5 Things You Need to Know About Extended Producer Responsibility (EPR)

5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Mengenai Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility / EPR) 

Kemasan dari suatu produk penting untuk menjaga kualitas dari barang yang dibeli, terutama karena barang-barang tadi harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk bisa sampai di tangan konsumen. Akan tetapi, kemasan suatu produk hampir selalu berakhir menjadi sampah dan turut memperparah permasalahan sampah plastik yang tengah dunia hadapi.

1. Fakta mengenai Sampah Kemasan

Sebagai ilustrasi, data dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (Environmental Protection Agency/EPA) menunjukkan bahwa antara tahun 1960 sampai tahun 2015, jumlah sampah kemasan meroket dari 27 juta ton menjadi hampir 78 juta ton, atau sebanyak 185%. Selain itu, menurut artikel berjudul “Production, Use, and Fate of All Plastics Ever Made” yang dimuat dalam jurnal Science Advances, produksi sampah plastik berdasarkan sektor industri di tahun 2015 didominasi oleh kemasan atau packaging, yaitu sebanyak 141 juta ton. Kemasan produk juga menjadi sampah yang paling dominan karena memiliki umur yang relatif singkat; dalam kurun waktu 6 bulan sudah menjadi sampah.

Bungkus cokelat dan permen yang dikoleksi oleh Daniel Webb (Ollie Harrop/Everyday Plastic/PA)
Bungkus cokelat dan permen yang dikoleksi oleh Daniel Webb (Ollie Harrop/Everyday Plastic/PA)

Menurut laporan World Economic Forum, 26% penggunaan plastik diperuntukkan untuk kemasan, dan 95% (sekitar $80-120 milliar/tahun) nilai material kemasan plastik hilang begitu saja akibat penggunaan pertama yang singkat. Faktanya, lebih dari 40 tahun setelah simbol daur ulang universal diluncurkan, hanya 14% kemasan plastik yang berhasil dikumpulkan untuk kemudian didaur ulang.

Sampah kemasan memiliki porsi yang cukup signifikan dalam permasalahan sampah secara umum, maka dari itu tanggung jawab dalam mengelola sampah kemasan ini sejatinya tidak hanya dibebankan kepada konsumen sebagai pengguna produk, melainkan juga ke produsen sebagai penghasil produk dalam kemasan.

Berbagai macam upaya untuk menanggulangi sampah kemasan yang mencemari laut dan menumpuk di TPA telah dilakukan, baik secara mikro di tingkat individu (membawa wadah sendiri saat berbelanja, membeli barang dalam kemasan besar) maupun secara makro (pengadaan bulk store). Salah satu caranya adalah melalui program Extended Producer Responsibility atau biasa disingkat EPR.

 2. Apa itu Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility / EPR) ?

Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas, atau biasa disebut dengan EPR, merupakan suatu mekanisme atau kebijakan dimana produser diminta untuk bertanggung jawab terhadap produk yang mereka buat atau jual (beserta kemasan yang bersangkutan) saat produk atau material tersebut menjadi sampah. Dengan kata lain, produser membantu menanggung biaya untuk mengumpulkan, memindahkan, mendaur ulang, dan membuang produk atau material di penghujung siklus hidup barang tersebut.

Jika belum diwajibkan oleh pemerintah, produsen bebas memilih skema EPR yang ingin mereka aplikasikan, dan banyak perusahaan yang memilih untuk mendelegasikan tugas ini kepada pihak ketiga, seperti misalnya berpartisipasi dalam skema pengumpulan sampah kolektif. Saat ini, telah ada sekitar 400 skema EPR wajib yang beroperasi di berbagai belahan dunia, beberapa di antaranya yaitu di Inggris, Perancis, dan Jepang.

3. Manfaat dari Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas / EPR bagi Produsen

Selain menunjukkan komitmen lingkungan yang kuat, skema EPR bisa membantu perusahaan atau produsen untuk meminimalisir dampak lingkungan yang mereka hasilkan. Dengan EPR, produsen akan terdorong untuk menekan biaya yang berkaitan dengan siklus hidup suatu produk, jauh setelah produk tersebut keluar dari pabrik dan digunakan oleh konsumen. Beberapa caranya yaitu dengan mendesain produk yang lebih tahan lama atau mengganti kemasan suatu produk dengan bahan yang dapat digunakan kembali atau yang lebih mudah didaur ulang, seperti misalnya kaleng dan kaca.

