Bekasi — Memasuki bulan kedua peserta Magang asik semakin asik dalam berkarya di divisinya masing-masing. Idang (Bio Engineering ITB) dan Winda (Kehutanan IPB) yang ditempatkan pada divisi Create (daur ulang) tertarik untuk meneliti kualitas pupuk kompos hasil olahan sampah organik Waste4Change sebagai tugas kelompok mereka.

Seperti yang kita tahu, sampah terpilah yang telah diangkut oleh tim Collect akan diproses lagi oleh divisi Create Waste4Change. Sampah anorganik akan didaur ulang dengan mesin pencacah di Rumah Pemulihan Materi, sedangkan sampah organik akan diolah untuk dijadikan pupuk kompos.

Tanaman yang menjadi objek percobaan mereka kali ini adalah tanaman kangkung dengan pertimbangan masa panen yang relatif singkat sehingga hasilnyapun bisa lebih cepat diamati. Percobaan mereka dimulai dengan menebar benih kangkung ke enam bedengan yang berbeda. Lahan pertama tanpa pupuk, kedua pupuk kompos giling, ketiga kompos tidak giling, keempat pupuk vermicomposting, kelima pupuk kandang, dan terakhir pupuk kimia. Pupuk mana yang paling unggul?

Selama tiga minggu pengamatan (21 Oktober – 12 November 2105) terhadap pertumbuhan tinggi, berat, dan diameter kangkung ternyata kangkung di bedengan vermicomposting menempati urutan teratas dengan rata-rata tinggi, berat, dan diameter paling besar. Disusul kemudian oleh pupuk kompos giling, kompos tidak giling, pupuk kandang, dan pupuk kimia. Justru pupuk kimia berada di urutan terakhir. Penelitian ini membuktikan bahwa sampah organik yang diolah dengan baik dan benar ternyata mampu menjelma menjadi sebuah benda yang dapat memberikan nilai manfaat: pupuk kompos berkualitas. Great research guys! Keep on the track!