A Solution to Reduce Organic Waste: Food Prep

Solusi Kurangi Produksi Sampah Organik: Food Prep

Klik untuk mengunduh lembar Tips Menyimpan Bahan Makanan Agar Tahan Lama yang bisa dicetak (terbaik dicetak di ukuran kertas A3 landscape)

Page 1 of Tips Menyimpan Bahan Makanan Waste4Change
Page 1 of Tips Menyimpan Bahan Makanan Waste4Change

Cara menyimpan daging dan produk Makanan Laut Segar

Waste4Change Food Prep - Cara Menyimpan Daging dan Produk Makanan Laut Segar
Waste4Change Food Prep – Cara Menyimpan Daging dan Produk Makanan Laut Segar

Cara Menyimpan Sayur-sayuran dan Palawija Segar

Cara Menyimpan Sayur-sayuran dan Palawija Segar
Cara Menyimpan Sayur-sayuran dan Palawija Segar

Cara Menyimpan Bumbu Dapur Segar

Waste4Change Food Prep: Cara Menyimpan Bumbu Dapur
Waste4Change Food Prep: Cara Menyimpan Bumbu Dapur

Cara Menyimpan Tahu, Tempe dan Lain-lain

Waste4Change Food Prep: Cara Menyimpan Tahu, Tempe, dan Lain-lain
Waste4Change Food Prep: Cara Menyimpan Tahu, Tempe, dan Lain-lain

Cara menyimpan Buah-buahan

Waste4Change Food Prep: Cara Menyimpan Buah-Buahan
Waste4Change Food Prep: Cara Menyimpan Buah-Buahan

60 Persen Sampah Penduduk Indonesia adalah Sampah Organik (KLHK, 2017)

Sampah organik seperti daging, buah, dan sayur merupakan jenis sampah yang relatif lebih cepat membusuk dibanding jenis sampah lainnya.

Sampah organik memang berbeda dari sampah anorganik, terutama plastik, yang memang tengah menjadi perhatian karena materialnya yang sulit berdegradasi. Penggunaan plastik yang masif sebagian besar tidak dibarengi sistem daur ulang yang bertanggung jawab sehingga plastik berakhir menumpuk di TPA, bahkan mengotori lingkungan, lautan dan telah menyusup menjadi mikroplastik di bahan makanan kita. Namun hanya karena sampah organik lebih cepat membusuk, bukan berarti tidak berpotensi menimbulkan masalah.

Dampak Negatif Sampah Organik yang Tidak Dikelola Dengan Baik

Sampah organik yang dibuang dalam keadaan terbungkus rapat oleh bahan anorganik (contohnya kantung plastik) dan membusuk dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen) berpotensi menghasilkan gas metana (CH4) yang merupakan salah satu jenis gas rumah kaca.

Gas metana (CH4) dapat dimanfaatkan sebagai salah satu komponen biogas, contohnya yang dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan (baca juga Pengelolaan Sampah di Berbagai Negara), namun gas metana yang terlepas di udara bebas dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon.

Bukan hanya itu, gas metan yang terperangkap dalam jumlah cukup banyak (contohnya di TPA, diakibatkan banyaknya tumpukan sampah organik yang tak terpilah dan dibuang dalam keadaan terbungkus di TPA) dapat menimbulkan ledakan/kebakaran jika terkena sumber panas/api.

Faktanya, Tragedi Ledakan TPA Leuwigajah di Jawa Barat, Indonesia, pada 21 Februari 2005 yang menimbulkan longsor dan menelan puluhan rumah dan korban ratusan nyawa disebabkan oleh kumpulan gas metan yang terkungkung di TPA. Saat itu, TPA Leuwigajah menampung sampah hingga ketinggian 70 meter, dan masih banyak sekali sampah yang tidak terpilah.

Begitu menyesakkan Tragedi Ledakan TPA Leuwigajah tersebut, sehingga untuk mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah mereka, tanggal 21 Februari dijadikan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di Indonesia.

Saat ini, banyak TPA di Indonesia (dan dunia) yang terancam penuh akibat tingginya laju produksi sampah yang tidak dibarengi sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Contohnya TPST Bantar Gebang yang menampung sampah penduduk DKI Jakarta disinyalir hanya mampu beroperasi hingga 2021.