Contoh kemasan kaleng yang digunakan oleh brand es krim Haagen Dazs. Sumber: www.foodbev.com
Contoh kemasan kaleng yang digunakan oleh brand es krim Haagen Dazs. Sumber: www.foodbev.com

Selain itu, EPR juga membuat produsen memiliki peran lebih besar dalam skema daur ulang. Dengan demikian, produsen mampu mendapatkan jaminan akses terhadap bahan-bahan material sekunder untuk keperluan rantai pasok mereka sendiri.

4. Manfaat Lingkungan dan Ekonomi dari Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas/ EPR

Secara lebih luas, program EPR mampu memberikan dampak yang positif terhadap upaya daur ulang, terutama di negara-negara yang tingkat daur ulangnya masih rendah. Program-program seperti pengembalian wadah kosong atau drop-off box suatu produk akan mendorong masyarakat untuk melakukan pilah sampah dan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap barang yang sudah selesai mereka konsumsi dan pergunakan. Hal ini tentunya akan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di landfill atau mewujudkan Zero Waste to Landfill (ZWTL).

Contoh titik drop off produk yang sudah tidak terpakai. Sumber: businessinsider.sg
Contoh titik drop off produk yang sudah tidak terpakai. Sumber: businessinsider.sg

EPR juga memiliki dampak ekonomis yang baik karena membantu mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk membersihkan sampah dari tempat-tempat umum. Sebagai contoh, pengaplikasian program EPR terhadap barang-barang yang seringkali dibuang sembarangan seperti puntung rokok dan permen karet diperkirakan mampu menghemat biaya bersih-bersih yang dikeluarkan pemerintah Inggris sebanyak 300 juta poundsterling setiap tahunnya.

5. Program Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas / EPR di Indonesia

Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa brand atau perusahaan yang menerapkan program EPR terhadap produk yang mereka jual atau hasilkan. Beberapa di antaranya adalah The Body Shop melalui program Bring Back Our Bottle, lalu ada Go-jek yang mengolah jaket dan helm mitra mereka yang sudah tidak terpakai, serta Djournal Coffee yang menyediakan wadah khusus untuk gelas dan sedotan plastik.

Selain itu, Waste4Change sebagai penyedia jasa pengelolaan sampah yang bertanggung jawab juga memiliki servis Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility – EPR) untuk brand atau perusahaan yang ingin mulai menerapkan pilah sampah beserta pengelolaan sampah yang bertanggung jawab terhadap produk yang mereka hasilkan.

Dengan menggunakan jasa pengelolaan sampah dari Waste4Change, brand atau perusahaan Anda sudah turut serta mewujudkan sistem Ekonomi Melingkar (circular economy) dan menerapkan prinsip Zero Waste to Landfill (ZWTL)

Membutuhkan jasa pengangkutan sampah yang bertanggung jawab dan terpilah? Jangan ragu untuk menghubungi Waste4Change!

Referensi:

https://www.washingtonpost.com/business/2019/05/23/big-brands-are-cutting-packaging-waste-inspired-by-boomer-era-strategy/?noredirect=on&utm_term=.abd361eec0d2

https://ourworldindata.org/plastic-pollution

World Economic Forum. 2016. The New Plastics Economy: Rethinking The Future.

https://www.oecd.org/env/tools-evaluation/extendedproducerresponsibility.htm

https://www.theguardian.com/suez-circular-economy-zone/2017/may/10/extended-producer-responsibility-the-answer-to-cutting-waste-in-the-uk

https://www.itv.com/news/2018-10-28/uk-throws-away-295-billion-pieces-of-plastic-waste-a-year-report-estimates/

https://www.businessinsider.sg/rent-the-runway-nordstrom-drop-offs/?r=US&IR=T

Nestlé and Loop release sustainable Häagen-Dazs tubs