Begini Cara Pemilahan Sampah Medis B3 sesuai Klasifikasinya

Setelah mengalami pandemi COVID-19, volume sampah medis melonjak secara signifikan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan bahwa sejak Maret 2020 hingga Juni 2021, Indonesia menghasilkan setidaknya 18.460 ton limbah medis kategori bahan berbahaya dan beracun (B3). 

Apa yang Dimaksud Sampah Medis?

Sampah medis adalah bagian dari limbah yang dihasilkan di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, praktik kedokteran, bank darah, serta laboratorium. Sampah medis ini termasuk ke dalam kategori B3. 

sampah medis
Sampah medis di Anantapur-Chennai highway

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) merupakan zat, energi, dan/atau komponen lain yang dapat mencemarkan, merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain. Definisi tersebut tercantum dalam UU RI No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Dalam hal ini, limbah medis mungkin telah terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh atau bahan lain yang berpotensi untuk menular. Jika tidak dilakukan pengelolaan yang benar, limbah medis dapat membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. 

Beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan akibat limbah medis yang tidak terkelola dengan baik adalah cedera, infeksi virus dan bakteri, kontaminasi dan paparan racun, terlepasnya zat merkuri dan dioksin ke udara, serta pencemaran lingkungan. 

Klasifikasi Sampah Medis 

Fasilitas pelayanan kesehatan menghasilkan limbah berupa limbah cair, limbah gas dan limbah padat. Limbah padat yang dihasilkan ada yang bersifat non medis dan medis. Limbah medis yang dihasilkan ini juga merupakan limbah B3. Berdasarkan Permen LHK No. 56/2015, sampah B3 medis dikategorikan menjadi: 

  1. Limbah Infeksius

Limbah infeksius merupakan limbah yang terkontaminasi organisme patogen. Patogen berada dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan. 

Adapun beberapa contoh dari kelompok limbah infeksius adalah darah, cairan tubuh, limbah laboratorium yang bersifat infeksius, limbah yang berasal dari kegiatan isolasi, dan limbah yang berasal dari kegiatan yang menggunakan hewan uji.

  1. Limbah Patologi

Limbah patologis adalah Limbah berupa buangan selama kegiatan operasi, otopsi, dan/atau prosedur medis lainnya termasuk jaringan, organ, bagian tubuh, cairan tubuh, dan/atau spesimen beserta kemasannya. 

  1. Limbah Benda Tajam

Limbah benda tajam merupakan sampah yang dapat menusuk dan/atau menimbulkan luka dan telah mengalami kontak dengan agen penyebab infeksi, seperti jarum hipodermis, jarum intravena, vial, lancet, syringe, pipet pasteur, kaca preparat, skalpel, pisau, dan kaca.

  1. Limbah Farmasi

Limbah farmasi merupakan limbah yang dihasilkan dari instalasi farmasi misalnya obat kadaluarsa, obat terkontaminasi. 

  1. Limbah Sitotoksis

Limbah ini merupakan bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh dan/atau menghambat pertumbuhan sel hidup. 

  1. Limbah Kimiawi 

Limbah kimia dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan medik, veteriner, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset. 

  1. Limbah Radioaktif

Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radioisotop yang berasal dari penggunaan medik atau riset radionuklida. Limbah ini dapat berasal antara lain dari tindakan kedokteran nuklir, radioimmunoassay, dan bakteriologis dapat berbentuk padat, cair, atau gas. 

  1. Limbah Kontainer Bertekanan

Limbah kontainer bertekanan merupakan limbah dari kegiatan yang menggunakan tabung bertekanan, contohnya limbah tabung gas. 

  1. Limbah Dengan Kandungan Logam Berat yang Tinggi

Limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi maksudnya adalah limbah B3 yang memiliki atau mengandung logam berat contohnya termometer merkuri dan Sphygmomanometer merkuri.

Cara Mengelola Sampah Medis

Sifat limbah medis yang berbahaya dan beracun, membuatnya perlu proses pengelolaan yang cermat. Setiap orang atau pelaku usaha yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan terhadap limbah B3 yang dihasilkannya. 