Tingginya jumlah sampah organik dari banyaknya sampah yang terkumpul di TPA di Indonesia dinilai sangat miris. Selain karena risiko ledakan dan penipisan lapisan ozon akibat produksi gas metan, sampah organik sejatinya merupakan bahan yang relatif mudah dimanfaatkan tanpa memerlukan peralatan mahal dan sistem rumit seperti daur ulang plastik. Contoh pemanfaatan sampah organik yang bisa dilakukan di rumah adalah pakan hewan peliharaan dan kompos.

food preparation
food preparation

Food Prep: Cegah dan Olah Sampah Organik Dari Sumber

Ada banyak cara mencegah dampak negatif sampah organik. Selain mengompos, yang bisa dilakukan adalah dengan cara mengedukasi masyarakat agar mencegah produksi sampah organik berlebih dari sumbernya, yaitu rumah tangga juga bisnis. Hal ini juga sejalan dengan program pemerintah Indonesia Bebas Sampah 2025 yang mencanangkan pengurangan sampah dari sumber sebanyak 30%.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk mengurangi produksi sampah organik adalah dengan menerapkan teknik food prep dalam mengelola bahan makanan untuk dikonsumsi.

Apa itu Food Prep

Food Prep atau Meal Prep adalah kegiatan mengolah dan menyimpan bahan makanan untuk diolah atau dipanaskan di masa depan.

Contohnya, membeli beberapa bahan makanan seperti wortel, kol, telur, dan bumbu dapur yang cukup untuk dimasak menjadi menu harian seminggu ke depan.

food preparation
food preparation

Keuntungan Food Prep:

Bukan hanya mengurangi sampah organik yang terbuang sia-sia, Food Prep memiliki beberapa manfaat berikut:

  1. Mengurangi peluang bahan makanan terlupakan sehingga kedaluwarsa, basi, dan tidak lagi bisa dikonsumsi sebelum diolah
  2. Mengatur variasi dan porsi menu agar gizi seimbang, sehat, dan sesuai kebutuhan. Akan lebih baik lagi jika mengutamakan bahan makanan seperti buah atau sayur sesuai musimnya, agar mengurangi kemungkinan makanan yang ditambahkan pengawet atau hormon pertumbuhan agar cepat matang
  3. Mengatur penyimpanan bahan makanan agar bisa bertahan lebih lama (contoh: menjaga kulkas tidak penuh, memisahkan bahan makanan yang tak boleh disimpan berdekatan)
  4. Memantau makanan berlebih agar bisa segera didonasikan, diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan sebagai pakan hewan (baca juga: Solusi Sampah Organik dengan Black Soldier Flies)
  5. Efisiensi biaya belanja

Poin-poin yang Perlu Diperhatikan dalam Food Prep:

  1. Cara mengolah sebelum menyimpan bahan makanan 
    1. Matang, setengah matang, atau mentah?
    2. Dicuci atau tidak dicuci?
  2. Cara menyimpan
    1. Suhu ruangan, pendingin, freezer, kering, lembap, atau di bawah sinar matahari?
    2. Boleh digabungkan dengan bahan makanan lain, atau harus dipisah? Sayur dan buah tertentu memiliki produksi gas etilen (hormon pertumbuhan) yang bisa mempercepat kematangan buah atau sayur lainnya, sehingga penyimpanannya harus diperhatikan, contohnya mangga dan pisang.
    3. Ditutup rapat atau terbuka? Sayuran berdaun membutuhkan space dan udara yang cukup untuk bisa bertahan lebih lama.
  3. Lama simpan
    1. Penyimpanan bahan daging di freezer umumnya bisa menjaga kondisi bahan makanan lebih lama
    2. Untuk bahan makanan seperti bayam tidak disarankan untuk disimpan dalam keadaan matang terlalu lama dan dipanaskan kembali, karena bisa menimbulkan zat beracun yang tidak baik untuk tubuh
    3. Makanan yang dimasak menggunakan santan atau bercita rasa asam biasanya lebih cepat kedaluwarsa
  4. Wadah simpan 
    1. Menggunakan wadah kaca, plastik, metal, kertas atau bahan lainnya?
    2. Wadah kaca dan metal lebih baik dalam menahan panas, juga lebih baik dalam menjaga bau makanan tidak tertinggal di wadah sesudahnya
    3. Untuk bahan makanan beku yang ingin langsung dipanaskan bisa menggunakan bahan kaca oven tahan panas
    4. Bahan plastik lebih ringan, namun tidak disarankan untuk digunakan menyimpan bahan makanan beku atau berbau tajam
    5. Bahan kertas baik untuk menjaga bahan makanan tetap segar (contohnya menggunakan tisu yang dibasahi air di dasar batang sayuran hijau) namun menimbulkan sampah residu kertas yang sulit didaur ulang, bisa digantikan dengan bahan tekstil (kain lap bersih atau serbet) yang bisa dicuci, dikeringkan, dan digunakan kembali
    6. Bahan rotan (contohnya keranjang) baik digunakan untuk bahan-bahan yang disimpan di suhu ruangan dalam keadaan kering, contohnya palawija dan bawang-bawangan.
food preparation
food preparation

