Bahaya Pengelolaan Sampah Open Dumping
Sampah yang dihasilkan oleh manusia setiap harinya akan berakhir di tempat pembuangan. Menurut Undang-Undang No. 18 tahun 2008, sebelum sampah diangkut ke tempat pengelolaan atau tempat pendauran ulang, maka terlebih dahulu akan ditampung di Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Namun, tidak semua sampah dari TPS harus diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pemilahan sampah yang dilakukan di TPS justru dapat mengurangi jumlah sampah yang dibawa ke TPA. Di TPA, sampah akan diproses dan dikembalikan ke media lingkungan secara aman dengan beberapa metode.
Macam-macam Sistem Pengelolaan Sampah
Terdapat beberapa metode untuk tempat pengelolaan sampah, di antaranya yaitu:
- Sanitary Landfill: sistem pengelolaan sampah melalui cara menumpuk sampah di lokasi tanah yang berbentuk cekung, kemudian dipadatkan, dan ditimbun dengan tanah. Penutupan ini dilakukan agar mengurangi bau yang ditimbulkan sampah dan mempercepat pembusukan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau lebih cepat. Untuk menggunakan metode ini, harus memenuhi beberapa syarat, yaitu: tersedianya lahan atau tempat yang luas, tanah untuk menimbun, dan alat-alat besar.
- Controlled Landfill: sistem pengelolaan sampah melalui cara memadatkan dan meratakan sampah menggunakan alat berat, kemudian dilapisi dengan tanah setiap lima hari sampai seminggu sekali. Cara ini dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan, kestabilan permukaan TPA, mengurangi bau dan timbulnya gas metana, serta mencegah tempat pembuangan sampah menjadi perkembangbiakkan hewan lalat. Dalam menggunakan metode ini, diperlukan ketersediaan beberapa fasilitas, seperti: alat berat, pengendali gas metana, saluran drainase, saluran pengumpul air lindi dan instansi pengolahannya, juga pos pengendalian operasional.
- Open Dumping: sistem pengelolaan sampah di tanah cekungan yang terbuka tanpa ditutup atau dilapisi dengan tanah. Cara ini dianggap sederhana karena memanfaatkan topografi lahan.
Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sampah, pembuatan TPA harus memenuhi beberapa syarat, yaitu tidak dekat dengan sumber air yang digunakan untuk kebutuhan manusia, bukan di daerah rawan bencana banjir, dan jauh dari tempat tinggal manusia (berjarak sekitar 2 km dari perumahan penduduk).
Apa itu Pengelolaan Sampah Open Dumping
Dari ketiga metode pengelolaan sampah, open dumping adalah metode yang dinilai lebih banyak memberikan dampak negatif dan membahayakan. Open dumping tidak lagi direkomendasikan karena kondisinya yang tidak lagi memenuhi syarat teknis suatu TPA sampah berdasarkan peraturan pemerintah.
Metode Open Dumping yang berupa tanah cekungan terbuka dinilai membahayakan karena sampah dibuang begitu saja dalam sebuah tempat pembuangan akhir tanpa proses apapun, ataupun penutupan tanah.
Oleh karena itu, Pemerintah membentuk sistem controlled landfill yang merupakan peningkatan dari open dumping. Polanya dilakukan dengan penimbunan sampah dengan lapisan tanah setiap tujuh hari, dan pemadataan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukan TPA. Umumnya, metode ini banyak di kota sedang dan kecil.
Bahaya Pengelolaan Sampah Open Dumping
Air dan tanah dapat tercemar, disebabkan oleh cairan lindi dan gas metana, karbon dioksida, amoniak, hidrogen disulfida, dan lainnya. Zat-zat tersebut dapat menimbulkan reaksi biokimia hingga terjadi ledakan dan kebakaran. Selain itu, tempat pembuangan sampah yang tidak ditutup ini menjadi sarana perkembangbiakkan hewan-hewan seperti lalat, tikus, nyamuk, dan kecoa.
Sejak tahun 2013, sistem pembuangan terbuka atau open dumping sudah dilarang penggunaannya. Hal ini terdapat dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2008 pasal 44 dan 45 yang menyatakan bahwa TPA harus menerapkan sistem sanitary landfill dan controlled landfill.
Selain itu, metode open dumping dapat mengancam kualitas udara yang berdampak pada kesehatan dan mendorong perubahan iklim akibat gas metana yang dihasilkan. Namun, sistem ini tetap dibutuhkan karena dapat mengurangi limbah dari sumbernya, mengolah lebih lanjut limbah yang menghasilkan residu, dan menangani limbah yang sulit terurai secara biologis atau kimia. Isolasi perlu dilakukan agar dapat mencegah permasalahan sampah yang ditimbulkan dengan metode ini.