Metode pengelolaan sampah medis dengan autoclaving. Sumber: blog.veolianorthamerica.com

Dalam tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, limbah medis memiliki pengelolaan yang berbeda. Menurut PP No.22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, proses pengelolaan limbah B3 terdiri dari penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan. 

  1. Penyimpanan 

Limbah B3 perlu disimpan di fasilitas penyimpanan yang telah ditentukan. Menyimpannya pun harus menggunakan kemasan, label, dan simbol yang sesuai dengan kelompok limbah. Adapun pembagiannya sebagai berikut. 

  1. Merah, untuk limbah radioaktif
  2. Kuning, untuk limbah infeksius dan limbah patologis
  3. Ungu, untuk Limbah sitotoksik
  4. Cokelat, untuk limbah bahan kimia kedaluwarsa, tumpahan, atau sisa kemasan, dan limbah farmasi.
  1. Pengumpulan

Limbah harus dihindari terakumulasi pada tempat dihasilkannya sehingga perlu dilakukan pengumpulan setempat (on-site). Kantong limbah harus ditutup atau diikat secara kuat apabila telah terisi 3/4 (tiga per empat) dari volume maksimalnya. 

Selanjutnya limbah medis akan melalui pengangkutan insitu. Proses ini merupakan pengangkutan limbah pada lokasi fasilitas pelayanan kesehatan ke tempat penampungan sementara. 

Pengangkutan ini dapat menggunakan troli atau wadah beroda. Alat pengangkutan limbah harus mudah dibongkar-muat, troli atau wadah yang digunakan tahap goresan limbah benda tajam, dan mudah dibersihkan.

  1. Pengangkutan 

Pengangkutan Limbah B3 wajib menggunakan alat angkut yang telah ditetapkan setelah melalui proses perizinan. Paling tidak dalam proses pengangkutan terdapat informasi mengenai kode manifest limbah B3, nama, sumber, karakteristik, dan jumlah Limbah B3 yang akan diangkut, identitas pengirim limbah B3, pengangkut dan Penerima Limbah B3, serta alat angkut Limbah B3.

  1. Pemanfaatan 

Pemanfaatan adalah memaksimalkan alat medis yang dapat digunakan kembali (reuse) untuk meminimalisir limbah. Adapun yang dapat digunakan kembali adalah skalpel dan botol/kemasan dari kaca. 

Setelah digunakan, peralatan tersebut harus dikumpulkan secara terpisah dari limbah yang tidak dapat digunakan kembali, dicuci dan disterilisasi menggunakan peralatan atau metode yang telah disetujui atau memiliki izin seperti autoklaf. 

  1. Pengolahan 

Pengolahan Limbah B3 dilakukan oleh pengolah yang telah memiliki izin. Pengolahan limbah medis B3 dilakukan dengan metode termal yang dilakukan menggunakan peralatan autoklaf tipe alir gravitasi dan/atau tipe vakum, gelombang mikro, radiasi frekuensi radio, dan/atau insinerator

  1. Penimbunan 

Penguburan Limbah B3 hanya dapat dilakukan untuk limbah patologi dan benda tajam. Daerah penimbunan diberikan pagar pengaman dan papan penanda kuburan Limbah B3.

Setiap kegiatan pengelolaan sampah medis B3 harus memiliki izin dikeluarkan oleh Bupati/Walikota, Gubernur, atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini dilakukan untuk memastikan pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan tepat dan mempermudah pengawasan. 

WasteChange menyediakan model edukasi untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan, terutama mengenai pengelolaan sampah yang baik dan bertanggung jawab. Melalui AKABIS Waste Management Academy, peserta akan melihat lebih dekat dunia pengelolaan sampah, berbasis pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman di seluruh Indonesia melalui 3 program utama, yaitu: AKABIS Class, AKABIS Workshop, dan AKABIS Xperience. Cari tau selengkapnya di sini.

Related Post