5 Tantangan dalam Mengimplementasikan Ekonomi Sirkular

Istilah ekonomi sirkular menjadi tren baru di masyarakat. Semua orang diharapkan mampu (setidaknya) memahami konsep ekonomi sirkular, mengingat bahwa mengimplementasikan ekonomi sirkular tidaklah mudah.

Ellen Macarthur Foundation merupakan lembaga yang menciptakan istilah “Circular Economy” pada 2009 dengan tujuan mempercepat transisi menuju ekonomi melingkar. Selain mengembangkan dan mempromosikan konsep ekonomi sirkular, Ellen Macarthur Foundation juga menggandeng pegiat bisnis, pembuat kebijakan, dan akademisi untuk bantu mengimplementasikannya secara global.

Ekonomi sirkular membutuhkan dukungan dari semua stakeholder agar mampu membantu mengimplementasikan ekonomi sirkular lebih dari sekedar pemahaman dan edukasinya saja, tapi juga menciptakan perubahan. 

Ekonomi sirkular pada intinya membahas tentang bagaimana kita mengelola sampah, tapi berdasar pada artikel dari World Resources Institute, ada 5 hal yang harus dipikirkan saat menerapkan ekonomi sirkular:

  • Kemungkinan Terganggunya Kenyamanan Konsumen

Kita lahir dan hidup di saat plastik sudah menjadi salah satu material yang memudahkan kita, karena sifatnya yang fleksibel, ringan dan kedap air. Hal ini juga yang menjadi alasan beberapa produsen menggunakan plastik sebagai kemasan.

Kita ambil produk air mineral sebagai contoh. Jika produsen air mineral ingin mengganti plastik menjadi kemasan yang lebih ramah lingkungan, kemasan karton misalnya. Hal yang perlu dipertimbangkan yakni, kemasan jadi mudah rusak jika terkena air. 

Kemudian, jika produsen ingin mengganti plastik menjadi botol kaca, maka produk akan lebih berat dan mudah pecah. 

Woman checking food labeling
Woman checking food labeling – source: Packaging Insight

Pada akhirnya, jika produsen memutuskan berhenti memakai plastik, maka kemungkinan konsumen akan merasa direpotkan dan memilih produk air mineral lain yang menggunakan kemasan plastik sekali pakai. 

Itulah mengapa penerapan ekonomi sirkular perlu dimulai dengan riset pasar dan edukasi, baik itu untuk produsen maupun konsumen tentang mengapa kita perlu mengelola sumber daya kita secara melingkar: hampir tidak meninggalkan limbah atau polusi ke lingkungan.

  • Peraturan Daerah VS konsep ekonomi sirkular

Ellen Macarthur Foundation telah memperkenalkan konsep ekonomi sirkular sejak 2009, namun konsep ini baru sampai ke Indonesia pada tahun 2018-2019. 

Dari situ dapat dilihat bahwa konsep ekonomi sirkular butuh waktu 10 tahun untuk sampai kepada pelaku pengelola sampah di Indonesia. Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) menjadi salah satu inisiator ekonomi sirkular di Indonesia yang diadakan setiap tahunnya oleh Greeneration Foundation sejak 2016.

Saat ini pemerhati dan pelaku ekonomi sirkular sedang membujuk pemerintah untuk segera melakukan standarisasi penerapan konsep ekonomi sirkular secara merata di Indonesia. Namun, memang tidak semua orang bisa menemukan letak penting dan urgensi dari ekonomi sirkular, maka hal ini akan sangat terbantu jika adanya regulasi yang tegas dengan batasan yang jelas untuk memulai perubahan. 

  • Kurangnya fasilitas pendukung untuk pengelolaan sampah

Regulasi yang sudah dibentuk baru berupa ide dan belum difasilitasi dengan fasilitas pendukung, poin selanjutnya yang kita butuhkan adalah uang, energi, dan waktu untuk mewujudkan ekonomi sirkular setelah regulasi dibentuk.

Kita ambil China sebagai contoh. Berdasarkan data yang dilansir dari ourworldindata.com, China saat ini menjadi produsen sampah nomor satu di dunia. Kalau tidak adanya fasilitas yang mampu mendukung pengelolaan sampah, maka penumpukan sampah plastik di TPA bisa saja terjadi dan atau adanya penumpukan sampah di laut.

  • Kurangnya teknologi daur ulang

Beberapa material membutuhkan teknologi tinggi untuk mendaur ulangnya, contohkan sampah tekstil dan kemasan karton bekas minum. Kita bisa saja mengurangi penggunaan 2 material tersebut, misalnya menggunakan material tekstil untuk industri fashion saja, atau mengganti kemasan karton minuman dengan gelas kaca atau metal. Tapi apakah dengan solusi tersebut memberikan perubahan yang signifikan?

Untuk berhasil dalam mengimplementasikan ekonomi sirkular, dibutuhkan juga teknologi daur ulang yang mampu memenuhi kebutuhan industri secara kualitas maupun kuantitas.

  • Rancangan model bisnis yang buruk

Masalah yang dibahas sebelumnya perihal menjaga kenyamanan konsumen, peraturan pemerintah, kurangnya fasilitas daur ulang, yang kemudian semuanya berhenti pada satu simpulan: kita membutuhkan rencana model bisnis yang lebih baik yang menerapkan konsep ekonomi sirkular.

Menciptakan model bisnis dari awal dan memperbaiki model bisnis yang sudah ada memang tidak mudah. Ada beberapa poin yang mungkin sudah benar sejak awal, namun tidak menutup kemungkinan menghilangkan, atau mengkonsepkan kembali sistem yang kurang efektif dan efisien.

Business Model Concept. Chart with keywords and icons on white background

Hal yang Dapat Dilakukan untuk Mengatasi Masalah Penerapan Sirkular Ekonomi

Untuk mensukseskan penerapan sirukular ekonomi di Indonesia kita harus memastikan beberapa hal ini:

  1. Masyarakat mau menerima perubahan
  2. Pemerintah siap memantau dan memfasilitasi perubahan
  3. Fasilitas pengelolaan sampah siap mendukung perubahan 
  4. Fasilitas daur ulang sampah yang siap untuk melakukan perubahan
  5. Model bisnis yang siap untuk mempertahankan perubahan secara berkelanjutan.

Sekarang coba bayangkan jika masing-masing dari kita tidak saling mendukung penerapan sirkular ekonomi sejak awal, kita akan memakan banyak waktu untuk mengurangi sampah  yang menumpuk di TPA dan laut. 

Kolaborasi

Berkolaborasi bersama stakeholder lainnya merupakan salah satu kunci untuk mempercepat penerapan sirkular ekonomi di Indonesia. Material yang lebih baik, sumber energi terbarukan, koneksi yang lebih luas untuk memperluas kesadaran dan pentingnya ekonomi sirkular menjadi benefit yang akan didapatkan melalui kolaborasi.

Waste4Change bisa menjadi bagian untuk berkolaborasi mewujudkan sirkular ekonomi di Indonesia melalui servis Extended Producer Responsible. Mari melangkah lebih besar menuju terwujudnya ekonomi sirkular secara merata lewat kolaborasi. 

Related Post