang, kekayaan suatu negara dapat terkuras.

Sebaliknya, ekonomi melingkar memperhitungkan nilai suatu materi sejak fase desain. Sebanyak mungkin material yang digunakan dikembalikan legi menjadi bahan mentah untuk produksi baru.

Namun, di Indonesia hal ini masih dalam proses penerapan. Menurut Sustainable Waste Indonesia (SWI), dari 65 juta ton sampah yang dihasilkan di Indonesia setiap hari, 69% berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Lalu, sekitar 20% dari sampah yang dihasilkan terabaikan di ekosistem, dan hanya 7% yang didaur ulang (CNN Indonesia, 2018).

Melalui program Indonesia Bersih Sampah 2025, pemerintah Indonesia berusaha untuk mengurangi produksi sampah hingga 30% dan mengelola setidaknya 70% dari sampah yang dihasilkan di Indonesia. Program ini diharapkan bisa mendukung Indonesia dalam mencapai ekonomi melingkar.

Contoh perusahaan besar yang beralih ke ekonomi melingkar

Ekonomi melingkar bukan hanya teori tertulis saja. Beberapa perusahaan besar, mulai dari industri mode, kuliner, hingga elektronik sudah menerapkan konsep ekonomi melingkar dalam bisnisnya.

Levi Strauss & Co.’s closed loop system.
(Credit: Levi Strauss & Co.)

Levi Strauss & Co., perusahaan dibalik terciptanya blue jean, sudah memprioritaskan keberlanjutan lingkungan selama tiga dekade. Perusahaan ini sudah mengembangkan beberapa strategi, termasuk membuat koleksi Waste<Less™, dimana 20% bahan yang digunakan untuk membuat produk-produk dari koleksi tersebut adalah botol plastik yang didaur ulang.

Mereka juga membuat sistem bagi konsumen yang ingin mengembalikan pakaian lama mereka untuk digabungkan ke dalam produksi pakaian baru.

The 111 Navy chair made of 111 plastic bottles.
(Credit: Emeco)

Terbilang ambisius, Coca-Cola memiliki target untuk membuat seluruh kemasan produk mereka 100% dapat didaur ulang pada tahun 2025 dan membuat kemasan yang 50% materialnya adalah bahan hasil daur ulang pada tahun 2030, sebagai bagian dari visi mereka yaitu ‘World Without Waste’ (dunia tanpa sampah).

Lalu, Coca-Cola juga pernah berkolaborasi dengan Emeco, yang merupakan perusahaan desain kursi, sejak 2010 untuk mendaur ulang botol Coca-Cola menjadi kursi berkualitas tinggi. Setelah lima tahun program ini diluncurkan, 15 juta botol dialihkan dari TPA.

Dell’s closed loop recycling system.
(Credit: Dell)

Dell percaya bahwa ‘sumber daya yang terbuang adalah uang yang terbuang’. Salah satu insentif dari Dell untuk beralih ke ekonomi melingkar adalah dengan membentuk siklus tertutup dalam mendaur ulang plastik.

Dell menggunakan plastik yang didaur ulang dari produk lama dalam produksi produk baru mereka. Selain mengurangi dampak lingkungan, dengan menggunakan plastik hasil daur ulang, biaya produksi juga berkurang.

Sebuah riset menunjukkan bahwa hal ini meningkatkan modal alami yang bernilai 1.3 juta dolar setiap tahunnya.

Dalam industri kuliner, Silo Restaurants di Inggris adalah contoh yang bagus dalam implementasi ekonomi melingkar. Semua bahan makanan yang mereka gunakan berasal dari petani  terpilih yang memiliki pemahaman yang sama mengenai keberlanjutan lingkungan.

Mereka mengirim dan mengolah makanan dengan hati-hati untuk meminimalisir sampah yang dihasilkan, dan sampah yang dihasilkan langsung dijadikan kompos melalui fasilitas mereka yang bisa membuat 60 kg kompos dalam 24 jam.

Komitmen mereka tidak berhenti di proses pengolahan makanan saja. Mebel yang mereka gunakan terbuat dari barang-barang upcycle. Meja mereka berasal dari ubin lantai pabrik, piring mereka berasal dari kantong plastik dan gelas mereka berasal dari stoples kaca.

Terakhir, Energizer mengambil tindakan dalam meraih solusi untuk baterai yang diketahui sulit untuk didaur ulang.

Mereka membuat produk baterai Energizer Recharge yang bisa diisi ulang dengan listrik sehingga konsumen tidak perlu terus-menerus membeli baterai baru dan membuangnya.

Kelebihan lain dari produk ini adalah bahan dasarnya yang mengandung baterai yang didaur ulang.

Indonesia Circular Economy Forum (ICEF): Membentuk ulang ekonomi Indonesia

Sebagai nergara dengan ekonomi terbesar ke 16 di dunia (Investopedia), sudah seharusnya Indonesia memulai transisi ke ekonomi melingkar.

Pertumbuhan ekonomi yang cepat berarti akan ada lebih banyak produk dan jasa yang akan dihasilkan oleh penduduknya.

Jika hal ini tidak dipantau dan dikelola dengan benar, sumber daya alam yang terus berkurang dan produksi sampah yang berlebihan akan menjadi akibatnya.

