Apa Itu Sampah Anorganik dan Mengapa Harus Dipisahkan dari Sampah Organik

Istilah organik dan anorganik sudah bukan kata yang asing. Dua kata ini seringkali identik dengan hal berkaitan biologi dan kimia.

Sampai pada saat ini, istilah organik kerap dihubungkan dengan produk makanan yang seakan-akan menggambarkan kalau produk tersebut alami dan tidak mengandung bahan kimia. Disebut terjamin alami dan sehat.

Melansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), organik artinya berkaitan dengan zat yang berasal dari makhluk hidup, berhubungan dengan organisme hidup, atau sesuatu yang ditanam atau dipelihara tanpa menggunakan bahan kimia sintetis.

Sedangkan anorganik adalah sebaliknya. Anorganik yaitu mengenai atau terdiri atas benda selain manusia, tumbuhan, dan hewan (benda tak hidup).

Perbedaan Sampah Organik dan Anorganik (Non Organik)

Tidak hanya kerap disandingkan dengan makanan, dua istilah ini juga kerap digunakan dalam urusan sampah, seperti sampah organik dan sampah anorganik.

Pengertian sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup.

Sedangkan pengertian sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari benda tak hidup.

sampah anorganik plastik
Contoh sampah anorganik yaitu plastik

Jika sampah organik bisa terurai atau istilahnya ‘biodegradable’, berbeda dengan anorganik yang tidak memiliki sifat biodegradable tersebut.

Sampah anorganik seperti plastik tidak memiliki sifat itu karena tidak mengandung karbon. Di mana, karbon atau zat arang adalah unsur kimia yang berperan penting dalam proses penguraian.

Contoh sampah anorganik

Diantara contohnya: botol plastik, gelas plastik, sendok sekali pakai, kaleng, dan wadah kemasan plastik sekali pakai lainnya. Sedangkan sampah organik berupa sisa potongan buah, kulit sayur, kulit buah, tisu, kardus dan lainnya.

Jumlah Sampah Anorganik dan Organik di Indonesia

sampah ogranic
Sampah organik yang berakhir di TPA dapat merusak lingkungan dan mengganggu kesehatan. (Source: Jenna Z from Sprouting Free)

Melansir data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah organik menjadi salah satu jenis sampah paling banyak dihasilkan di Indonesia. Bahkan jumlahnya mencapai 28,3 persen dari jumlah timbulan sampah 21,53 juta ton di awal tahun 2022.

Sedangkan untuk sampah anorganik berjumlah 35,62 persen, hasil gabungan dari sampah plastik 15,73 persen, logam 6,86 persen, kain 6,57 persen dan kaca sebanyak 6,46 persen.

Dari jumlah sampah-sampah itu, masih bersisa 33,49 persen yang belum terkelola dengan baik.

Ditambah lagi dengan sistem pengelolaan sampah di Indonesia yang masih kurang efektif. Kebanyakan dari sampah yang dihasilkan, dibuang di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) atau hanya tertumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) hingga menggunung.

Dampak Mencampur Sampah Organik dan Anorganik

Jumlah sampah organik dan anorganik ini akan terus meningkat jika tidak dikelola dengan baik dan benar.

Jika Anda pernah melewati tempat pembuangan sementara di banyak kawasan perkotaan di Indonesia, masih tampak gunungan sampah yang menimbulkan bau juga tak sedap dipandang.

Tidak hanya semakin menumpuk, sampah-sampah ini juga mencemari lingkungan. Terlebih jika sampah-sampah ini tidak dipilah terlebih dahulu dan hanya dibuang di satu tempat yang sama.

Berikut dampak membuang sampah anorganik bercampur dengan sampah organik:

  1. Tiga Unsur Kehidupan Tercemar

Tiga unsur kehidupan itu adalah air, udara dan tanah. Ketiganya bisa saja tercemar jika terpapar tumpukan sampah.

Sampah organik yang ditumpuk begitu saja bersama sampah anorganik tanpa ada udara, dapat mengeluarkan gas metana dan cairan beracun yang dapat memengaruhi kualitas air dan tanah.

Belum lagi bau sedap yang ditimbulkan dari tumpukan sampah itu. Begitu pula sampah anorganik yang dibuang sembarangan, seperti plastik, kaca dan logam. Dalam jangka panjang, sampah-sampah ini bisa membuat kondisi air dan tanah tercemar.

  1. Mengancam Keberlangsungan Hidup Makhluk Hidup

Jika tiga unsur penting dalam kehidupan tersebut tercemar, makhluk hidup (manusia, tumbuhan dan hewan) juga akan merasakan dampak buruknya. Itu karena para makhluk hidup ini masih menggantungkan kehidupannya pada tiga unsur tersebut.

Apa jadinya jika air yang biasa dikonsumsi tercemar, bagaimana jika tanah tak lagi subur dan tumbuhan tak lagi bertumbuh? Ancaman ini datang dari perilaku manusia yang kurang bijak dalam memperlakukan sampahnya, baik sampah organik maupun sampah anorganik.

  1. Memiliki Efek Jangka Panjang yang Serius

Jika dua dampak di atas terjadi, maka bukan hal yang mustahil jika bumi semakin tak sehat dan keberadaan makhluk hidup di dalamnya terancam.

Elizabeth Kolbert menyebutnya sebagai ‘Kepunahan Keenam’, kepunahan yang mengancam karena proses sejarah yang tak alami atau tidak organik.

Mengetahui ada banyak dampak buruk akibat sampah, manusia harus segera mengubah pola pikirnya dalam mengelola sampah.

Salah satu cara mudah agar dampak itu teratasi adalah dengan memilah sampah organik dan sampah anorganik.

Cara ini mungkin terdengar sepele, tetapi kenyataannya dapat memberi dampak yang cukup besar. Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk membuat kompos dan eco-enzyme sedangkan sampah anorganik bisa didaur ulang sendiri atau dikirimkan ke Waste4Change, perusahaan yang berfokus pada daur ulang.

Dengan begitu, tumpukan sampah di TPS dan TPA akan berkurang, sedangkan sampah-sampah yang dihasilkan masih bisa memberikan manfaat dan memiliki nilai guna lagi. 

Related Post