Cara Menyimpan Bahan Makanan

Di bawah ini adalah daftar lengkap cara mengolah bahan makanan berdasar jenis dan cara olah sebelum simpan, cara simpan dan perkiraan lama simpan.

Catatan:

  1. Lama simpan, terutama bahan makanan segar yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa yang jelas, sangat bervariasi tergantung suhu, kualitas bahan, dan pengelolaan sebelum disimpan. Dikarenakan variasi yang sangat beragam ini lah, sangat disarankan untuk mencatat sendiri ketahanan bahan-bahan makanan sesuai cara olah yang diterapkan dan suhu kulkas atau bahkan suhu ruangan sesuai musim. Perkiraan lama simpan yang disertakan hanya sebagai pegangan awal.
  2. Kami akan memberikan saran pengelolaan makanan yang minim sampah, baik secara organik dan anorganik. Salah satunya adalah menggunakan bahan tekstil yang bisa dicuci dan dikeringkan daripada bahan kertas untuk membungkus makanan. Wadah berbahan plastik umumnya akan kami sarankan untuk bahan-bahan yang cukup rapuh (contohnya telur), sedangkan untuk bahan yang dibekukan dan berpotensi mengalami pemuaian massa kami sarankan untuk menggunakan kaca atau logam yang lebih tahan terhadap suhu ekstrim.
  3. Tips mengurangi sampah anorganik: Gunakan wadah yang bisa digunakan ulang dan/atau mudah didaur ulang. Jika menggunakan kantong plastik, pilih tas plastik yang tebal, berperekat (sealable) dan berkualitas baik agar bisa dicuci, dikeringkan, dan digunakan kembali. Jangan gunakan plastik untuk menyimpan makanan dalam suhu ekstrim.
  4. Untuk memudahkan penerapan food prep, semua jenis bahan makanan yang kami infokan adalah dalam kondisi mentah atau segar. Untuk bahan makanan matang, kalengan dan kemasan mengacu pada tanggal kedaluwarsa dan saran penyimpanan pada kemasan atau yang disarankan oleh produsen.
  5. Perhatikan bahan-bahan buah yang mengeluarkan hormon pertumbuhan/etilen. Penyimpanan bahan makanan ini bersama bahan lainnya dapat mempercepatkan proses pematangan, yang berarti lebih cepat membusuk.
  6. Ada banyak pertimbangan mencuci bahan makanan sebelum disimpan. Contohnya ada sumber yang menyatakan bahwa tidak disarankan mencuci ayam mentah sebelum disimpan karena ditakutkan akan menyebarkan bakteri pada peralatan cuci. Ada juga sumber yang menyarankan untuk hanya mencuci daging merah sebelum dimasak untuk menjaga keutuhan rasa. Kami memberikan saran penyimpanan dengan mengutamakan kesehatan saat konsumsi nantinya.
  7. Bahan-bahan yang sudah dipotong/dikupas akan lebih cepat kedaluwarsa sehingga disarankan untuk segera dikonsumsi atau disimpan untuk bisa bertahan lama

Sumber:

  • FDA (US Food and Drug Association)
  • Stilltasty.com
  • thespruceeats
1 2

Related Post