Indonesia Circular Economy Forum 2017
(Credit: Waste4Change)

Circular Economy Forum (CEF) yang pertama kali diadakan pada tahun 2017 oleh Waste4Change bersama Greeneration Foundation, PT Napindo Media Ashatama, Kamar Dagang Industri (KADIN), Ikatan Alumni Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (IATL ITB), Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, dan Packaging Recycling Alliance for Sustainable Indonesia (PRAISE) menandai awal yang positif dalam perjalanan Indonesia beralih ke ekonomi melingkar.

Forum ini diselenggarakan di JCC Senayan, Jakarta pada tanggal 12 Juli 2017 dan menjadi wadah bagi berbagai pemegang kebijakan, termasuk pemerintah, bisnis, institusi dan organisasi, untuk mendiskusikan potensi Indonesia dalam mencapai ekonomi melingkar.

Dua topik utama yang dibahas di CEF 2017 adalah ‘Post-consumer Packaging Strategy’ dan ‘Circular by Design – Innovation for Green Product’, yang terfokus pada peran desain produk dalam ekonomi melingkar.

Indonesia Circular Economy 2018.
(Credit: Waste4Change)

Forum yang kedua, Circular Economy Forum (CEF) 2018, diselenggarakan pada 28-30 Juni 2018 di Grand City Convex Surabaya, dengan tema “Redefining Waste Management: from Trash to Resources Management”.

Diikuti oleh lebih dari 500 peserta, CEF 2018 menghasilkan hasil diskusi yang meliput visi Indonesia dalam pengelolaan sampah, kebijakan hukum, pendanaan, pemberdayaan masyarakat dan beberapa isu lainnya yang sangat penting dalam mencapai ekonomi melingkar.

Rangkuman laporan dari Circular Economy Forum 2018 dapat diunduh melalui link berikut: https://bit.ly/2REygEP.

Untuk yang ketiga kalinya, Waste4Change akan menyelenggarakan forum yang akan datang, yang sekarang bernama Indonesia Circular Economy Forum (ICEF), pada tahun 2019.

Tema ICEF tahun ini adalah ‘Redefining Waste Management’ (mengulas ulang definisi pengelolaan sampah) dengan beberapa objektif, yaitu untuk mendorong komitmen berbagai pemegang kebijakan dalam melaksanakan ekonomi melingkar, mepromosikan pembelajaran yang kolaboratif antara pembuat keputusan untuk meningkatkan pengetahuan antar sektor, serta memberikan kesempatan agar perserta dapat berkolaborasi untuk menyebarkan ide mengenai ekonomi melingkar.

Wast4Change berkomitmen untuk mendukung Indonesia beralih ke ekonomi melingkar.

Waste4Change menyediakan jasa-jasa yang sesuai dengan prinsip ekonomi melingkar, yaitu untuk merestorasi nilai materi yang dibuang, baik organik maupun tidak.

Seluruh jasa yang ditawarkan Waste4Change bertujuan untuk mengalihkan sampah dari TPA, sehingga mengalihkan sumber daya yang berharga agar tidak sia-sia.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Waste4Change memiliki program Zero-Waste to Landfill (ZWTL) yang memastikan sampah klien 100% diolah dan dialihkan dari TPA.

Seperti pelaksanaan ekonomi melingkar, Waste4Change butuh konsumen untuk berkooperasi dengan cara memilah sampah berdasarkan jenisnya untuk menciptakan proses daur ulang yang efisien.

Lalu, Waste4Change juga mendukung program pemerintah Indonesia Bersih Sampah 2025 yang bertujuan untuk mengurangi produksi sampah dan meningkatkan porsi sampah yang diolah.

Membutuhkan jasa pengangkutan sampah yang bertanggung jawab dan terpilah? Hubungi kami untuk mengetahui lebih lanjut jasa yang cocok untuk Anda.

English version read HERE.

Sumber:

  • https://www.weforum.org/about/circular-economy-videos
  • https://www.thetalkingthread.com/a-circular-economy/
  • https://www.climate-kic.org/opinion/consumers-play-decisive-role-in-shift-towards-circular-economy/
  • https://www.ijser.org/paper/E–Waste-A-Global-Problem-and-related-issues.
  • htmlhttps://www.researchgate.net/profile/Jouni_Korhonen2/publication/318385030_Circular_Economy_The_Concept_and_its_Limitations/links/5a53e343a6fdccf3e2e28b99/Circular-Economy-The-Concept-and-its-Limitations.pdf
  • http://www.silobrighton.com/
  • https://www.rubiconglobal.com/blog-5-creative-companies-circular-economy/
  • https://www.greenbiz.com/article/8-companies-watch-circular-economy
  • https://www.vogue.co.uk/gallery/best-zero-waste-restaurants
  • https://levistrauss.com/sustainability/products/wasteless/
  • https://www.dell.com/learn/us/en/uscorp1/corp-comm/circular-economy?c=us&l=en&s=corp
  • https://www.energizer.com/responsibility/battery-recycling
  • https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2018/09/20/global-waste-to-grow-by-70-percent-by-2050-unless-urgent-action-is-taken-world-bank-report
  • https://www.coca-colacompany.com/stories/unpacking-cokes-bold-new-sustainable-packaging-vision
  • https://www.emeco.net/collaborations/coca-cola

Related Post